Mendag Sajikan Inovasi “Suka Indonesia” di KIPP 2019

85
Mendag Enggartiasto Lukita mempresentasikan inovasi "Suka Indonesia" di KIPP 2019 di kantor KemenPAN-RB. (F: Istimewa)

Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita ikut mempresentasikan terobosan lembaganya dalam Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2019 di kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Selasa (16/7/19). Ia menyajikan inovasi “Suka Indonesia” atau Sistem Surat Keterangan Asal Indonesia.

Selain Mendag, hari terakhir penyelenggaraan presentasi dan wawancara KIPP 2019 juga diisi sejumlah pimpinan daerah yakni dari Pemerintah Kota Ambon, Bogor, Kabupaten Badung, Gianyar, Klungkung, Bima, Ngada, dan Kabupaten Merauke.

Presentasi diawali oleh Pemerintah Kabupaten Badung dengan inovasi Badung Anti Kantong Plastik atau “Batik”, yang disampaikan Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa. Dikatakan bahwa Batik menjadi gerakan pengurangan timbulan sampah plastik melalui upaya preventif dengan mengurangi penggunaan kantong plastik.

“Inovasi ini diterapkan dengan mewujudkan kawasan-kawasan anti kantong plastik berbasis kearifan lokal dengan melibatkan lembaga adat dan masyarakat adat serta melalui aturan adat,” ujarnya di depan tim panel.

Masih dari Kabupaten Badung, inovasi kedua berjudul Penentuan Area Penangkapan Ikan atau “Fish GO”. Bupati Badung I ketut Suisa mengatakan Fish-GO merupakan inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Badung Pemerintah Kabupaten Badung.

Fish GO merupakan aplikasi berbasis android pada smart phone untuk menentukan area potensi penangkapan ikan. Aplikasi ini dapat diakses oleh masyarakat umum dan dirancang untuk mampu memenuhi kebutuhan ikan yang tinggi di Kabupaten Badung khususnya, Provinsi Bali serta Wilayah Indonesia umumnya.

Baca Juga : Sembilan Pimpinan Daerah Tarung Inovasi di KIPP 2019

Presentasi ketiga datang dari UPT Kesmas Sukawati 1 Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Gianyar dengan inovasi Gerakan Semua Orang Mengkonsumsi Garam Beryodium atau “Goyang Gayo” yang disampaikan Asisten II Setda Kab Gianyar I Made Suradnya.

Kegiatan yang dilakukan adalah Goyang Gayo kolaborasi dengan PIS-PK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga), Kampanye Goyang Gayo, Menyediakan garam beryodium di Warung Desa dan membagikan garam beryodium di posyandu.

Selanjutnya inovasi Kring Sehat (KRIS) dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Klungkung yang disampaikan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta. Menurutnya, KRIS merupakan pelayanan Ambulan Gawat Darurat dengan fungsi membantu transportasi rujukan bagi masyarakat kepulauan Nusa Penida yang membutuhkan pelayanan transportasi rujukan ke rumah sakit dan masyarakat Klungkung pada umumnya serta pelayanan kegawatdaruratan pra hospital.

Sesi pertama ditutup oleh presentasi dari Mendag, Enggartiasto Lukita dengan inovasi “Suka Indonesia” Menurutnya inovasi merupakan inovasi dari Direktorat Jenderal Perdanganan Luar Negeri Kementerian Perdagangan.

Suka Indonesia menyediakan fasilitas informasi dan penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) secara online.

“Inovasi ini dibuat agar produk-produk ekspor Indonesia dapat bersaing di negara tujuan ekspor. Selain itu, aksesibilitas penerbitan dan informasi SKA dapat lebih mudah dinikmati dan dilakukan oleh semua kalangan masyarakat,” katanya.

Pada sesi kedua persentasi diawali pemaparan oleh Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy dengan inovasi Ambon City Of Music. Dijelaskannya, inovasi ini bertujuan agar terciptanya modal kreatif (creative capital) yang melibatkan komunitas kreatif lokal (bottom-up), 5300 pelaku ekonomi kreatif lainnya, 350 musisi, 780 paduan suara, 100 kelompok hip-hop, 650 sanggar, 120 akademisi. Kemudian ada arena kreatif (creative space) yang menumbuhkembangkan banyak kreativitas dan inovasi, dan pemampu (enabler) berupa infrastruktur dan TIK, serta program pembangunan pemerintah Kota Ambon berkaitan dengan kreativitas dan inovasi meliputi 1 Gedung Ambon Music Office, Jurusan Musik pada SMK 7 Ambon, 1 buah Pro Recording Studio bertaraf Internasional di Kampus Unpatti dan Pusat Dokumentasi Musik Nasional berbasis digital.

Selanjutnya, inovasi Sentuh Perempuan Dengan Sistem Informasi Warga atau “Simawar’ yang disampaikan oleh Bupati Bima Indah Damayanti. Dijelaskan bahwa Simawar adalah sebuah sistem baru pelaksanaan Pelayanan Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan yang didukung oleh sebuah aplikasi berbasis android yang bermanfaat untuk memberikan pelayanan dan pengambilan keputusan dalam bentuk pelaporan, informasi dan data.

Aplikasi Simawar diperuntukkan bagi masyarakat, pemberi layanan (kepolisian, aparat desa, UPT puskesmas, UPT DP3AP2KB, Dinas Sosial,Satgas PPA Desa, Perempuan Kepala Keluarga, dan lainnya) serta instansi perencana.

“Sentuh Perempuan dengan Simawar merupakan perpaduan metode pelaporan secara proaktif, dengan memberikan pelayanan jemput bola dengan tindakan perlindungan dan disertai dengan upaya pemberdayaan yang responsif gender,” katanya.

Inovasi selanjutnya datang dari Pemerintah Kabupaten Ngada dengan inovasi PHBS Terintegrasi Menyehatkan Ngada Mulai dari Keluarga yang dipaparkan oleh Bupati Ngada Paulus Soliwoa. PHBS Terintegrasi merupakan sebuah gerakan terintegrasi yang memadukan program program PHBS, KADARZI Rumah Sehat, KIA dan KB, Belkaga dan PIS-PK dalam satu kegiatan pengkajian keluarga.

Selain program-program tersebut, juga dilengkapi dengan data dukung seperti data kependudukan, pendidkan dan pekerjan, hak politik, riwayat penyakit dan golongan darah. Data hasil pengkajian dientri kedalam APL PHBS terintegrasi, dan secara automatic diolah menjadi informasi akurat berbentuk profil keluarga, profil RT), profil desa/kelurahan, kecamatan hingga profil kabupaten.

Informasi tersebut dapat digunakan oleh semua program dan sektor sebagai dasar rencana intervensi kepada keluarga dan masyarakat. PHBS Terintegrasi memungkinkan semua orang mengenali masalah kesehatan secara by name by adress, dan by problem.

Suasana sesi presentasi dan wawancara hari ke-11 pelaksanaan KIPP 1019 di kantor KemenPAN-RB, Jakarta, Selasa (16/7/19). (F: Istimewa)

Selanjutnya inovasi “Sekolah Ibu” yang disampaikan oleh Ketua TP PKK Kota Bogor, Yane Ardian dengan didampingi Wali Kota Bogor, Bima Aria. Menurutnya, Sekolah Ibu merupakan program yang dilatarbelakangi oleh maraknya permasalahan sosial di tengah masyarakat, yaitu tingginya tingkat perceraian, meningkatnya kasus KDRT, permasalahan sosial remaja seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, geng motor, dan lain sebagainya.

Permasalahan tersebut berawal dari keluarga yang merupakan kumpulan manusia dengan segala perilakunya, dan keluarga merupakan lingkungan pertama yang mempengaruhi seseorang.

Oleh karena itu diperlukan inovasi sosial guna peningkatan ketahanan keluarga melalui proses pendidikan non formal bagi para ibu yang disebut dengan Sekolah Ibu, yang tahun 2016 merupakan rintisan “Gerbang Cinta Rumah Aman dan Nyaman”, yang diinisiasi pelaksanaannya oleh Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kota Bogor.

Kenapa ibu, dikarenakan ibu merupakan sosok utama yang mampu melakukan banyak hal untuk kebutuhan anggota keluarga sehingga memberikan keseimbangan dalam sebuah keluarga.

“Sekolah Ibu merupakan suatu bentuk kepedulian terhadap maraknya permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga : Pemprov Kepri Gelar Lomba TTG Berhadiah Rp51 Juta

Sesi presentasi dan wawancara Top 99 KIPP 2019 ditutup dengan inovasi Sistem Pelayanan Tiga Puluh Detik atau “Simpatik” milik Pemerintah Kabupaten Merauke. Wakil Bupati Ngada Sularso mengatakan, aplikasi Simpatik didesain sebagai pendukung kerja aparatur kampung untuk mengatasi kesulitan dalam memanajemen data serta melakukan pelayanan masyarakat.

Aplikasi ini mengubah tumpukan data fisik menjadi basis data digital terstruktur dan dikelola dengan baik untuk memudahkan pengkalsifikasian data secara cepat dan akurat.

Aplikasi Simpatik juga bertujuan untuk merangsang ketertarikan aparatur kampung untuk mau/sering menggunakan komputer. Melalui aplikasi yang mudah dipahami, mudah dioperasionalkan serta sangat membantu dalam pelayanan masyarakat tentu akan mengubah persepsi aparatur kampung terhadap sistem kerja komputer.

Dengan demikian, diharapkan terjadi peningkatan kualitas SDM pada aparatur ampung Amun Kay yang akan berdampak pada meningkatnya kualitas pelayanan masyarakat di kampung ini.

“Sistem elayanan masyarakat yang cepat dengan data akurat tentu memberikan kemudahan bagi aparatur kampung dalam melakukan tugasnya serta meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Kampung Amun Kay itu sendiri,” pungkasnya.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini