Home Warta Nusantara

Ketua Dewan Pers: Berita Tanpa Data Bakal Ditinggalkan

29
SMSI
Ketua Dewan Pers, M Nuh berdialog dengan Wakil Ketua Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) M. Hatta Rajasa, dan jajaran pengurus SMSI di Gedung 6, Jalan Darmawangsa Raya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/20) malam. (F: Barakata.id)

Barakata.id, Jakarta – Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh, mengatakan, migrasi besar-besaran dari physical space (bentuk fisik) ke cyber space saat ini tak bisa dibendung. Bahkan civil society khususnya media, dituntut pintar dan cermat dalam mengekspoiltasi wilayah baru tersebut.

Tak pelak, intensitas informasi yang disajikan, tentu tak melulu bersifat peristiwa sebagai cermin wajah baru. Kelengkapan data menjadi refrensi yang mendekatkan pada ilmu pengetahuan.

“Lantas, siapa pun yang tidak mengeksplore (data) ini tentu akan tertinggal. Lalu apa golnya, tentu saja knowledge (ilmu pengetahuan). Mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya dalam dialog dengan Wakil Ketua Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) M. Hatta Rajasa, dan jajaran pengurus SMSI di Gedung 6, Jalan Darmawangsa Raya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/20) malam.

Baca Juga :
Dewan Pers: Jangan Layani Wartawan Minta-Minta THR

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika di era Presiden SBY ini menegaskan, pola data informasi dan sistem akan terus terbarukan. Sehingga nantinya akan ada basis data yang secara jelas dapat diolah menjadi informasi.

”Maka pendekatannya knowledge. Ini ada perkembangan society, lalu dijajarkan pada imajiner, di bawahnya ada basis, hasilnya fisik. Nah ini menjadi kombinasi yang memanfaatkan big data dan bermanfaat,” ujar pria yang juga pernah menjadi Menteri Pendidikan Nasional itu.

Jika awalnya, media hanya mengangkat berita peristiwa, sekarang, akan lebih mendalam.

”Di depan itu misalnya ada peristiwa tabrakan. Dulu ya ditulisnya peristiwa. Tapi saat ini, semua dikombinasi. Mengapa sampai ada peristiwa tabrakan itu, bagaimana kondisi jalannya, dan masih banyak lagi lainnya yang secara jelas menuangkan data. Nah inilah pendekatan knowledge itu,” katanya.

“Maka seperti saya sebutkan di awal, pentingnya mengekplorasi sebuah data,” sambung pria kelahiran Surabaya 17 Juni 1959 itu.

Selanjutnya, jurnalis yang kreatif dan kritis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin