Home Catatan

Kembali pada Makna Dasar Gotong Royong

Penulis: Dr. Surianto
- Analis Kebijakan Ahli Madya Ditjen Pemasyarakatan
- Lektor Manajemen Strategis PPs. ITB Nobel Indonesia-Makassar

67
Dr. Surianto
Dr. Surianto

Catatan – Secara esensial Gotong Royong bermakna bahu membahu mewujudkan visi bersama. Dengan demikian paradigmanya adalah hidup bersama dalam sebuah kawasan (Negara) dengan dialog, bukan konflik. Jika setiap warganya memiliki cara dan sisi pandang yang berbeda, maka mereka akan melakukan negosiasi, sehingga tidak saling mengintimidasi satu sama lainnya.

Ir. Soekarno menyatakan gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama (BPUPK-01 Juni 1945).

Pada bagian lain pemikiran Soekarno dikemukakan pancasila, disederhanakan atau dipadatkan menjadi tri sila, lalu dipadatkan lagi menjadi dwi sila, hingga ditemukan inti pada eka sila, yaitu gotong royong. (baca lengkapnya di buku Soekarno Camkan pancasila; pancasila dasar falsafah negara, Dep.Penerangan RI .1964 hal.31-32).

Ketika kita mendengar atau membaca kalimat Gotong Royong, maka yang sangat mungkin terbayangkan adalah kerja bhakti bersama, seperti membersihkan saluran air, membersihkan trotoar, dan semacamnya. Inilah makna pada kata Gotong = kerja, Royong = bersama-sama.

Jika kita berhenti pada makna kata ini saja, maka siswa yang saling menyontek saat ujian, itupun masuk kategori gotong royong. Sekelompok orang yang mengambil uang rakyat untuk kepentingan mereka, itupun bisa disebut gotong royong. Makanya kita tidak boleh berhenti pada makna pada kata itu saja, melainkan kita harus masuk kemakna esensi dari Gotong Royong itu.

Dalam tulisan Mpu Tantular yang mengisahkan kehidupan saorang pangeran Astanapura bernama Sutasoma yang menjalani kehidupan yang membosankan di istana, memutuskan meninggalkan istana untuk menemukan jati dirinya dan menjalani dharmanya selain dharma kepangeranan.

Dalam kisah pangeran Sutasoma inilah terlacak istilah bhinneka tunggal ika, yaitu bagian yang menceritakan bagaimana membedakan Shiwa-Budha.

Pangeran Sutasoma Sulit membedakan dan mengenali keduanya, karena keduanya entitas ketuhanan. Tapi dua-duanya ada dan menyatu dalam entitas ketuhanan, itulah yang kemudian disebutnya Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda tetapi satu).

Dalam perkembangan pergerakan perjuangan kemerdekaan, kisah Pangeran Sutasoma ini kelihatannya menginspirasi banyak pejuang kita, bahkan tidak berlebihan rasanya jika penulis mengatakan, bahwa pejuang kemerdekaan kita dulu menganggap kisah pangeran Sutasoma ini sebagai budaya yang adhi luhung dari komunitas yang mendiami kawasan pecahan super benua Pangea ini (Indonesia).

Sehingga dalam komunikasi para pejuang kemerdekaan, kisah ini terus diwariskan hingga ke Ir. Soekarno dan kawan-kawan, yang kemudian merusmuskannya dalam narasi yang kita catat sebagai bagian dasar filosofi ke-Indonesian kita.

Dari Bhinneka Tunggal Ika kemudian terefleksi dikehidupan sosial dan interaksinya yang tidak bisa dilepaskan dari keikutsertaan Tuhan dalam setiap aktifitas komunitas yang mendiami wilayah pecahan Pangea ini.

Dari perspektif sederhana diatas penulis melihat paling tidak ada dua sudut dimensional dari gotong royong, yaitu:

1. Bekerja Bersama

Dalam urusan apapun juga, baik itu rumah tangga maupun kemasyarakatan, dapat dikerjakan dan diselesaikan secara bersama-sama.

Masih masif kita saksikan bagaimana sekelompok orang membersihkan rumah ibadah, taman publik, tempat layanan kesehatan masyarakat, dan berbagai kegiatan lainnya yang dilakukan secara beramai-ramai.

Pada banyak kelompok masyarakat Indonesia masih sering dipublikasikan gotong royong dalam membangun rumah tinggal, membuat pasar, hingga menyukseskan acara pernikahan.

2. Memberdayakan

Gotong Royong dapat terealisasi dalam iklim kesetaraan dan kebersamaan yaitu situasi dimana  kita bisa menerima perbedaan dalam kebersamaan. Segala hal yang konotasinya kebaikan menjadi hal yang menjadikan dunia menjadi lebih baik.

Sebagai uraian contoh penulis dapat kemukakan semisal membantu masyarakat pada desa A untuk membangun saluran irigasi.

Usaha kita yang memberikan bantuan itu adalah gotong royong pada perspektif pertama yaitu bekerja bersama. Tapi ketika kita membukakan akses ekonomi, masyarakat desa A tersebut akan punya kemampuan sendiri untuk membangun irigasinya karena mereka memiliki sumber pendanaan yang cukup kuat.

Jika anda menjadi orang pintar dan tidak menjadi beban masyarakat, maka anda telah menjalankan gotong royong itu. Kondisi inilah yang penulis sebut memberdayakan yang termasuk kegiatan gotong royong pada perspektif kedua.

Dalam pembangunan bangsa Indonesia hingga dewasa ini menurut penulis terdapat logika yang perlu diperbaiki, yaitu logika memberi dan menerima.

Pemerintah dalam target kinerjanya menetapkan titik-titik sasaran dari pembangunan baik fisik maupun mental, yang dalam pelaksanaanya termuat logika “memberi masyarakat”, bahkan kalimat memberi masyarakat itu masif diucapkan oleh tidak sedikit pembesar negeri.

Sehingga tidak heran jika logika yang terbentuk kemudian adalah logika membantu dan dibantu. Logika Gotong royong bukan pada logika memberi dan menerima, tapi lebih pada logika “kerja bersama-sama pada kewajiban masing-masing”. Karena Gotong royong tidak bisa disamakan dengan memberikan sedekah.

Akibat dari logika memberi dan menerima adalah lahirnya logika yang kuat akan menindas yang lebih, rasa bangga, bahkan angkuh dari pihak yang membantu, karena kalau bukan saya maka kampung kalian tidak sebagus sekarang.

Pada sisi lain, pihak yang dibantu merasa minder dalam ketidak berdayaannya, memasrahkan keadaanya kepada pemerintah, dan bersikap passif agresif dalam menerima bantuan, bahkan kehilangan inisiatif alternatif selain mengajukan permintaan kepada pemerintah.

Kondisi ini sangat berpengaruh kepada tumbuh kembangnya kreatifitas masyarakat dalam menggagas solusi alternatif dari setiap problem, bahkan problem yang berulang dan rutin sekalipun.

Semisal problem banjir pada setiap musim penghujan. Masyarakat kemudian menjadi kelompok pasrah dan hanya bisa menyalahkan.

Sebagai uraian penutup penulis mengisahkan ulang kritik seorang pemuda kepada Ali Bin Abithalib ketika Ali menjabat sebagai khalifah (Presiden).

Sang pemuda mengkritik Ali sebagai Khalifah yang tidak baik karena dimasa kepemimpinannyalah kejayaan dan pamor Islam menurun akibat perang saudara yang tidak kunjung usai.

Pemuda menyindir Ali dengan mengatakan bahwa jaman Kehalifaan Abu Bakar dan Umar, Islam jaya, tenteran dan makmur, dijaman Khalifah Utsman mulai tidak karuan, dan dijamanmu (Ali) ini makin parah.

Mendapatkan kritikan itu, Khalifah (Presiden) Ali menanggapinya dengan mengatakan “ketika kekhalifaan Abu Bakar dan Umar, yang jadi masyarakatnya itu orang seperti saya dan Utsman. Tapi saat aku jadi khalifah, masyarakatnya itu orang sepertimu”.

Dari cuplikan kecil kisah khalifah Ali bin Abithalib itu, penulis bisa melihat bahwa kesalahan sebuah pengelolaan masyarakat tidak hanya terletak pada pemimpinya, tapi juga ada pada rakyatnya.

Jika rakyatnya baik maka akan melahirkan pemimpin yang baik pula. Mengapa demikian? Bukankah rakyatlah yang memilih mereka?

Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa Indonesia yang memegang filosofi hidup Bhinneka Tunggal Ika, sudah saatnya kembali pada makna dasar Gotong Royong yaitu bekerja bersama-sama pada kewajiban masing-masing, serta saling memberdayakan.

Dapatkan update berita setiap hari di Barakata.id. Yok! bergabung di Grup Telegram "KATA BARAKATA", caranya klik link https://t.me/SAHABATKATA, kemudian join. Juga ikuti Barakata.id di Google Berita. Lihat selengkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin