Jelajah Sejarah Ziarah Ke Makam Nong Isa, Melawan Lupa Lahirnya Batam

Ziarah Ke Makam Nong Isa, Melawan Lupa Lahirnya Batam

247
Wali Kota Batam Muhammad Rudi berziarah ke makam zuriat Nong Isa sempena peringatan Hari Jadi Batam ke-190, Nongsa, Batam, Selasa (16/12/19). (F: Humas Pemko Batam)

Barakata.id, Batam – Makam Nong Isa di Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menjadi titik awal acara peringatan Hari Lahir Kota Batam ke-190. Di makam itulah, para pemimpin, kaum cerdik pandai dan penopang adat merenung, melawan lupa bahwa ada jalan panjang yang telah dilalui hingga Batam masih bertahan sampai masa ini.

Para petinggi Kota Batam, mulai dari Wali Kota Muhammad Rudi, Wakil Wali Kota Amsakar Achmad, pimpinan DPRD, pejabat di instansi vertikal serta sejumlah tokoh adat dan masyarakat hadir di pemakaman zuriat Nong Isa, Selasa (17/12/19).

Sebelum berziarah, zuriat Nong Isa menyampaikan sekilas tentang sejarah penetapan Hari Jadi Batam di Masjid At-Taqwa Nongsa Pantai. Ada pula acara pemotongan nasi besar oleh Wali Kota Batam yang kemudian potongan itu diserahkan kepada perwakilan keluarga besar Zuriat Nong Isa.

“Ziarah ini harus dimaknai sebagai perenungan kembali, mengingatkan betapa panjangnya jalan yang sudah dilalui oleh kota bernama Batama ini. Kita semua sudah sepantasnya terus belajar mengormati dan menghargai jerih payahnya leluhur,” kata Muhammad Rudi.

Baca Juga :

Semarak Hari Jadi Batam, dari Atraksi udara F-16 hingga Kenduri Seni Melayu

Tari Jogi Ribuan Pelajar dan Puisi Amsakar Buka Kenduri Seni Melayu 2019

Rudi mengatakan, Nong Isa sudah memberi dasar bagi Batam. Sekarang, tugas pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk melanjutkan pembangunan, membawa Batam tumbuh menjadi kota yang mendiri, kuat, sehat, dan berdaya saing tinggi.

Ziarah ke makam, juga sebagai pengingat manusia bahwa segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati. Mengingat bahwa dunia hanya sebagai tempat tinggal sementara, maka sewajarnya setiap manusia selalu menyiapkan bekal kebaikan untuk kehidupan di akhirat nanti.

“Sebagai orang yang saat ini dipercaya memimpin Batam, saya akan terus berusaha memberi yang terbaik, kepada daerah dan semua masyarakat Batam. Kami bukan hanya bertanggung jawab nantinya kepada masyarakat tapi juga kepada Allah SWT,” ujarnya.

Tentang Nong Isa

Dari literatur yang ada, disebutkan bahwa Nong Isa atau Raja Isa Ibni Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V adalah putra sulung dari Yang Dipertuan Muda V Raja Ali ibni Daeng Kamboja ibni Daeng Parani.

Dalam tradisi masyarakat Melayu, termasuk keturunan Bugis di Kerajaan Riau-Lingga, seorang anak lazimnya memiliki nama timang-timang atau nama kecil.

“Nong” dalam terminologi Melayu berarti anak lelaki sulung. Sedangkan “Isa” adalah nama.

Kemudian, Nong Isa bersama kaum kerabatnya yang orang Melayu dan Bugis membangun sebuah kampung di Batam. Lambat laun, kampung itu disebut sebagai kampung Nongsa.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi menyerahkan potongan nasi besar kepada Raja Abdul Gani, perwakilan keluarga besar Zuriat Nong Isa. (F: Humas Pemko Batam)

Nong Isa mempunyai dua orang istri, salah satunya Raja Wok Ibni Raja Abdullah. Dari kedua istrinya, Nong Isa memiliki empat putra yaitu, Raja Yakub, Raja Idris, Raja Daud, dan Raja Husen.

Nong Isa merupakan pemegang perintah atas wilayah Nongsa dan Rantaunya selama lima tahun. Kuasa itu dikeluarkan oleh Komisaris General sekaligus Residen Riau atas nama Sultan Abdul Rahman Syah (1812-1832), dan Yang Dipertuan Muda Riau VI Raja Jakfar (1808-1832).

Kuasa tersebut diberikan pada 22 Jumadil Akhir 1245 H atau bertepatan dengan hari Jumat, 18 Desember 1829 M. Ini pula yang dijadikan landasan penetapan Hari Lahir Kota Batam, yang diperkuat dengan Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 4 Tahun 2009

Di literatur disebutkan, Nong Isa meninggal di hulu Sungai Nongsa pada tahun 1831 M. Naskah asli kuasa tersebut saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Baca Juga :

Tari Kolosal Jogi dan Penyair 1/2 Jadi Akan Buka Kenduri Seni Melayu 2019

Kenduri Seni Melayu Masuk 100 Kalender Pariwisata Nasional Lagi

Dalam buku “Sejarah Melayu” yang ditulis mantan Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan disebutkan pembagian wilayah Nongsa, yaitu:

Wakilcshap Nongsa

Kawasannya adalah Nongsa dan sekitarnya yang wilayahnya dipisahkan muara Sungai Ladi di pantai utara Pulau Batam dan sebelah timur membentang sepanjang pantai. Sampai ke Kampung Bagan dekat Sungai Duriangkang, Kangboi, dan Sungai Asiamkiang.

Wakilschap Pulau Buluh

Wilayahnya adalah Pulau Buluh dan sekitarnya serta kawasan Pulau Batam di luar kawasan Wakilschap Nongsa.

Kemudian mencakup pula Pulau Galang, Rempang, Tanjung Sauh, Setokok, Bulan, Bulang, Bulang Kebam, Lumba, Sambu, dan Belakangpadang.

Wakilschap Sulit

Wilayahnya mencakup Pulau Cembol, Kepala Jeri, Kasu, Telaga Tujuh, Geranting, Mecan, Sugi, Moro, Kateman, dan Durai.

Dalam buku “Sejarah Melayu” dituliskan bahwa kelak, tiga daerah Wakilschap tersebut kemudian dilebur menjadi dua wilayah yang dipimpin oleh seorang pribumi berpangkat amir. Ia berkedudukan di Pulau Buluh dan seorang berpangkat Kepala yang berkedudukan di Nongsa.

Berdasarkan besluit Kerajaan Riau-Lingga nomor 9 tanggal 1 Oktober 1895, Raja Mahmud bin Raja Yakub bin Raja Isa menjabat wakil kerajaan berpangkat Kepala berkedudukan di Nongsa dan Tengku Umar bin Tengku Mahmud sebagai wakil kerajaan berpangkat amir berkedudukan di Batam.

Di masa kemerdekaan, Pulau Batam dan sekitarnya menjadi kecamatan dan pusat pemerintahannya berada di Pulau Buluh, lalu kemudian pindah ke Belakangpadang.

*****

Editor : Yuri B Trisna

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here