Viralnya OK Boomer, Sindiran Gen Z untuk Generasi Kolot

34
Anggota parlemen Selandia Baru, Chloe Swarbrick menggunakan kalimat OK Boomer untuk membalas politisi lain yang mengejeknya ketika berpidato tentang perubahan iklim. (F: ABCNews.com)

Barakata.id, Batam – Belakangan ini dunia maya dijejali oleh kalimat “OK Boomer” yang lantas menjadi viral. Apa sebenarnya OK Boomer itu, dan dari mana asal usulnya?

Mengutip CNN, kalimat OK Boomer viral usai anggota parlemen Selandia Baru, Chloe Swarbrick yang masih berusia 25 tahun menggunakan kalimat tersebut saat ia membalas politisi lain yang mengejeknya ketika berpidato tentang perubahan iklim.

Pernyataannya yang satir itu terekam dalam video yang kemudian populer dijadikan meme bertema pandangan orang tua yang kolot kepada anak muda.

“Ini adalah bentuk jawaban singkat dan sederhana namun tidak agresif dari Generasi Z kepada Baby Boomer yang sering tidak mau mendengarkan anak muda,” jelas Nina Kasman (18 tahun), yang menjual barang bertuliskan “OK boomer”.

Baca Juga : Bella Hadid, Wanita Tercantik di Dunia dengan Nilai 94,35 Persen

‘OK boomer’ menjadi jawaban Gen Z dari kalimat ‘snowflakes’ yang selama ini sering diutarakan oleh Baby Boomer kepada Gen Z.

‘Boomer’ adalah singkatan untuk Baby Boomer, istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang yang lahir setelah Perang Dunia II. Ini umumnya berarti siapa pun yang lahir antara tahun 1946 dan pertengahan 1960-an ketika Amerika Serikat menikmati kemakmuran yang cukup besar.

Tetapi ‘OK boomer’ menyindir pola pikir tertentu, tidak secara spesifik kelompok umur, kata Kasmandari Northern Illinois University.

“Orang-orang yang lebih tua yang berjuang untuk kelestarian lingkungan – orang-orang itu belum tentu ‘boomer’ dalam konteks ini,” katanya.

Generasi Z secara kasar merujuk pada mereka yang lahir setelah 1997.

Generasi Millennial, juga dikenal sebagai Generasi Y, menggambarkan kelompok yang datang sebelumnya – mereka yang lahir sekitar tahun 1981 dan 1996.

Kedua generasi ini sering merasa bahwa kehidupan mereka jauh lebih sulit dibandingkan kaum Baby Boomer, yang sempat merasakan pendidikan murah, kemudahan mencari pekerjaan, sampai alam yang masih asri.

Generasi Z – yang menjadi era aktivis iklim Greta Thunberg – telah menggelar protes lingkungan besar-besaran di seluruh dunia kepada orang-orang dewasa untuk bertindak menyelamatkan bumi bagi generasi mendatang.

Thunberg sering menuduh orang tua memilih untuk mengabaikan para ilmuwan yang sebagian besar setuju bahwa pemanasan akibat perbuatan manusia mengarah pada keadaan darurat iklim.

Bertahan sampai kapan?

Aktor Star Trek William Shatner (88) yang bukan seorang boomer, menyebut ‘OK boomer’ sebagai “penghinaan kekanak-kanakan” setelah pengguna Twitter mengarahkan kalimat tersebut kepadanya.

Pembawa acara radio Amerika Bob Lonsberry dikecam keras setelah ia membandingkan “boomer” dengan cercaan rasial.

Pria 60 tahun itu mengatakan itu adalah “kata-kata penghinaan umur” dalam cuitan yang telah dihapusnya.

“Wajar bagi generasi untuk memiliki konflik. Tapi kami memiliki masalah yang lebih serius di masyarakat kita saat ini: meningkatnya ketidaksetaraan ekonomi dan perubahan iklim – dua hal ini adalah ancaman eksistensial,” kata sosiolog Cornell University dan Baby Boomer, Thomas Hirschl.

Sementara itu, baik Solares dan Kasman ingin sekali mengkomersialkan barang dagang ‘OK boomer’ di pasar online Redbubble yang berkisar dari kaos dan hoodies ke botol air, stiker dan kaus kaki.

Baca Juga : Rage Against The Machine Reuni 2020, Dunia Menunggu 8 Tahun

Solares telah menghasilkan sekitar US$50 sejak meluncurkan produknya dua minggu lalu, tetapi berharap dapat menghasilkan lebih banyak untuk membantu membayar uang kuliah.

Bagi Kasman, viralnya ‘OK boomer’ lebih tentang sebuah bagian dari suatu gerakan dan “mengambil kembali kekuatan” untuk generasinya.

Tapi apakah kalimat itu akan bertahan lama?

“Sangat sering ketika organisasi media besar mendapatkan kalimat viral baru, yang kemudian dipopulerkan, lalu mengenggelamkan kalimat tersebut!” kata ahli bahasa dan ahli kamus Ben Zimmer mengatakan kepada AFP.

*****

Sumber : CNN Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here