BPOM Perbolehkan 5 Vaksin untuk Booster, Tak Ada Nama Sinovac

91
0
Vaksin untuk Booster
Vaksin Moderna merupakan salah satu vaksin yang disetujui oleh BPOM untuk digunakan sebagai vaksin booster. (F: Pixabay)
DPRD Batam

Barakata.id, Kesehatan – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memperbolehkan lima produk vaksin untuk vaksin dosis lanjutan atau booster. Hal itu ditandai dengan diterbitkannya izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) terhadap lima produk vaksin ini.

Kepala BPOM Penny K. Lukito, dalam keterangan pers, di Jakarta Pusat, Senin (10/1/22) mengatakan sebelum menerbitkan EUA, pihaknya telah melakukan prosus evaluasi bersama para tim ahli Komite Nasional Penilai Vaksin (Covid-19).

Ikuti saluran Barakata.id di WhatsApp klik disini

“Dan telah mendapatkan rekomendasi memenuhi persyaratan yang ada,” ujarnya, dikutip dari kominfo.go.id.

Baca Juga:

Dari lima produk vaksin yang diterbitkan EUA nya ini, tak termasuk vaksin Sinovac. Seperti diketahui, vaksin Sinovac ini menjadi vaksin Covid-19 yang paling banyak digunakan di Indonesia dalam program vaksinasi.

Lima vaksin yang mendapat izin penggunaan darurat sebagai vaksin booster yaitu vaksin CoronaVac produksi PT Bio Farma, vaksin Pfizer, vaksin AstraZeneca, vaksin Moderna, dan vaksin Zifivax.

Kendati demikian, Penny mengatakan, saat ini masih terdapat beberapa vaksin yang sedang diuji klinik untuk memperoleh EUA sebagai vaksin booster.

“Dalam waktu beberapa hari ini juga akan bisa kita putuskan emergency use authorization nya,” kata Penny.

Penny menerangkan, vaksin booster ini dapat diberikan kepada masyarakat dengan kriteria 18 tahun ke atas. Vaksin boleh diberikan dengan jarak minimal enam bulan dari vaksin primer dosis lengkap.

Untuk vaksin CoronaVac produksi PT Biofarma merupakan booster homolog dengan hanya satu dosis saja.

“(Hasil uji) imunogenisitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi hingga 21-35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada subjek dewasa,” paparnya.

Sedangkan vaksin Pfizer atau Comirnaty juga untuk booster homolog dengan dosis sebanyak satu dosis.

“(Hasil uji) imunogenisitas menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi setelah 1 bulan (pemberian booster) sebesar 3,3 kali,” terangnya.

Lalu vaksin AstraZeneca juga bersifat homolog dengan dosis sebanyak satu dosis. Hasil uji imunogenisitasnya menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi sekitar 3,5 kali setelah pemberian vaksin booster jenis ini.

Selanjutnya, vaksin Moderna digunakan untuk booster homolog dan heterolog dengan dosis setengah dosis. Booster heterolog vaksin Moderna digunakan untuk vaksin AstraZeneca, Pfizer, dan Janssen atau Johnson & Johnson.

“Ini menunjukkan respons imun antibodi netralisasi sebesar 13 kalinya setelah pemberian dosis booster,” ujarnya.

Baca Juga:

Terakhir, vaksin Zifivax digunakan untuk booster heterolog dengan vaksin primer Sinovac dan Sinopharm. Titer antibodi netralisasi meningkat lebih dari 30 kali pada subjek yang telah mendapat dosis primer Sinovac atau Sinopharm.

Dalam keterangannya, Penny mengatakan pemberian vaksinasi booster ini telah direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Booster diberikan untuk meningkatkan kadar antibodi Covid-19 yang menurun signifikan setelah enam bulan divaksin lengkap.

Berdasarkan data pengamatan uji klinik dari semua vaksin Covid-19, meunjukkan penurunan kadar antibodi secera signifikan hingga di bawah 30 persen setelah enam bulan divaksin primer dosis lengkap. (asrul)