Home Warta Nusantara

Jalan Tol Trans Sumatera Rawan Kejahatan, Hutama Karya Pasang 636 Unit CCTV

71
Tol Trans Sumatera
Jalan tol trans Sumatera yang disebut rawan kejahatan. Foto: antara

Barakata.id, Jakarta – Jalan tol Trans Sumatera menjadi proyek besar pemerintah dalam merajut konektivitas di Pulau Sumatera, kini diterpa kabar miring. Jalan tol yang dibangun pada 2015 itu disebut rawan kejahatan.

Pada hal jalan tol ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan menekan biaya logistik.

Trans Sumatera telah dikebut pembangunannya oleh PT Hutama Karya (Persero) sejak 2015, alhasil jalan tol ini sudah mulai dibuka pada akhir 2018 dan akhirnya beberapa ruas mulai beroperasi penuh di tahun 2019.

Baca juga: 

Pengemudi truk pun, yang merupakan pengguna utama tol ini juga merasa jalan tol Trans Sumatera rawan kejahatan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan menilai memang jalan-jalan di daerah Sumatera cukup rawan kejahatan, baik di dalam tol maupun di luar tol.

Dia mengaku paling rawan kejahatan terjadi di sekitar bagian selatan tol Trans Sumatera, khususnya dari arah Bakauheni menuju Palembang yang memang ruasnya masih sepi. Paling banyak menurutnya kejahatan terjadi di beberapa rest area yang belum permanen konstruksinya.

Menurut Gemilang, modus kejahatan paling sering terjadi berupa pemalakan kepada para pengemudi truk. Hal itu menurutnya membuat para pengemudi kurang nyaman.

“Iya di situ banyak ada pemalakan-pemalakan kepada para sopir. Kalau kerugian tentunya pengemudi dipalak begitu jadi kurang nyaman nggak betah jadinya,” kata Gemilang kepada detikcom, Senin (30/11/2020).

Gemilang mengatakan para pengemudi dipalak hingga ratusan ribu rupiah di rest area. “Ada yang minta Rp 100 ribu, ya orang malak lah. Kisarannya itu sih ratusan ribu lah,” ujarnya.

Bahkan, hal itu diakui sendiri oleh Dirut Hutama Karya Budi Harto. Dia menilai jalan tol yang masih sepi traffic-nya membuat banyak kejahatan mengintai pengguna jalan.

Baca juga:

“Saat ini dengan berawalnya pengoperasian jalan tol ini dengan penyesuaian masyarakat kami menghadapi banyak tantangan. Jalan tol ini memang sekarang traffic-nya masih rendah. Dengan trafik yang rendah ini mengundang kejahatan,” ujar Budi dalam sebuah webinar, Rabu (25/11/2020).

Pernyataan Budi juga diamini oleh Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno.

Djoko mengatakan pihaknya pernah melakukan pantauan lapangan soal kondisi Tol Trans Sumatera.

Menurutnya memang ada beberapa zona yang relatif rawan kejahatan. Artinya tak semua ruas Jalan Tol Trans Sumatera rawan dengan kejahatan meski relatif masih sepi.

“Jadi itu hanya di ruas yang selatan saja, yang utara tidak. Di selatan ada dua wilayah yang rawan sekitar Mesuji dan Kayu Agung di daerah rawa-rawa, zona merah lah,” kata Djoko kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/11/2020).

Beberapa kejadian tindak kejahatan pembegalan kendaraan pernah terjadi di sana. Namun, sebaliknya di ruas lain atau sisi utara tak ada persoalan.

“Tapi yang namanya orang nekat, rampok mencegat kendaraan, korbannya truk-truk yang lagi istirahat, ada yang menyerang. Ada yang bawa mobil juga rampoknya, modal juga mereka,” kata Djoko

“Ini memang masalah sosial di sana, sebagai pembanding tol di Kalimantan juga sepi, tapi malah aman,” lanjutnya.

Selaku operator jalan tol, Hutama Karya pun angkat bicara soal keluhan rawan kejahatan ini.

Executive Vice President Sekper Hutama Karya Muhammad Fauzan mengatakan sejauh ini memang pihaknya belum mendapatkan laporan resmi soal tindak kejahatan yang terjadi di jalan tol Trans Sumatera.

Baca juga: 

Begitu pula dari para pengemudi truk yang mengalami tindak pemalakan, dia mengaku belum ada laporan resmi soal kejadian tersebut. Fauzan mengarahkan untuk melakukan laporan ke pihak berwajib.

Dia menegaskan kalau ada laporan resmi yang masuk, pihaknya dan kepolisian akan turun tangan menangani masalah tindak kejahatan yang terjadi.

“Sesuai arahan dari pihak Kepolisian, kita mengimbau kalau ada pemalakan di jalan tol maka segera melapor. Pihak polisi dan patroli jalan tol akan segera turun tangan,” kata Fauzan kepada detikcom.

Baca juga:

Kemudian, lewat keterangan resmi tertulis, Fauzan menambahkan pihaknya sudah melakukan beberapa upaya pengamanan di jalan tol. Mulai dari memasang 636 unit CCTV yang tersebar di sepanjang jalan tol Trans Sumatera setiap satu kilometer (km) dengan memiliki kamera dua arah, sehingga dapat mencakup seluruh aktivitas yang terjadi di jalan tol.

Petugas juga selalu memantau selama 24 jam penuh melalui Command Center, baik yang berada di setiap ruas tol maupun yang berada di kantor pusat dengan menggunakan sistem terintegrasi.

Dalam sistem yang sudah terintegrasi tersebut, terdapat fitur yang dapat mendeteksi apabila terdapat peringatan dari tiap ruas tol dan petugas akan langsung merespons keluhan dengan response time maksimal 5 menit.

Selain itu, pihaknya juga telah menyiapkan 435 petugas layanan pengamanan siaga selama 24 jam untuk melakukan pengawasan di sepanjang jalan tol.

“Pada prinsipnya Hutama Karya akan memperketat pengamanan baik di sepanjang jalan tol maupun di rest area yang ada di jalan tol Trans Sumatera. Khususnya pada saat momen Nataru yang akan datang,” kata Fauzan.

*****
Editor: Ali Mhd

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin