Home Nusantara BMKG Ingatkan Potensi Gempa dan Tsunami 28 Meter di Jawa

BMKG Ingatkan Potensi Gempa dan Tsunami 28 Meter di Jawa

Gempa dan Tsunami Jatim
Foto ilustrasi tsunami. BMKG menyebut ada potensi terjadi gempa dan tsunami di wilayah Pacitan, Jatim.

Barakata.id, Jakarta – Badan Meteorologi Klimatoogi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi gempa dan tsunami setinggi 28 meter di Pulau Jawa terutama di wilayah Jawa Timur (Jatim). Potensi bencana itu diharapkan dapat menjadikan pemerintah melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Prediksi potensi gempa dan tsunami di Jawa itu disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini memberikan arahan atas kesiapsiagaan bencana secara daring di Jakarta, Rabu (21/7/21). Pada kesempatan itu, Dwikorita meminta jajaran Kementerian Sosial mengantisipasi skenario terburuk gempa dan tsunami.


“Salah satunya berpotensi terjadi khususnya di wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang diprakirakan (tsunami) bisa mencapai 25-28 meter,” katanya.

BACA JUGA : Peringatan: Tsunami 20 Meter Berpotensi Terjadi di Jawa

Menurut Dwikorita, potensi gempa dan tsunami di Jawa tersebut lantaran dalam peta, Kabupaten Pacitan dekat dengan teluk yang mengumpulkan tenaga gelombang tinggi dan relatif dekat dengan letak episentrum gempa, sehingga dapat dikatakan menjadi zona merah.

“Misalnya peta daerah Pacitan, Jawa Timur, warna merah menunjukkan gelombang tinggi 10-14 meter, semakin merah semakin tinggi pula gelombang, warna kuning gelombang 2-3 meter, serta warna hijau gelombang setengah meter,” kata dia.

Dwikorita menyatakan, ada 10 kajian ilmiah terkait prediksi bencana yang dijabarkan dalam sebuah peta untuk memudahkan memahami dengan tiga warna yakni merah, kuning dan hijau.

Pada kasus Kabupaten Pacitan, akses zona merah menuju zona hijau kemungkinan tercepat melalui sungai yang mengalir. Sayangnya jika terjadi tsunami, menurut Dwikorita sungai tersebut berpotensi menambah dampak kerusakan wilayah.

Karena itu diperlukan jalur yang dapat mengintegrasikan penduduk di zona merah agar dapat mengevakuasi diri ke jalur hijau. Ia meminta agar seluruh jajaran di daerah dapat membangun infrastruktur tahan gempa sebagai jalur evakuasi warga.

Dwikorita pun mengingatkan agar jangan sampai infrastruktur evakuasi tidak kuat menghadapi bencana seperti yang terjadi di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Menurut dia, infrastruktur evakuasi warga di Palu sebenarnya sudah dipersiapkan sejak 2009-2015 dan semua elemen masyarakat bersiap menghadapi situasi bencana alam, mulai dari Wali kota, Bapeda, Dinas Tata Ruang, pihak sekolah dan pihak-pihak terkait lainnya.

BACA JUGA : Calon Ibu Kota Baru Disebut Berisiko Tsunami 15 Meter

Namun, karena tidak kuat menahan guncangan gempa, sehingga infrastruktur seperti jembatan, roboh. Akibatnya, banyak di antara anak-anak dan dewasa yang telah mempelajari cara evakuasi diri menjadi korban, karena tak tahu harus berbuat apa di kala infrastruktur evakuasi rusak parah.

Oleh karena itu, lanjut Dwikorita, empat langkah strategis kesiapsiagaan bencana yang dipaparkan Menteri Sosial Tri Rismaharini perlu diterapkan sesegera mungkin.

Empat langkah tersebut adalah, mempelajari kearifan lokal penduduk untuk mempermudah evakuasi, menggandeng pihak terkait komunikasi publik di saat putus komunikasi, tidak meremehkan prakiraan BMKG, dan agar jajaran Kementerian Sosial dan Dinas Sosial memahami kebutuhan warga setempat yang riskan terhadap dampak bencana untuk mengurangi korban anak-anak, lansia, hingga penyandang disabilitas.

“Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bu Mensos terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana yang begitu strategis, serta juga perlu mempersiapkan bangunan yang dirancang tahan guncangan gempa hingga magnitudo 8,7,” pungkas Dwikorita.

*****

Editor : YB Trisna

Sumber : ANTARA

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin