Perpustakaan Desa, Membangun Budaya Literasi Warga

45
Stakeholder Meeting tingkat Provinsi Kepri tentang perpustakaan desa di Hotel Aston, Tanjungpinang, Rabu (18/9/19). (F: Barakata.id)

Barakata.id, Tanjungpinang – Perpustakaan desa mempunyai peran penting dalam upaya membangun budaya literasi di masyarakat pedesaan. Bahkan saat ini perpustakaan bukan saja sekadar tempat membaca tapi juga bisa dimanfaatkan untuk mengasah wawasan dan keterampilan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Setiap desa memiliki keunggulan yang harus dimaksimalkan untuk menggenjot perekonomian masyarakatnya. Apalagi sekarang setiap desa sudah mendapatkan anggaran Dana Desa dari pemerintah pusat.

“Jadi, tidak ada alasan sebenarnya bagi setiap kepala desa untuk tidak memiliki minimal satu perpustakaan di wilayah yang dipimpinnya,” kata Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Novianto dalam Stakeholder Meeting tingkat Provinsi Kepri di Hotel Aston, Tanjungpinang, Rabu (18/9/19).

Baca Juga : 8 Desa di Kepri Jadi Percontohan Perpustakaan Nasional Pedesaan

Novianto mengatakan, kepala desa bisa memanfaatkan sebagian Dana Desa untuk mendirikan perpustakaan baru atau mengembangkan yang sudah ada.

Kabid Kelembagaan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMD-Dukcapil) Provinsi Kepri, Imam Rochani menambahkan, dalam Permendagri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, ada disebutkan bahwa sebagian Dana Desa boleh dianggarkan untuk pengadaan perpustakaan di desa.

“Ini artinya, pemerintah pusat mengisyaratkan bahwa perpustakaan itu sangat penting karena bisa mengedukasi masyarakat melalui berbagai kegiatan,” katanya.

Imam Rochani yang juga Sekretaris Tim Sinergi Kepri menyebutkan, sebagian kepala daerah di Kepri sudah ada yang merancang peraturan tentang hal ini. Melalui aturan tersebut diharapkan pembangunan desa akan semakin baik ke depannya.

Ketua Tim Sinergi Provinsi Kepri, Yetriani mengatakan, pihaknya sengaja mengumpulkan delapan kepala desa dan pengelola perpustakaan di Kepri yang sudah dijadikan pilot projek oleh Perpustakaan Nasional. Delapan desa itu adalah, Desa Tebias, Desa Lebuh, Desa Gemuruh dan Desa Pongkar yang berada di Kabupaten Karimun.

Adapun empat desa lainnya berada di Kabupaten Bintan yakni Desa Sebong Pereh, Desa Mantang Baru, Desa Toapaya, Desa Kuala Sempang.

Yetriani mengatakan, secara umum perpustakaan desa di Kepri belum memiliki bangunan permanen, tapi masih memanfaatkan ruangan di balai desa.

Meski demikian, langkah masing-masing desa tersebut layak diapresiasi karena mereka sudah punya program-program yang baik, terutama sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat desa.

Menurut Yetriani, perpustakaan desa juga dijadikan tempat belajar segala hal yang berkaitan dengan aktivitas keseharian masyarakat pedesaan. Seperti, mempromosikan hasil kebun, ternak, tempat pelatihan berbagai kegiatan produktif, dan lainnya.

Kepala desa dan pengelola perpustakaan desa mengikuti Stakeholder Meeting tingkat Provinsi Kepri di Hotel Aston, Tanjungpinang, Rabu (18/9/19). (F: Barakata.id)

Perpustakaan di Desa Toapaya, Bintan, lanjut Yetriani, tahun lalu menjadi yang terbaik nomor 4 di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa Kepri sebenarnya sudah memiliki taman baca unggulan.

Tahun ini, Kepala Desa Toapaya mengalokasikan anggaran hingga Rp200 juta untuk pengembangan perpustakaan di desa mereka. Anggaran itu diambil dari Dana Desa yang didapat Desa Toapaya dari pemerintah pusat.

“Jadi, desa di Kepri yang ingin studi banding, tidak perlu lagi harus ke luar daerah, cukup datang ke Toapaya Bintan. Mereka punya gedung sendiri, dan program-programnya cukup baik,” katanya.

Menurut Yetriani, Toapaya bisa maju karena kepala desa dan warganya sangat memahami pentingnya buku untuk ilmu pengetahuan.

Baca Juga : Maksimalkan Kearifan Lokal Kepri untuk Cegah Radikalisme

Yetriani juga mencontohkan Kundur Barat, Karimun. Di sana, perpustakaan dimanfaatkan warga untuk mendapatkan dan berbagi informasi tentang banyak hal, bukan sekadar membaca buku.

“Ada peternak di Kundur itu yang memanfaatkan promosi melalui layanan perpustakaan desa. Dia yang awalnya kesulitan menjual ternak ayam potongnya sebanyak 6.000 ekor, setelah dipromosikan, ternaknya langsung habis terjual. Itu menjadikan motovasi bagi peternak lain untuk semakin giat belajar cara-cara promosi. Ini kan juga berarti ikut membangun budaya literasi,” kata dia.

Ia mengatakan, tahun 2020 nanti Tim Sinergi akan mengembangkan pembangunan tempat-tempat baca untuk masyarakat untuk beberapa daerah lain di Kepri seperti di Kabupaten Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini