
Penguji UKJ, Hasudungan Sirait mengatakan UKJ di Batam menarik sekaligus istimewa sebab kali pertama ujian dengan pendekatan digital langsung dilakukan oleh AJI.
“Pelaksanaan pada hari pertama cukup lancar, dalam arti proses itu berjalan sesuai dengan desainnya,” ujarnya.
Menurut dia, para peserta juga antusias sejak sesi pertama sampai sesi pamungkas hingga pukul 19.30 WIB. Soal-soal yang diujikan berupa penggalian wawasan dan juga pengalaman para peserta sebagai jurnalis.
Baca Juga:
Sebagai prototipe, kata dia, UKJ sistem semi hybrid ini berjalan sukses bahkan jauh dari yang pihaknya bayangkan.
“Tentunya, terlaksana dari sinergi dari kawan-kawan panitia AJI Batam, AJI Indonesia, dan juga penguji dari daerah lain,” kata dia.
Menurutnya, bagaimanapun UKJ ini hanya ujian. Para peserta yang dinyatakan lulus, belum tentu pula sudah sempurna sebagai seorang jurnalis.
“Karena ujian sesungguhnya adalah apa yang akan mereka lakukan seusai perhelatan UKJ ini. Walau nilai para peserta tinggi-tinggi, kalau mereka melanggar kode etik itu dengan sendirinya bisa dikatakan gagal,” kata dia.
Hasudungan menjelaskan, ujian bagi jurnalis sebenarnya adalah pasca-UKJ, dan itu berlangsung lama. Oleh karena itu, UKJ ini tidak sekali jalan. Layaknya surat mengemudi, UKJ pun idealnya ada masa berlakunya.
Karena ujiannya seumur hidup, sekali seorang jurnalis melakukan pelanggaran maka harus dievaluasi kembali dan diberi sanksi.
Sebaliknya, kalau seorang jurnalis berjalan di jalan yang benar, maka apa yang diujikan pada UKJ membuatnya dinyatakan kompeten.

Bidang Pendidikan AJI Edy Can, mengatakan sudah hampir 2 tahun AJI berniat menggelar UKJ tetapi terkendala oleh pandemi Covid-19.
Selama hampir 2 tahun itu pula, AJI terus berusaha melakukan terobosan menggelar UKJ, yakni menggunakan Learning Management System (LMS).
“Saya melihat ada banyak kekurangan, tetapi saya juga melihat sistem LMS ini bahkan bisa dioperasikan oleh komputer model lama. Sehingga tidak ada kendala berarti sejauh didukung oleh jaringan internet yang memadai,” katanya.
Dia menyampaikan, dengan banyaknya kegiatan yang ada di AJI, maka sistem LMS yang digunakan saat UKJ bisa juga dipakai untuk kegiatan lainnya.
Sementara, Ketua AJI Batam Slamet Widodo, bangga karena telah ambil peran sebagai salah satu pelopor era baru UKJ.
“Kalaupun ada kekurangan, bakal jadi evaluasi untuk perbaikan-perbaikan di berbagai tempat yang dilaksanakan AJI di berbagai kota lainnya,” kata dia. (asrul)