Home Parenting

Strategi Agar Perempuan Cerdas Mengatur Keuangan

20
Perempuan Cerdas Keuangan
Ilustrasi. (F: Freepik)
artikel perempuan

Barakata.id, – Sebagai Menteri Keuangan Keluarga, perempuan dituntut cerdas dalam mengelola keuangan, agar kehidupan rumah tangga berjalan baik dan lancar. Cerdas finansial bagi perempuan itu bisa dipelajari kok.

Sering dijumpai, setiap bulan, para perempuan terutama istri atau ibu rumah tangga pasti disibukkan dengan pengaturan keuangan keluarga. Namun, tidak sedikit kaum perempuan yang kebingungan mengatur pengeluaran.

Apalagi jika di tengah bulan, tiba-tiba ada keperluan mendadak yang butuh dana segar. Inilah mengapa perempuan hendaknya mampu mengatur kegiatan belanja bulanan keluarga. Apakah itu yang bersifat primer, sekunder maupun tersier.

Perencanaan jangka panjang keuangan dalam satu keluarga adalah penting. Bukan hanya tugas perempuan atau istri, para suami juga harus itu berperan membuat perencanaan tersebut.

Daftar kebutuhan bersama dibuat berdasar skala prioritas sesuai kemampuan finansial. Bagi yang sudah memiliki anak, kebutuhan mereka juga termasuk yang harus dibuatkan perencanaan khusus.

BACA JUGA : Perempuan Cerdas Bisa Bikin Lelaki Panjang Umur

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah strategi agar perempuan menjadi cerdas mengatur keuangan dalam lingkungan keluarga:

Menabung di Awal Bulan

Sebaiknya Anda menyisihkan antara 10 persen hingga 30 persen penghasilan di awal bulan. Langkah ini akan sangat membantu agar tidak ada aksi pemborosan uang dengan percuma. Selain baik untuk jangka panjang, dana ini juga akan sangat berarti sebagai dana darurat.

Ketika sedang di luar atau jalan-jalan, kapan pun Anda merasakan dorongan untuk berbelanja barang-barang yang tidak dibutuhkan, tahanlah keinginan itu. Lebih baik segera pulang ke rumah, kemudian tulis barang yang ingin Anda beli itu dalam daftar keinginan.

Buat Daftar Utama

Kenali kondisi keuangan keluarga dengan membuat daftar pemasukan dan pengeluaran. Bisa disusun per bulan maupun jangka panjang. Kebutuhan wajib harus dianggarkan terlebih dahulu, seperti belanja makanan, listrik, air, transportasi, uang sekolah anak, dan kewajiban cicilan lain jika ada.

Daftar Kebutuhan dan Keinginan di Masa Depan

Setelah ada skala prioritas, Anda bisa menyusun daftar apa yang diinginkan dan dibutuhkan di masa depan. Misalnya, kebutuhan pendidikan anak setahun sampai tiga tahun ke depan, membeli kendaraan atau berlibur ke suatu tempat yang jauh. Buatlah daftar anggaran itu berdasar skala prioritas dan tenggat waktu yang diinginkan.

BACA JUGA : Mau Cepat Kaya? Ini 5 Cara Sederhana yang Bisa Kamu Lakukan

Menyusun Anggaran Sesuai Porsi

Sebagai perbandingan, Anda bisa menyusun penganggaran keuangan dengan menggunakan persentase; kebutuhan rumah tangga 40 persen, tanggungan cicilan 20 persen, dana pendidikan, tabungan dan dana tak terduga masing-masing sebesar 10 persen, anggaran hiburan, investasi, premi asuransi, dan dana sedekah masing-masing sebesar 5 persen

Belanja Saat Bahagia

Ada satu penelitian yang menunjukkan, jika Anda berbelanja saat sedih, depresi, atau lapar, Anda akan mengeluarkan lebih banyak uang. Jika sedang sebal atau sedih, sebaiknya tenangkan dulu diri. Dengan pikiran yang bersih, maka kegiatan berbelanja akan menjadi lebih efektif.

Sebelum pergi belanja, Anda harus sudah membuat daftar barang yang akan dibeli. Fokuslah pada daftar tersebut. Jika Anda tertarik ingin membeli barang di luar daftar, pikirkan kembali matang-matang, apakah itu akan menggangu rencana keuangan yang sudah disusun?

Tergiur dengan barang-barang murah? Ingat, berhemat bukan berarti pelit. Sepatu, pakaian, tas, mebel dan gadget adalah barang-barang yang perlu dipertimbangkan kualitasnya. Meskipun harus membayar lebih mahal, namun jangka pakainya lebih lama dan tidak harus membeli berulang kali. (*)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari bergabung di Grup Telegram "KATA BARAKATA", caranya klik link https://t.me/SAHABATKATA kemudian join.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin