Home Warta Dunia Penelitian Terbaru, Wabah Virus Corona Pernah Terjadi 25.000 Tahun Silam

Penelitian Terbaru, Wabah Virus Corona Pernah Terjadi 25.000 Tahun Silam

84
Wabah Virus Corona
SARS-CoV-2 adalah virus corona terbaru yang menyebabkan pandemi namun bukanlah yang pertama kali terjadi.(F: NIAID-RML via ABC INDONESIA)
Himbauan Pemprov Kepri

Ikuti kami di Google Berita

Barakata.id, Dunia – Hasil penelitian menujukkan bahwa wabah virus corona yang kini melanda dunia ternyata bukanlah yang pertama kali terjadi. Di zaman purba, sekitar 25.000 tahun silam, wabah virus corona sudah pernah ‘mengamuk’ selama 20 ribu tahun lamanya.

Menurut sebuah penelitian terbaru, virus-virus corona telah menyebabkan wabah penyakit yang besar.


Di tahun 2002, virus corona sempat menjadi wabah, dikenal dengan SARS di China, menjangkiti lebih dari 8.000 orang dan 800 orang meninggal. SARS adalah singkatan dari severe acute respiratory syndrome, sindrom pernapasan yang sangat akut.

Empat tahun kemudian terjadi sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) yang juga disebabkan oleh virus corona dengan jumlah 2.400 kasus dan 850 orang meninggal. Dan sekarang dunia sedang menghadapi berbagai varian dari SARS-CoV 2, yakni virus yang menyebabkan Covid-19.

BACA JUGA : Gejala, Penyebaran, Penanganan dan Penyembuhan Covid-19

Sekelompok ilmuwan Australia dan Amerika Serikat menemukan epidemi virus corona pernah terjadi di Asia Timur 25.000 tahun lalu dan berlangsung selama 20.000 tahun. Menurut penelitian mereka yang diterbitkan di jurnal Current Biology hari Jumat (25/6/21), bukti dari adanya epidemi tersebut bisa dilihat dari genome yang dimiliki oleh warga dari kawasan Asia Timur.

“Ini menimbulkan malapetaka di kalangan penduduk di sana dan meninggalkan tanda genetis,” kata Kirill Alexandrov, pakar biologi sintetis di Queensland University of Technology (QUT).

Sejarah tercatat di gen kita Sama seperti pepohonan, gen yang kita miliki bisa menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu. Mutasi random dalam gen kita akan membuat sebagian orang lebih mudah terkena infeksi penyakit atau mengalami tingkat penyakit yang lebih parah dibandingkan yang lainnya.

Sebagai contoh, penelitian baru-baru ini menemukan mereka yang memiliki gen dari Neanderthals sekitar 50.000 tahun lalu, berisiko mengalami gejala Covid-19 yang lebih parah. Namun mutasi lain bisa berdampak sebaliknya, bahkan memberikan perlindungan ketika wabah penyakit terjadi.

“Jadi yang terjadi selama beberapa generasi adalah varian gen yang menguntungkan akan semakin berkembang,” kata peneliti lainnya, Yassine Souilmi dari University of Adelaide.
“Dan ini akan meningggalkan jejak yang sangat jelas beberapa generasi berikutnya,” sambung dia.

Namun, menurut Dr Soulimi, diperlukan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun hingga tanda tersebut muncul dalam genome warga. Dr Soulimi dan peneliti lain menduga manusia mungkin pernah berhubungan dengan virus corona sebelumnya terlihat dari genome mereka sekarang.

Sehingga kemudian mereka mempelajari genome dari ribuan orang di seluruh dunia yang tersimpan dalam bank data Proyek 1.000 Genomes. Mereka menemukan adanya tanda yang memiliki hubungan virus corona dalam genetik orang yang berasal dari Vietnam, China dan Jepang, tapi tidak ditemukan di kalangan orang lainnya.

“Setelah menemukan adanya tanda-tanda tersebut, kami menggunakan berbagai alat untuk bisa melacak kapan perubahan genetik tersebut terjadi,” kata Dr Soulimi.

“Penyesuaian itu mulai terjadi sekitar 25.000 tahun lalu,” kata dia lagi.

Penelitian Wabah Virus Corona
Kirill Alexandrov dan tim peneliti internasional menggunakan bank data genome manusia untuk menemukan bagaimana epidemi virus corona di masa lalu mengubah susunan gen kita.(F: QUT via ABC INDONESIA)

Terjadi secara berkala

Tidak saja bukti bagaimana manusia dengan virus corona bersinggungan, namun juga seberapa lama virus tersebut beredar. Para peneliti menemukan virus ini berhenti melakukan tekanan evolusi terhadap genome sekitar 5.000 tahun lalu, yang berarti epidemi ini berlangsung selama 20.000 tahun.

“Kami tidak bisa menjelaskan apakah ini terjadi secara berkala misalnya setiap musim dingin seperti flu, atau adanya virus yang secara berkala melompat dari binatang ke manusia setiap lima atau 10 tahun, seperti yang terjadi dalam 20 tahun terakhir dengan SARS, MERS, dan SARS-CoV-2,” kata Dr Souilmi.

BACA JUGA : Penelitian, Nikotin Diklaim Bisa Mencegah Infeksi Corona

Menurut dia, kemungkinan adanya satu atau beberapa virus yang berasal dari molekul yang sama. Hal ini juga didukung oleh penelitian lain yang menunjukkan keluarga virus yang menyebabkan Civid-19.

Terlepas dari itu, yang jelas dari penelitian wabah virus corona ini adalah manusia pernah mengalami wabah virus corona selama sekitar 20.000 tahun dalam satu masa dalam sejarah kehidupan kita.

“Informasi ini sangat berguna mengenai bagaimana virus menyebar dan seberapa lama bertahan,” kata Dr Souilmi.

Melacak adaptasi genetis yang terjadi bisa membantu peneliti menemukan gen mana yang memainkan peran penting dalam membantu tubuh memerangi penularan.

“Ini bisa membantu usaha mengembangkan obat dan vaksin. Namun dalam waktu bersamaan juga menjelaskan masih akan lebih banyak lagi epidemi yang akan terjadi,” katanya.

Menurut Profesor Alexandrov, kalau saja informasi ini sudah ada sebelum pandemi Covid-19 maka akan sangat membantu untuk menanganinya.

“Kita mungkin akan dalam keadaan lebih baik, sudah ada obat yang tersedia, dan mungkin sudah ada tes awal mengenai vaksin,” katanya.

“Kita tidak harus memulai dari nol.”

Menemukan obat Covid-19

Vicki Jackson, pakar statistik genetika dari Institut Penelitian Medis Walter and Eliza Hall di Melbourne sepakat jika menemukan hubungan antara gen dan virus akan membantu kita menanggulangi penyakit baru.

“Penelitian wabah virus corona ini akan membantu menemukan obat yang bisa dialihkan untuk mengobati Covid-19 atau penyakit virus corona lainnya, yang pasti akan muncul di masa depan,” kata Dr Jackson.

BACA JUGA : Long Covid, Gejala yang Dialami Meski Sudah Negatif Covid-19

Tapi ia menekankan faktor lain, seperti akses terhadap layanan kesehatan dan mengikuti petunjuk kesehatan akan lebih bermanfaaat dibandingkan faktor genetik ketika kita sakit.

“Hal seperti apa yang dilakukan seseorang, riwayat kesehatan, masalah sosial ekonomi akan lebih berpengaruh dalam risiko seseorang jatuh sakit,” katanya.

Dr Souilmi melanjutkan, sejauh ini belum bisa diketahui seberapa besar faktor genetik berpengaruh pada ketularan penyakit. Namun, ia mengatakan faktor seperti menjaga jarak, penggunaan masker dan pelacakan kasus memang lebih penting.

Meski wabah virus corona di zaman purba berlangsung selama 20.000 tahun, Dr Souilmi mengatakan hal tersebut tidaklah mengerikan seperti kedengarannya.

“Kita tidak memiliki pengetahuan soal medis ketika itu, tidak ada kebijakan kesehatan publik, vaksin dan respons terkoordinasi untuk menangani epidemi,” katanya.

“Bukti kita bisa mengendalikan virus terjadi saat flu Spanyol serta epidemi Ebola,” pungkasnya.

*****

Sumber : Kompas.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin