Beranda Urban Nusantara

Delapan Sektor Industri Dibangun di Rempang Eco City

8
0
Rempang Eco City
Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia menyampaikan laporan terkait proyek Rempang Eco City dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Senin (2/10/23). (F: barakata.id/ist)
- Advertisement -
DPRD Batam

Barakata.id, Jakarta – Meneri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia mengatakan, di dalam kawasan investasi Pulau Rempang, akan dibangun delapan sektor industri. Diharapkan, kawasan Rempang Eco City tersebut dapat mendukung pertumbuhan ekonomi bukan saja bagi daerah tapi juga negara.

“Melihat kondisi yang terjadi di lapangan, kita berharap investasi di Pulau Rempang ini bisa terus berjalan lancar dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” ujar Bahlil saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara 1, Jakarta, Senin (2/10/23).

- Advertisement -

Merespon banyaknya kekhawatiran yang beredar luas di media sosial terkait Hak Pengelolaan Lahan (HPL), peran Xinyi Group dalam memmbangun ekosistem industri skala besar, serta anggapan bahwa investasi ini terkesan terburu-buru, Bahlil menegaskan bahwa peran Xinyi dalam mengembangkan industri skala besar tak perlu diragukan lagi.

BACA JUGA : Proyek Rempang Eco City, Apa Untungnya?

“Untuk HPL nanti akan diserahkan kepada Pemerintah dalam hal ini adalah BP Batam sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam,” terang Bahlil.

“Selanjutnya peran Xinyi Group dalam mengembangkan industri skala besar tidak perlu diragukan lagi, karena pengembangan kawasan (Pulau Rempang) ini tidak hanya membangun satu pabrik saja melainkan seluruh ekosistem industri di dalamnya, mulai dari inti usaha yang terdiri dari 8 sektor industri hingga kebutuhan pangan dan kompetensi SDM. Jadi semua ini akan saling mendukung membentuk suatu ekosistem industri berskala besar,” kata dia.

Terakhir, lanjut Bahlil, soal kesan terburu-buru, perlu pahami bahwa investasi ini adalah soal momentum sehingga ketika ada investor yang mau masuk, kita harus siap sesegera mungkin untuk merealisasikannya.

“Kita harus menyiapkan dulu seluruh infrastruktur pendukungnya baru mereka (investor) datang, kalo tidak mereka akan lari ke negara lain karena banyak negara yang berminat pada investasi besar ini dan kita tidak akan tahu kapan lagi kita (Indonesia) akan mendapat kesempatan sebesar ini lagi,” ujarnya. (*)

- Advertisement -