Menyanyah Opini Munculnya Marlin Rudi Mengubah Peta Pilgub Kepri

Munculnya Marlin Rudi Mengubah Peta Pilgub Kepri

274
Robby Patria

NAMA yang jarang diperbincangkan di arena Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Pilgub Kepri) adalah nama Marlin, istri Wali Kota Batam yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai wakil gubernur. Ada nama yang disebut-sebut menjadi pilihan Marlin dan tentunya Partai NasDem untuk menjadi pendampingnya di Pilgub Kepri nanti.

Oleh: Robby Patria
Admin WAG Muslim Cendekia Kepri, mantan Ketua KPU Kota Tanjungpinang, pernah bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media massa di Kepri

Dua nama jadi alternatif yakni Ketua DPD Golkar Kepri Ansar Ahmad, Plt Gubernur Kepri Isdianto. Mengapa sosok ibu rumah tangga yang tak pernah punya jam terbang di politik Kepri berani mencalonkan dirinya dan diusung oleh Partai NasDem yang notabene pemilik enam kursi di DPRD Kepri?

Hal itu disebabkan mungkin karena Marlin istri Rudi, Wali Kota Batam yang punya nama lumayan ngetop di Batam. Bahkan hasil survei lembaga terkemuka di Indonesia, SMRC menempatkan Rudi sebagai calon dengan tingkat keterpilihan tinggi, ngetop dan sebagainya.

Jika pilkada Batam dilakukan hari ini salah pertanyaan, siapa yang Anda pilih, maka yang memilih Rudi tinggi dibandingkan dengan calon lainnya. Popularitas Rudi dari hasil SMRC menembus angka melewati angka psikologis. Di atas 70 persen.

Baca Juga :
Pilgub Kepri, Calon Independen Wajib Kantongi 122.943 Dukungan

Lantas apa hubungan dengan Rudi? Di sini bisa dikatakan, kampanye Rudi maka kampanye Marlin. Rudi tidak perlu kampanye maksimal untuk dirinya karena sudah tiga kali ikut pilkada jika dia ikut pilkada Batam. Karena sebelumnya Rudi sudah ikut pilkada menjadi wakil Ahmad Dahlan dan menang.
Tahun 2020 adalah pilkada ketiga bagi Sekretaris DPD Nasdem Kepri itu ikut pilkada. Wajar jika lebih mengoptimalkan istrinya untuk dikampanyekan.

Batam sebagai pemilih terbesar pertama di Kepri menjadikan sosok Marlin jadi pertimbangan calon dari luar Batam. Artinya, duet Batam Tanjungpinang atau Karimun Batam ternyata menjadi menarik. Karena Batam, Karimun dan Tanjungpinang sebagai komposisi pemilih terbesar di Kepri. Dan Batam mencangkup lebih dari 55 persen pemilih di Kepri.

Semakin dekat dengan masa pendaftaran di Juni 2020, maka Isdianto, Soerya Respationo, Ismeth Abdullah dan Ansar semakin banyak melakukan sosialisasi. Karena masa masa kampanye pilkada 2020 terbilang singkat tak
sampai dua bulan.

Artinya semakin cepat mendatangi pemilih, adalah pilihan terbaik. Jika menunggu setelah penetapan baru mau melakukan sosialisasi, maka disebut sebagai pengantin yang ketinggalan kereta.

Sampai di akhir Januari 2020, calon yang sudah mendekati kepastian berpasangan adalah Ismeth Abdullah dan Irwan Nasir yang kini menjadi Bupati Meranti dua periode. Namun pasangan ini belum jelas soal perahu partai. Sehingga beberapa tim intinya mulai menggunakan alternatif jalur perseorangan. Formulir minta dukungan KTP pun mulai ditebarkan di Kepri.
Mencari 120 ribu dukungan yang harus diserahkan Februari 2020 bukan perkara mudah. Artinya Ismeth dan Irwan Nasir harus berjuang maksimal mendapatkan partai. Karena pasangan sudah ditemukan. Tapi ‘kapal’ belum ada membawa ke KPU.

Sementara Ansar Ahmad dari Golkar sudah mendapatkan partai. Dengan komposisi 8 kursi di DPRD Kepri, Ansar hanya mencari satu kursi lagi untuk bisa mengusung hingga ke KPU.

Jika Ansar bergabung dengan NasDem, maka Marlin otomatis akan menjadi wakil Ansar. Dengan perolehan suara di Pemilu 2019 sangat memuaskan lebih dari 150 ribu suara, Ansar memang salah satu kandidat yang dijagokan banyak pihak memimpin Kepri.

Artinya bisa dibayangkan peta Ansar-Marlin cukup kuat. Ansar dianggap akan mendapatkan suara di Tanjungpinang, Bintan, Natuna dan Anambas. Sementara Marlin akan diupayakan mendapat dukungan dari pemilih Rudi di pilkada Batam.

Karena sebagai putri Karimun, Marlin diprediksi juga akan mendapatkan suara di Karimun. Karena suara pemilih Karimun jika Isdianto ikut pilkada maka hanya ada dua calon kelahiran Karimun yakni Isdianto dan Marlin. Pasangan ini akan akan diperhitungkan di pilkada.

Lalu apakah Ansar serius ikut pilkada Kepri?

Itulah pertanyaan yang ada di pemilih. Sanggupkah Ansar meninggalkan kursi DPR RI? Lantas apakah Ansar juga akan menyuruh anaknya atau istrinya ikut pilkada Bintan yang disebut sebut bergandengan dengan Bupati Bintan Apri Sujadi? Membayangkan ayah dan anak ikut pilkada, dan jika berpasangan dengan Marlin, tentu ini jadi kajian menarik dalam perilaku politisi Indonesia soal kekuasaan.

Samuel P Huntington dan Francis Fukuyama tentu bisa membuat kajian baru soal politik kekinian bagaimana demokrasi di Indonesia jauh berbeda dengan demokrasi Amerika Serikat. Dan demokrasi bersepadu dengan oligarki tak bisa dibanggakan seperti kedua pakar politik barat itu sebutkan dalam teori temuan mereka yang menyebutkan demokrasi saat ini adalah salah satu model terbaik untuk menciptakan kesejahteraan rakyat.

Cukuplah kajian dari Edward Aspinall, dosen politik di Australia National University (ANU), dalam “Democracy for Sale: Pemilu, Klientalisme, dan Negara di Indonesia” cukup menghentak bagaimana demokrasi di Indonesia penuh dengan transaksi jual beli suara.

Lalu bagaimana dengan Isdianto-Marlin? Pasangan ini relatif kurang menguasai di titik Tanjungpinang dan Bintan, maupun Kabupaten Anambas dan Natuna. Pasangan Isdianto Marlin jika jadi akan memaksimalkan suara di kantong kantong Batam dan Karimun.

Hitungannya jika Batam dan Karimun bisa dimaksimalkan, maka kemungkinan menang lebih besar. Karena Batam dan Karimun dengan komposisi suara hampir 700 ribu, sudah menguasai lebih dari 65 persen suara pilkada Kepri yang diprediksi 1,3 juta. Suara di Batam sekitar 500 ribu lebih dan suara di Karimun 170 ribu.

Peta akan menjadi menarik jika selama menjadi Gubernur Kepri mendatang, Isdianto melakukan kunjungan maksimal di daerah. Tentu ini akan membangkitkan citra Isdianto adalah adik almarhum Sani. Membangkitkan gairah Ayah Sani bisa jadi akan menambah daya dorong suara akan ke Isdianto jika dikelola maksimal.

Artinya, suara Isdianto Marlin juka akan kuat. Tak bisa dipandang sebelah mata. Maka, NasDem harus mencari koalisi agar ada partai mengantar pasangan ini ke KPU.

Baca Juga :
Anggaran Pilgub Kepri Capai Rp130 Miliar

Yang jadi pertanyaan berikutnya, adalah sejauh mana Rudi dan Merlin akan mampu melawan serangan negatif kampanye soal suami istri yang ikut pilkada. Karena jamak terjadi di Indonesia model seperti ini.

Dengan kulture Melayu yang kental, isu isu oligarki, politik keluarga walau bagaimanapun harus diantisipasi. Di satu sisi akan menguntungkan dalam kampanye karena hanya satu paket. Dan di sisi negatif, tentu ini akan jadi peluru yang harus dicari perisai yang kuat untuk membendung seragam kaum anti oligarki dan politik dinasti.

Dengungan di media sosial akan riuh rendah. Jika tak memiliki pasukan siber yang kuat, tentu akan jadi masalah. Pemilih milenial bisa terpengaruh soal itu.

Rudi dengan tangan dinginnya bisa mengubah peta politik di Kepri. Memang masih ada empat bulan untuk kepastian siapa yang pasti ikut ketika mereka daftar di KPU Kepri. Saat ini tentu masih diuji otak-atik, kira-kira dengan siapa yang tepat. Tentu semakin banyak calon semakin baik.

*****

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here