Home Warta Nusantara

Calon Ibu Kota Baru Disebut Berisiko Tsunami 15 Meter

109
Ibu Kota Baru
Ilustrasi. Presiden Jokowi meninjau lahan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur. (F: dok. Sekretariat Negara)

Barakata.id, Batam – Calon Ibu Kota Republik Indonesia yang baru di Kalimantan Timur disebut berisiko terkena tsunami setinggi 15 meter. Gelombang tsunami itu dipicu oleh peristiwa longsor bawah laut.

Risiko tsunami itu disebut-sebut dalam artikel yang dilansir BBC News berjudul Tsunami risk identified near future Indonesian capital yang diterbitkan pada Rabu (22/4/20) lalu.

Artikel itu mengungkap pemetaan longsoran bawah laut purba di Selat Makassar yang dilakukan tim peneliti Inggris dan Indonesia dengan menggunakan data seismik.

Tim peneliti mendapati bahwa berdasarkan kajian awal, jika longsor bawah laut besar terulang lagi maka itu akan memicu tsunami yang mampu menggenangi Teluk Balikpapan, sebuah area dekat dengan Ibu Kota Negara RI yang diusulkan.

Meski demikian, tim peneliti internasional itu juga menyatakan masih harus banyak melakukan penilaian terhadap kondisinya dengan tepat.

Baca Juga :
Gunung Anak Krakatau Meletus, Warga Diminta Menjauh Radius 2 Km

Merespon artikel tersebut, peneliti senior di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko mengatakan, dengan volume longsoran mendekati 4 juta meter kubik, tsunami yang mengancam lokasi calon ibu kota baru itu bisa setinggi lebih dari 15 meter.

Tsunami dengan ketinggian seperti itu sebelumnya pernah terjadi di Papua Nugini pada tahun 1998.

“Kami pernah sampaikan tahun lalu. Kaji detil perlu untuk siapkan Pengurangan Risiko Bencananya,” kata Widjo Kongko yang juga dikenal sebagai ahli tsunami dalam cuitannya di akun media sosial tentang perlunya upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bagi calon ibu kota negara, seperti dilanssir dari CNNIndonesia.com, Minggu (26/4/20).

Widjo Kongko menggunakan istilah tradisional masyarakat di Pulau Simeulue, Aceh, smong, untuk ancaman tsunami tersebut. Dia juga menyebut tsunami di Palu dan Krakatau sebagai contoh smong yang terjadi beberapa tahun lalu yang diakibatkan oleh longsor bawah laut.

Menurutnya, kejadian smong di Indonesia yang disebabkan longsor di bawah laut lebih banyak daripada yang diperkirakan. Meski demikian, Widjo mengatakan, kajiannya tidak banyak.

Di wilayah barat Indonesia, dari survei batimetri detil cacat-parut bekas longsor bawah laut hanya menjadi kajian kolega peneliti di Potsdam, Jerman. Sedang di Indonesia tengah dan timur, atau Laut Banda, suspek longsor bawah laut lebih banyak lagi.

“Smong yang dipicu longsor bawah laut bisa sangat tinggi, lebih dari 50 atau 100 meter,” ujarnya.

Baca Juga :
Awas! Potensi Gempa dan Tsunami Lebih 3 Meter Terjadi di Sukabumi

Sebagai catatan, ada sejumlah tsunami yang menghancurkan di Indonesia dalam 15 tahun terakhir, dipicu oleh berbagai mekanisme. Gempa Megathrust dan tsunami di lepas pantai Sumatera di 2004 menelan korban 220.000 jiwa di sepanjang wilayah Samudera Hindia, 165.000 korban tersebut ada di Sumatera menjadikan bencana alam terburuk dalam 100 tahun terakhir.

Lalu tsunami Palu pada 28 September 2018 yang mekanismenya masih belum pasti antara kombinasi gempa kuat atau longsor bawah laut. Saat itu dua gelombang, tercatat dengan ketinggian maksimal lebih dari 10 meter, ditambah dengan likuefaksi menyapu 4.000 korban jiwa.

Pada Desember 2018, tsunami Gunung Anak Krakatau, di mana sayap gunung runtuh yang kemungkinan dipicu oleh erupsi gunung berapi tersebut. Korban tewas 400 orang di pesisir Jawa dan Sumatera.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin