Barakata, Catatan – Disuatu pagi dalam suasana ruang kerja yang belum begitu ramai, beberapa orang berkumpul sambil bercakap-cakap. Satu dari sekian orang itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Dia yang memiliki kedudukan itu berbicara biasa saja tentang rambut yang butuh shampo. Mendengar pembicaraan yang datar itu, seorang sarjana psikologi kemudian tertawa hingga terlihat gigi putihnya. Dua tarikan napas berikut, sarja psikologi itu bertanya kepada dirinya sendiri, “Kenapa saya tertawa ya..?”. Pertanyaan ini terlihat sederhana, tapi bagi penulis itu sebuah pertanyaan yang eksistensial.
Dalam penelusuran beberapa literatur penulis menemukan bahwa orang tertawa Ketika logikannya terganggu. Tertawanya seorang sarja psikologi dalam kisah diatas tidak sekedar menunjukkan logika yang terganggu, tapi lebih eksistensial dari itu, yakni pembuktian terhadap kesenjangan relasi kuasa.
Baca juga: Kembali pada Makna Dasar Gotong Royong
Kesenjangan relasi kuasa ini penulis pikir sebuah hipotesis yang mudah dibuktikan. Dalam eksperimen pertama penulis coba berada di antara petinggi dan ikut mendengarkan pembicaraan sang petinggi yang tidak lucu itu. Hampir semua yang ikut berdiri didekat sang petinggi memberikan reaksi tertawa atau tersenyum, disetiap akhir kalimat sang petinggi. Tawa atau senyuman itu dikeluarkan dan dipertontonkan dihadapan sang petinggi hanya karena keinginan memberikan reaksi baik, reaksi adaptif, atau reaksi kesopanan terhadap sang petinggi.
Dari setiap reaksi itu sang pendengar yang notabenenya anak buah atau bawahan dari sang petinggi kemungkinan mengharapkan minimal kesan baik dari sang petinggi.
Eksistensialisme secara terminologi adalah suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan segala sesuatu terhadap manusia dan segala sesuatu yang mengiringinya, dan dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi atau aktif dengan sesuatu yang ada disekelilingnya, serta mengkaji cara kerja manusia ketika berada di alam dunia ini dengan kesadaran. Disini dapat disimpulkan bahwa pusat renungan atau kajian dari eksistensialisme adalah manusia konkret.
Ciri aliran eksistensialisme secara umum; yang pertama adalah selalu melihat cara manusia berada. Eksistensi diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi. Yang ke-dua adalah manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum selesai, serta didasari dari pengalaman yang konkret atau empiris.
Martin Heidegger, seorang tokoh eksistensialism yang memiliki Inti pemikiran bahwa; pusat semua hal adalah manusia, dan mengembalikan semua masalah apapun pada manusia sebagai subjek atau objek dari masalah tersebut.
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Yang Berhadapan Dengan Hukum mengatur bahwa Relasi Kuasa adalah relasi yang bersifat hierarkis, ketidaksetaraan dan/atau ketergantungan status sosial, budaya, pengetahuan/pendidikan dan/atau ekonomi yang menimbulkan kekuasaan pada satu pihak terhadap pihak lainnya dalam konteks relasi antar gender sehingga merugikan pihak yang memiliki posisi lebih rendah.
Baca juga: Memerdekakan Pikiran
Ada dua unsur penting dalam pengertian relasi kuasa di atas yakni pertama sifatnya hierarkis yang meliputi posisi antar individu yang lebih rendah atau lebih tinggi dalam suatu kelompok atau tanpa kelompok. Kedua adalah ketergantungan, artinya seseorang bergantung pada orang lain karena status sosial, budaya, pengetahuan/pendidikan dan/atau ekonomi. Kedua unsur relasi kuasa tersebut ketahui oleh individu sebagaimana dimaksud Michael Foucault sehingga menimbulkan kekuasaan yang berpotensi disalahgunakan atau kalimat lainnya disebut penyalahgunaan keadaan.
Kesenjangan relasi kuasa yang tidak diatur dengan baik akan menimbulkan minimal dua kerusakan besar, yaitu; kerusahan pola interaksi kelompok dan kerusakan pada futurism kelompok. Dua kerusakan besar ini membutuhkan waktu perbaikan yang Panjang dan konsekuensi biaya yang sangat besar.
Kerusakan pola interaksi kelompok yang merupakan akibat dari kesenjangan relasi kuasa tersebut, selalu bermula dalam bentuk komunikasi verbal yang saling merendahkan, menyindir bahkan menyinggung, hingga kekerasan verbal dan pelecehan verbal. Kondisi ini akan disusul dengan kehilangan kepercayaan, yang berujung pada pengabaian. Ketika situasinya tiba pada pengabaian maka interaksi dalam kelompok itu sudah rusak dan butuh waktu memperbaikinya. Hal yang paling mungkin untuk memperbaikinya adalah menghilangkan factor pemicunya, yaitu mengganti pimpinan atau unsur pimpinan yang melakukan penyalah gunaan wewenang.
Kerusakan futurism kelompok lazimnya ditandai dengan kaburnya atau ketidak jelasan strategi pencapaian tujuan kelompok/organisasi. Hal ini dipicu oleh hilangnya kepercayaan tim terhadap pemimpinannya, akibat kesenjangan relasi kuasa yang tidak diatur/dikendalikan dengan tepat. Akan muncul kesewenang-wenagan dalam sikap, akan muncul sikap memandang enter terhadap bawahan, bahkan bisa memunculkan pengingkaran terhadap prestasi yang dicapai oleh anggota tim.
Baca juga: Semua Manusia Pahlawan
Pada akhirnya penulis piker selalu ada potensi kesenjangan relasi kuasa dalam semua organisasi atau kelompok Masyarakat, sehingga manusia butuh kesepakatan Bersama utamanya dalam memberikan sanksi social terhadap para pelaku penyimpangan akibat kesenjangan relasi kuasa. Sebab pada idealnya seorang penguasa itu mengayomi dan pembimbing orang-orang yang ada dalam relasi kuasanya.














![[Video] Detik-Detik Ledakan Bom Katedral Makassar Gambar Ledakan Bom di Gereja Katedral Makasar](https://barakata.id/wp-content/uploads/2021/03/Gambar-Ledakan-Bom-di-Gereja-Katedral-Makasar-180x135.jpg)
![[VIDEO] Jenazah Haji Permata Tiba di Pelabuhan, Disambut Isak Tangis Warga Haji Permata](https://barakata.id/wp-content/uploads/2021/01/maxresdefault-1-180x135.jpg)









