Home Warta Nusantara

Vaksin Covid-19 Buatan Pfizer dan BioNTech Sulit Didistribusikan di Indonesia, Ini Masalahnya

26
Ilustrasi. Vaksin Covid-19 buatan Pfizer sulit untuk didistribusikan di Indonesia. F:cnnindoneaia.com

Barakata.id, Jakarta- Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menyatakan vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan BioNTech akan sulit didistribusikan di seluruh wilayah Indonesia. Dia mengatakan vaksin asal perusahaan Amerika Serikat (AS) itu memerlukan alat penyimpanan yang spesifik dengan suhu tertentu.

“Karena memerlukan rantai dingin yang spesifik maka akan ada keterbatasan distribusi,” ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/12).

Baca juga: 

Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech diketahui harus disimpan pada suhu minus 70 derajat Celsius.

Dengan kondisi itu, Ahmad menyebut orang yang ada di pelosok atau daerah terpencil kemungkinan harus mendatangi lokasi vaksinasi vaksin Pfizer-BioNTech yang telah ditentukan untuk vaksinasi.

Lokasi yang menjadi tempat vaksinasi, kata dia kemungkinan fasilitas yang memiliki freezer ultra-suhu rendah.

Lebih lanjut, Ahmad menyampaikan rumitnya pendistribusian vaksin Pfizer-BioNTech juga akan bertentangan dengan upaya pemerintah menekan penularan. Sebab, orang akan melakukan bepergian ke wilayah tertentu untuk mendapat vaksin Covid-19 itu.

Baca juga: 

Terkait dengan itu, Ahmad menyebut perlunya pembuatan kriteria orang yang bisa mendapat vaksin itu. Hal itu dilakukan mengingat ketersediaan rantai dingin yang terbatas.

Dia pun menambahkan bahwa vaksin corona Pfizer-BioNTech tidak akan efektif mencegah penularan Covid-19 jika tidak disimpan dalam suhu yang ditentukan.

“Apabila vaksin rusak ya dampaknya akan kehilangan efektifitasnya,” ujar Ahmad.

Sebelumnya, Inggris menjadi negara pertama yang akan menyuntikkan vaksin corona Pfizer ke warganya. Menyusul setelah Inggris adalah Kanada, Israel hingga Bahrain.

Sementara pemerintah melalui Badan POM akan melakukan evaluasi terhadap data uji klinik yang sedang dilaksanakan untuk membuktikan keamanan dan khasiat vaksin COVID-19 yang sudah tiba di Indonesia. Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) diharapkan mengawal aspek kehalalannya.

“Proses evaluasi yang dijalankan Badan POM menggunakan standar yang merujuk kepada standar Internasional seperti WHO, US FDA dan EMA,” jelas Kepala Badan POM, Dr. Ir. Penny K. Lukito, dalam keterangan tertulis, dikutip detik.com, Rabu (9/12/2020).

Baca juga:

Hal itu diungkapkannya dalam Keterangan Pers ‘Tindak Lanjut Kedatangan Vaksin COVID-19: Kebijakan Lanjutan, Uji Mutu, dan Kedisiplinan Protokol Kesehatan’ di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Senin (7/12).

Ia menjelaskan Tim Badan POM telah mengambil sampel vaksin untuk pengujian mutu di laboratorium P3OMN. Pengujian sampel ini perlu dilakukan untuk penerbitan lot release (pelulusan batch/lot).

Beberapa parameter untuk lot release termasuk uji potensi, uji kadar antigen, uji toksisitas abnormal dan uji endotoksin. Tujuan pengujian ini adalah untuk memastikan bahwa vaksin mempunyai mutu yang sesuai dengan persyaratan.

Dikatakan Penny, Badan POM bersama dengan Komite Nasional Penilai Obat, ITAGI dan para pakar akan melakukan evaluasi untuk mendapatkan hasil keputusan persetujuan penggunaan vaksin, dengan pertimbangan kemanfaatan yang jauh lebih besar dari risiko yang ditimbulkan. Pengawalan keamanan vaksin ini ditegaskan Penny tetap dilakukan meskipun vaksin telah digunakan.

Baca juga: 

“Ketika vaksin ini mulai digunakan dalam program vaksinasi COVID-19 pada waktu yang ditetapkan oleh pemerintah, Badan POM sesuai dengan tugas dan fungsinya, akan tetap dan terus mengawal khasiat, keamanan dan mutu vaksin dalam peredaran,” ujarnya.

*****

Editor: Ali Mhd

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin