Home Warta Ekonomi

UMKM Bertahan Hidup di Tengah Pandemi

49
UMKM
Forum Grup Diskusi menghadirkan berbagai kalangan dari Baznas, Dompet Dhuafa maupun perwakilan Kementerian Koperasi dan UKM serta pelaku usaha UMKM, Kamis (13/8/2020). (foto: Dompet Dhuafa)

Barakata.id, JAKARTA – Pemerintah mencatat ada ratusan ribu usaha kecil dan menengah yang terdampak pandemi virus corona bahkan 40 persen gulung tikar. Diberikan insentif pajak, kelonggaran kredit, perluasan pasar hingga dibantu lembaga zakat.

Di tengah pandemi Covid-19 menjadi momok menurunnya tingkat ekonomi masyarakat, salah satunya pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Potensi ekonomi anjlok pada sektor UMKM cukup besar.

“Paling tidak 40% UMKM di Indonesia berhenti beroperasi dikarenakan pandemi,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki baru-baru ini.

UMKM menyumbang 60% Produk Domestik Bruto (PDB) dan 97% pelaku usaha di Indonesia diserap oleh UMKM. “Gerakan memperbaiki perekonomian negara semestinya dimulai dengan memperbaiki sektor UMKM,” sambung Teten.

Perwakilan Kementerian Koperasi dan UKM, Riyana, mencatat kondisi UMKM terdampak Covid-19 melalui data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia mencapai 235.938 usaha per 29 Juni 2020.

Terdapat tiga permasalahan utama yang dihadapi mereka yang terdiri dari permintaan menurun sebanyak (22,90%), distribusi terhambat (20.01%) hingga permodalan sebanyak (19,93%).

Di sisi lain ada tiga sektor usaha paling terdampak yakni pedagang besar dan eceran sebanyak (40,92%), penyedia akomodasi dan makan minum sebanyak (26,86%) dan industri pengolahan sebanyak (14,25%).

Riyana memaparkan data itu dalam Forum Grup Diskusi yang menghadirkan berbagai kalangan dari Baznas, Dompet Dhuafa maupun perwakilan Kementerian Koperasi dan UKM serta pelaku usaha UMKM Kamis (13/8/2020).

Riyana melanjutkan, upaya Kementerian Koperasi dan UKM mengatasi dampak UMKM terhadap Covid-19 melalui 3 fase.

Fase pandemi, UMKM bertahan maka upaya pemeritah melakukan insentif pajak. Bila UMKM menurun maka langkah pemerintah memberikan relaksasi dan restrukturisasi kredit, perluasan pembiayaan dan digitalisasi hingga offtaker.

“Sementara bila UMKM bangkrut maka pemerintah mengambil langkah bantuan langsung tunai (BLT) berbasis data by name by adress,” tutur Riyana.

Baca Juga: UMKM Siap-Siap, Bantuan Rp2,4 Juta Segera Dikirim

Sementara pada fase new normal saat ini langkah pemerintah yakni aktivasi usaha sesuai protokol Covid-19, melakukan literasi digital kepada UMKM melalui berbagai kanal media dan kegiatan yang mudah di akses agar dapat menjangkau UMKM seluas mungkin, pelatihan dan pendampingan bersinergi dengan berbagai pihak serta on board online. Sehingga pada fase keberlanjutan maka pemerintah akan melakukan standarisasi global, pelibatan BUMN sebagai offtaker, laman UMKM di LKPP, Komunitas lokal berbasis aplikasi atau marketplace. Perluasan belanja di warung tetangga di seluruh Indonesia hingga cashless payment (QRIS).

“Saat ini masih banyak sektor UMKM yang sulit bergerak dalam upaya peningkatan ekonomi meski di tengah pandemi Covid-19,” ungkap Sri Mulyati, pedagang sayur di Pasar Caruban dalam forum itu.

Menurut dia, salah satu faktor adalah sepinya pembeli dan berkurangnya masyarakat dalam bertransaksi langsung seperti di Pasar. Sri, sudah enam tahun usaha dengan Omzet 300.000 perhari tapi sekarang menjadi 150.000 perhari saat Covid-19,

“Kulakan sayur murah dan stok banyak tapi sepi pembeli, ayo dong pembeli ke pasar lagi, ramaikan pasar seperti sebelum Covid-19,” sambung Sri.

Saat tim PBMT melakukan survei dan kunjungan ke beberapa pasar, begitu juga di rasakan Tatang Wahyu, 30 Tahun usaha di Pasar Simpang Bandung, omzet 3.600.000 perhari menjadi 500.000 perhari selama Covid-19.

“Pedagang perlu modal dan bantuan dari pemerintah agar tetap bisa berjualan. Karena pendapatan sekarang hanya cukup untuk kebutuhan pokok,” ujar Tatang.

“Dari kesimpulan bahwa berkurangnya kunjungan masyarakat ke pasar dapat menurunkan ekonomi UMKM sebesar 70%,” ujar Rury PBMT.

Organisasi pengelola zakat mempunyai peran yang cukup besar dalam menggerakan kembali UMKM. Masuk di era normal baru maka saat yang tepat bagi UMKM bangkit dan berdaya dari anjloknya ekonomi di saat pandemi Covid-19.

Peran organisasi zakat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kebangkitan sektor UMKM, melalui peran zakat produktif yang disalurkan ke berbagai program yang bergulir maupun keikutsertaan para mitra organisasi zakat dalam mendorong geliat UMKM, diyakini dapat menghidupkan kembali roda ekonomi UMKM,” ujar Udhi Tri Kurniawan selaku General Manager Pengembangan Zakat Dompet Dhuafa.

Pengelolaan zakat produktif perlu ditingkatkan karena banyak potensi atau pun keuntungan yang akan didapatkan kedepannya tentunya dengan memperhatikan kearifan lokal atau pun kondisi lingkungan masyarakat dengan membuat klaster atau pun kelompok-kelompok masyarakat yang dapat diberdayakan.

“Dompet Dhuafa melalui pengelolaan program seperti angklung dan hanjeli memberikan contoh pendayagunaan zakat produktif yang dapat dimaksimalkan oleh Organisasi Pengelolaan Zakat (OPZ). Diharapkan dengan adanya pendayagunaan zakat produktif dapat mendorong UMKM berkembang ditengah pandemi Covid-19,” Udhi Tri Kurniawan.

Baca Juga: 1.900 UMKM di Batam Terdampak Covid-19, Omset Turun Drastis

Arifin Purwakananta selaku Baznas mengutarakan Baznas telah mempetakan risiko sektor mikro dan intervensi kebijakan di tengah wabah Covid-19 dengan mengajak peran serta pemerintah RI. Baznas serta LAZ dalam pembuatan kebijakan, seperti risiko naiknya ongkos produksi maka bentuk intervensi berupa penguatan modal, adapula risiko gagal bayar kredit atau pinjaman dengan bentuk intervensi relaksasi jatuh tempo kredit atau pinjaman.

“Bahkan risiko menurunya jumlah pembeli maka bentuk intervensi dengan pembukaan akses ke dalam pasar dan yang terkahir yaitu risiko yang dihadapi terpapar Covid-19 dengan membentuk intervensi penyuluhan dan pemberian perlindungan asuransi,” papar Arifin.

Editor: Gunawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin