
Selain lewat Weibo, media CCTV juga menghadirkan wawancara dengan Zhang Boli, salah satu peneliti yang mengungkapkan kemungkinan efek samping yang timbul setelah konsumsi obat herbal ini.
Surat kabar People’s Daily juga mengungkapkan bahwa sebaiknya obat herbal virus corona ini diminum dengan saran atau anjuran dokter. Para ahli menyarankan untuk tak minum obat tersebut tanpa pengawasan dokter.
Klaim ini muncul ketika Beijing berusaha memasukkan pengobatan tradisional Cina atau traditional chinese medicine (TCM) ke dalam langkah pencegahan penanganan melawan virus yang sudah menewaskan ratusan orang tersebut.
Baca Juga :
Kondisi Pasien Suspect Virus Corona di Batam Membaik, Polda Kepri Minta Warga Tak Panik
Klaim ini memicu kembali perdebatan sengit tentang kemanjuran TCM yang sudah ada sejak 2.400 tahun dan tetap populer di Cina modern.
Marc Freard, anggota Dewan Akademik Pengobatan Tiongkok Perancis, mengatakan kepada AFP bahwa ia percaya formulasi tradisional dapat digunakan untuk mengobati orang dengan gejala mulai dari demam hingga dahak yang kental.
Tetapi dia memperingatkan bahwa banyak solusi di pasar yang kualitasnya dipertanyakan dan mengakui bahwa TCM “tidak memiliki standar ilmiah kemanjuran” karena mengandalkan “perawatan individual.”
Obat-obatan tradisional banyak digunakan di Cina bersamaan dengan metode Barat selama epidemi SARS 2003, atau Sindrom Pernafasan Akut Parah, yang menewaskan 774 orang di seluruh dunia.
Tetapi sebuah studi tahun 2012 di Cochrane Database of Systematic Reviews menemukan bahwa menggabungkan obat-obatan Cina dan Barat “tidak membuat perbedaan” dalam memerangi penyakit ini.
Kombinasi Obat Flu dan HIV

Sementara dari Thailand, dokter-dokter di negara itu juga mengklaim telah berhasil merawat dua orang pasien virus corona dengan kombinasi obat antivirus. Hal ini diungkapkan oleh Kementerian Kesehatan Thailand.
Kriangsak Atipornwanich, seorang dokter di rumah sakit Rajavithi di Bangkok mengungkapkan bahwa dia merawat seorang wanita berusia 71 tahun dari China yang terkena virus corona dengan kombinasi obat perawatan HIV dan flu. Pasien sebelumnya hanya dengan obat anti-HIV.
“Saya telah merawat seorang pasien dalam kondisi parah, namun hasilnya sangat memuaskan. Kondisi pasien telah membaik sangat cepat dalam waktu 48 jam. Hasil tes juga berubah dari positif menjadi negatif dalam waktu 48 jam juga,” ucap Atipornwanich dikutip dari CNN.
Baca Juga :
Kepri Bentuk Tim Satgas Cegah Virus Corona
Pejabat-pejabat kesehatan yang turut hadir dalam konferensi pers tersebut mengatakan bahwa tes laboratorium terbaru menunjukkan tak ada jejak virus dalam sistem pernapasan pasien.
Jika benar obat ini bisa mengobati virus corona, maka ada harapan baru di dunia kesehatan untuk mengatasi penyakit yang kini berstatus darurat internasional tersebut. Sebelumnya, Rumah sakit di Beijing telah melaporkan menggunakan obat yang sama yang diberikan kepada pasien HIV dan AIDS adalah bagian dari pengobatan untuk coronavirus Wuhan, meskipun tidak jelas apakah mereka telah berhasil.
Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular di Institut Kesehatan Nasional AS, mengatakan kepada CNN pekan lalu bahwa sampai saat ini belum ada obat yang terbukti efektif untuk mengobati virus.
*****
Sumber : CNN Indonesia














![[Video] Detik-Detik Ledakan Bom Katedral Makassar Gambar Ledakan Bom di Gereja Katedral Makasar](https://barakata.id/wp-content/uploads/2021/03/Gambar-Ledakan-Bom-di-Gereja-Katedral-Makasar-180x135.jpg)
![[VIDEO] Jenazah Haji Permata Tiba di Pelabuhan, Disambut Isak Tangis Warga Haji Permata](https://barakata.id/wp-content/uploads/2021/01/maxresdefault-1-180x135.jpg)













