Home Kepulauan Riau

Museum Batam Perlu Ruang Konservasi dan Souvenir

Museum Batam
Kadisbudpar Batam, Ardiwinata menunjukkan salah satu barang koleksi Museum Batam kepada tim standarisasi museum dari Kemendikbud, Selasa (20/4/21). (F: barakata.id)
Banner Pemprov Kepri

Barakata.id, Batam – Museum Batam Raja Ali Haji masih perlu beberapa pengembangan agar bisa lebih dikenal dan bermanfaat. Koleksi museum pun harus terus ditambah, dan dilengkapi narasinya.

“Museum era sekarang bukan seperti dulu, asal taruh barang selesai. Museum ini harus terus dikembangkan. Misalnya, ditambah souvenir untuk menandakan bahwa turis tersebut sudah datang ke museum ini,” kata Pendamping Kegiatan Standardisasi dan Sosialisasi Pedoman Standardisasi Museum Kemendikbud, Siswanto.

Siswanto yang datang ke Museum Raja Ali Haji untuk kegiatan standardisasi dan sosialisasi pedoman standardisasi museum itu mengatakan, kontribusi Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk museum ini sudah cukup bagus.

Advertisement

BACA JUGA : Museum Batam Raja Ali Haji Diperkenalkan kepada Pemandu Wisata

Di tempat yang sama, Kurator Museum Purna Bhakti Pertiwi, Gunawan Wahyu Widodo mengatakan bahwa secara sarana fisik, Museum Raja Ali Haji representatif dan bisa lebih komplit.

Namun, museum ini memerlukan ruang konservasi yang didukung untuk memastikan koleksi terjaga. Museum juga harus menyiapkan tenaga ahli konservator, ada ruang audio visual yang menyajikan informasi inspiratif, serta ruang fasilitas publik untuk memberikan rasa nyaman untuk tempat bersantai.

“Bisa disediakan kursi nyaman tempat pengunjung duduk untuk merelaksasi,” kata dia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata menyambut baik kedatangan tim yang mengemban tugas dari Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud tersebut. Menurutnya, hal itu sudah layak karena Museum Raja Ali Haji sudah didaftarkan ke Kemendikbud bersama 475 museum lainnya di Indonesia.

Isi dari museum, kata Aridwinata, menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal hingga Jepang.

Museum Raja Ali Haji
Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata memaparkan perihal Museum Batam kepada tim dari Kemendikbud, Selasa (20/4/21). (F: barakata.id)

Kemudian, dari masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang.

“Hari ini (kemarin), Kemendikbud pertama kali menilai Museum Batam Raja Ali Haji apakah digolongkan A, B, atau C,” katanya.

BACA JUGA : Meriam Zaman Belanda Jadi Koleksi Terbaru Museum Raja Ali Haji

Merespon tanggapan tim dari Kemendikbud, Ardi berjanji akan terus mengembangkan Musuem Raja Ali Haji, termasuk menjadikan museum itu berbasis digital.

Ardi optimistis museum ini bisa menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Batam. Apalagi, lokasinya sangat strategis, berada di pusat Kota Batam yang dekat dengan pelabuhan internasional, hotel, dan pusat perbelanjaan.

Ia bertekad bakal terus mendorong untuk mengembangkan museum mulai dari koleksi museum sampai atraksi di museum.

“Museum Raja Ali Haji ini bersifat universal dan kita akan dorong ke depannya Batam punya museum tematik,” terangnya.

Kota Batam juga memiliki potensi budaya dan pariwisata, atas dasar itu museum ini menggambarkan sejarah tentang Batam.

“Kita akan gali terus tentang Makam Temenggung Abdul Jamal dan Nong Isa, karena museum kita tidak akan meninggalkan sejarah,” pungkasnya.

*****

Editor : YB Trisna

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin