Home Gaya

Kenali 4 Fase Penentu dalam Pernikahan

108
Kenali 4 fase dalam pernikahan agar senantiasa utuh dan bahagia. (F: Istimewa)

Barakata.id – Sebuah pernikahan umumnya mengalami sejumlah tahap. Ada yang beruntung mengalami semua tahapnya, ada juga yang hanya bertahan beberapa tahap saja. Dr Rita DeMaria, seorang konselor pernikahan mengatakan setiap tahapan pernikahan memiliki tantangan berbeda-beda.

Berikut ini 4 tahapan atau fase kritis dalam pernikahan yang dilansir dari Ibupedia. Tahapan-tahapan ini menjadi penentu apakah pernikahan akan berhasil atau terpaksa diakhiri.

1. Fase bulan madu

Fase bulan madu adalah fase yang paling membahagiakan dalam sebuah pernikahan. Pada fase ini romantisme sedang berada di puncaknya. Apa yang dilihat dari pasangan adalah kebaikannya, hal ini disebabkan masing-masing belum sepenuhnya menunjukkan kareakter asli dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Baca Juga : 
5 Alasan Mengapa Pernikahan Anda Kurang Intim

Pasangan bisa menghabiskan quality time berdua, karena belum diramaikan dengan kehadiran anak. Namun seringkali karena perasaan dimabuk cinta ini, pasangn lupa membicarakan lebih dini visi dan misi keluarga, pembagian peran dalam rumah tangga, perencanaan jumlah anak dan pengasuhan, masalah finansial, karir maupun pendidikan.

Padahal mengomunikasikan prinsip dan menentukan bersama arah pernikahan adalah hal penting yang harus dilakukan sejak awal. Bahkan sebelum menikah. Jika hal itu tak dilakukan, fase bulan madu ini menjadi masa kritis yang mempengaruhi pondasi pernikahan.

2. Fase kenyataan

Pada fase ini satu sama lain mulaisadar dari panah asmara. Sehingga mulai terganggu dengan hal-hal sederhana yang dilakukan pasangan. Seperti tidak mengembalikan benda ke tempat semula, menunda sesuatu, terlalu banyak berkomentar dan hal-hal sepele lainnya.

Selain kebiasaan sepele, prioritas yang tak sejalan juga berpotensi menjadi masalah. Misalnya jika suami ingin bangun siang di saat weekend, sedangkan istri ingin weekend dihabiskan dengan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.

Fase ini menjadi masa kritis karena banyak yang gagal menerima pasangan apa adanya. Sehingga pernikahannya pun hanya bertahan seumur jagung. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bisa menjalan fase ini dengan baik. Diantaranya mendiskusikan kebiasaan dengan pasangan, mendengarkan penjelasan tanpa interupsi dan ungkapkan harapan.

3. Fase keluarga

Di fase ini kehidupan pasangan tak lagi sama. Pernikahan telah diramaikan dengan kehadiran anak. Menjadi orang tua membuat suami dan istri harus beradaptasi melepaskan ego. Belajar mengutamakan anak, memantaskan diri untuk jadi contoh anak juga sekaligus jadi teman anak.

Pada fase keluarga akan banyak tuntutan hidup yang lebih kompleks. Orang tua harus mengupayakan tersedianya kebutuhan dasar dan kebutuhan tambahan untuk anak. Fase keluarga bisa menajdi fase kritis jika suami dan istri tak mampu mempertahankan komunikasi di tengah padatnya rutinitas pekerjaan dan rumah tangga.

Baca Juga :
8 Cara Romantis Membangunkan Pasangan di Pagi Hari

Untuk mengatasi masa kritis ini, solusinya adalah menjaga kedekatan dengan pasangan. Upayakan aktivitas berdua untuk menumbuhkan lagi rasa bahagia saat bersama. Menumbuhkan rasa syukur dan mempertahankan komunikasi yang efektif dan hangat.

4. Fase reuni

Pernikahan yang sampai pada fase ini merupakan pernikahan yang tangguh. Di fase ini anak-anak telah dewasa dan sudah keluar dari rumah. Baik karena kuliah, bekerja atau menikah. Secara finansial kewajiban-kewajiban yang dulu terbebani rata-rata sudah selesai. Misalnya cicilan rumah, kendaraan, asuransi, tabungan pendidikan anak-anak maupun investasi.

Pada tahap ini suami dan istri bisa kembali menikmati waktu berdua. Bisa mengobrol, olahraga bersama, mengikuti aktivitas di lingkungan sosial atau masih berksempatan untuk bekerja.

Meskipun tampak indah, fase ini juga memiliki masa kritis. Rasa sepi di rumah akan muncul jika tak diimbangi dengan aktivitas yang membuat suami dan istri merasa bermakna. Apalagi jika keduanya masih belum bisa menerima kekurangan pasnagan. Karena itu masih ada juga pasangan yang memutuskan untuk mengakhiri pernikahan di fase ini.

Untuk mengatasi masa kritis di fase ini, suami dan istri bisa mencari aktivitas untuk mengisi keseharian, mengikuti kelompok kerohanian, aktif di kegiatan sosial atau traveling bersama. Jika masih ada yang mengganjal dan komunikasi yang dilakukan belum menunjukkan hasil menggembirakan, tak ada salahnya menemui konsultan pernikahan.

Keberhasilan menghadapi fase ini akan membuat pernikahan memasuki fase terakhir, yaitu fase saling melengkapi. Syaratnya, suami dan istri menikmati kebersamaan di masa tua.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin