Home Catatan

Generasi Rebahan

Penulis: Dr. Surianto
- Analis Kebijakan Ahli Madya Ditjen Pemasyarakatan
- Lektor Manajemen Strategis PPs.ITB Nobel Indonesia-Makassar

187
Dr. Surianto
Dr. Surianto

Barakata.id, Catatan – Judul tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari Sedentarisme, yaitu sebuah kebiasaan untuk menetap dalam makna kurang gerak. Ini “salah satu” akibat dari pandemi covid-19 dengan kebijakan aktivitas dari rumah. Karena memang ada pribadi yang lebih senang rebahan ketimbang melakukan aktivitas gerak. Bahkan, ada pribadi yang sengaja menenggelamkan dirinya dalam ketidak bergunaan sebagai bentuk protes terhadap kehidupan modernitas yang makin pragmatis. Ada pribadi yang terus memilih untuk tidak berguna, dalam banyak kesempatannya untuk berguna.

Sebagai contoh penulis pilihkan Caesar Vallejo seorang penyair Peru yang meninggal di Paris 15 April 1938 dalam keadaan menggelandang (tunawisma). Vallejo punya banyak kesempatan untuk produktif, tetapi ia memilih untuk menghamburkan hidupnya dengan hanya duduk-duduk di taman kota paris, menulis puisi, dan merenungi pekerjaan dan kesibukan orang lain. Meskipun ia tidak terkenal semasa hidupnya, tetapi kemudian karya peninggalnnya mengantarkan dia diakui sebagai inovator puisi besar diabad 20. Bahkan, pada tahun 2000 Roy Andersoh seorang sutradara di Swedia mengangkat puisi Vallejo ke layar lebar dengan judul Song From the second floor, lanjut tahun 2007 dengan judul You, the living, dan tahun 2014 dengan judul A Piegeon sat on a Branch reflecting on Exiatence.

Dalam kajian populer culture (pop culture) sedentarisme ini adalah efek sosialnya. Dengan kata lain, sedentarisme merupakan akibat dari pop culture. Situasi masyarakat kita saat ini sudah sangat masif dengan keadaan demikian, di mana semua-semuanya bisa dilakukan dalam dan dari genggaman saja. Mulai dari menyelesaikan tugas-tugas kantor hingga berbelanja kebutuhan pokok, bahkan makanan.

Penulis harus akui bahwa ketersedian fasilitas teknologi memungkinkan semuanya menjadi mudah untuk dikerjakan, sekaligus menjadi peluang bisnis dalam wajah peradaban baru abad 21. Peradaban (cara hidup) ini menjadi petanda dan pembeda dari generasi dan peradaban sebelumnya. Mengutip dari tulisan John Storey dalam culture theory and populer (2021), yang menerangkan lima ciri budaya populer:

  • Pertama adalah Tren, yaitu dimana-mana ada. Baik itu bentuknya, materinya hingga waktunya. Tren ini tidak hanya pada kebendaan saja seperti merek hand phone, ikat rambut, kendaraan dan semacamnya. Tetapi juga pada ketokohan politik, bahkan tokoh agama. Tokoh agama yang sering tampil di media sosial kemudian di ikuti oleh banyak orang (follower), akan dianggap sebagai simbol ke kinian, dan orang yang tidak mengenalnya akan dianggap ketinggalan zaman. Seorang anak yang menyanyikan sebuah lagu di hadapan presiden Jokowi selepas upacara 17 Agustus 2022, menjadi ikutan banyak orang, bahkan sangat banyak orang. Dan lagu yang dinyanyikan itu menjadi sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri. Dan orang yang tidak mengetaui lagu itu akan dianggap ketinggalan zaman.
  • Kedua adalah keseragaman bentuk, yaitu ditiru oleh banyak orang, baik dalam hal kegiatan hingga pada cara dan tempat. Ketika Farel Prayoga anak 12 tahun itu menyanyikan lagu Ojo dibandingke selepas Upacara 17 san di Istana Merdeka, sangat banyak orang yang menyanyikan lagu itu. Meskipun dengan dialek masing-masing. Bukan hanya sekadar menyanyikannya, bahkan gaya kostum hingga gerak tubuhnyapun ditirukan. Tidak cukup sampai di situ, kalangan kreator menjadikannya memey dan stiker hingga berbagai bentuk simbolik kritik dengan konotasi yang sangat rumit untuk dijelaskan maknanya.
  • Ketiga adalah mampu beradaptasi (adaptabilitas), mampu untu mengikuti situasi. Misalnya Lagu ojo dibandingke yang dinyanyikan Farel itu kemudian muncul dalam berbagai media sosial dengan penggalan-penggalan yang disesuaikan dengan keadaan atau keingin dari sang pembuat. Sehingga muncullah video pendek dua laki-laki dengan seragam berbeda dengan latar syair ojo dibandingke, sementara syair sebelum dan setelahnya dibuang, demikian seterusnya. Hal yang sama juga pada berbagai peristiwa dipilih lirik yang sesuai dengan peristiwa atau pesan yang ingin disampaikan dari sang pembuatnya. Inilah bentuk adaptabilitas sebagai ciri dari pop culture yang lebih sering bertujuan untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomis, tanpa mempertimbangkan efek bagi orang lain.
  • Keempat adalah mempunyai durasi (durabilitas), yaitu tidak akan terus-menerus karena dalam waktu yang tidak lama akan muncul tren yang baru. Seenak apa pun musih, pada saatnya akan menjadi hal yang membosankan, lalu ditinggalkan. Artis yang top pada hari ini akan tiba masanya ditinggalkan oleh penggemarnya untuk menemukan yang baru. Bahkan, bisa jadi dia yang meninggalkan penggemarnya karena kematian. Makna lain dari pop dalam konotasi vocabolari Inggris, seperti busa-busa sabun yang melahirkan bulatan-bulatan balon sabun yang segera akan lenyap takkala angin meniupnya. Demikianlah duradibilitas dari pop culture, terus berganti seiring dengan bergulirnya waktu.
  • Kelima adalah mencari keuntungan (profitabilitas). Unsur ekonomi mendominasi dalam budaya pop (pop culture), sehingga tidak ada yang bertahan lama. Apa yang hari ini terkenal, hampir bisa dipastikan akan dilupakan atau ditinggalkan dalam beberapa waktu ke depan ketika nilai keekonimiannya sudah melemah. Semisal model busana, model mobil, sepeda hingga perabotan dan desain-desain interior atau eksterior, semuanya akan berganti dan ditinggalkan untuk memilih model yang baru muncul.

Pada level pop culture tidak ada yang bertahan lama, berbeda dengan high culture (kebudayaan yang adiluhung). High culture adalah budaya yang dimiliki secara terbatas pada kalangan bangsawan, atau dimaknai sebagai kebudayaan yang adhiluhung atau warisan nenek moyang sebuah bangsa. Cenderung untuk terus dipertahankan sebagai penciri atau identitas dari bangsa tersebut.

Pada akhirnya penulis tiba pada sebuah simpulan bahwa masyarakat kita dewsa ini tidak bisa menghindar dari apa yang disuguhkan pop culture yang didukung oleh media yang semakin tidak mengenal batas. Untuk mempertahankan bangsa diperlukan strategi pop culture untuk mempertahankan budaya adhiluhung (high culture) bangsa Indonesia.

Baca catatan menarik lainnya di : Catatan Dr.Surianto

Dapatkan update berita setiap hari di Barakata.id. Yok! bergabung di Grup Telegram "KATA BARAKATA", caranya klik link https://t.me/SAHABATKATA, kemudian join. Juga ikuti Barakata.id di Google Berita. Lihat selengkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin