Home Warta Dunia

Tidak Ada Lebaran di Gaza, Kami Hidup di Tengah Bom

Warga Palestina Meninggal
Pemakaman warga Palestina yang meninggal akibat serangan Israel. Foto: GETTY IMAGES

Barakata.id, Gaza – Di saat umat muslim di belahan dunia lain sedang bersuka-ria menyambut datangnya Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah, orang-orang di Gaza hidup dalam ketakutan. Tak ada tempat perlindungan yang pasti di sana, semua penuh ancaman.

Warga di Yerusalem dan Gaza mengatakan, mereka harus selalu waspada, harus bersiap-siap atas memburuknya kondisi di tengah terus berlanjutnya saling serang antara kelompok Palestina dan tentara Israel.

Jumlah korban tewas akibat serangan udara Israel ke Palestina terus bertambah. Kementerian Kesehatan Jalur Gaza mengatakan 43 orang tewas di wilayah itu sejak Senin.

BACA JUGA : Sibuk Serang Gaza, Israel Dilanda Perang Saudara

Israel melakukan ratusan serangan udara di Gaza pada hari Rabu (12/5/21) dan militan Palestina membalas dengan menembakkan beberapa serangan roket ke Tel Aviv dan kota selatan Beersheba. Di pihak Israel, enam orang tewas.

Ini adalah kekerasan terburuk sejak 2018.

Hamas – yang menguasai Gaza – mengatakan, mereka melakukan serangan untuk mempertahankan masjid al-Aqsa dari “agresi dan terorisme Israel” setelah terjadi bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina Senin (3/5/21) lalu yang menyebabkan ratusan orang terluka. Menurut Hamas, mereka telah meluncurkan ratusan roket ke arah Yerusalem dan area lain.

Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Gaza, Husen, mengatakan “tak ada Lebaran bagi kami” tahun ini di tengah dentuman bom.

“Yang pasti tampaknya tahun ini tak ada Lebaran di Gaza. Warga Palestina terpaksa menerima kondisi ini.” kata Husen, aktivis kemanusiaan dan wartawan yang pernah merasakan tiga kali agresi militer Israel.

Namun ia mengatakan dengan eskalasi ini dunia mulai membuka matanya terhadap warga Palestina.

“Ini sangat menyedihkan, warga Gaza harus berdarah dulu, harus agresi dulu, baru dunia mau melihat warga Palestina,” kata Husen.

Serangan udara Israel menghancurkan beberapa rumah di Gaza. (F: GETTY IMAGES)

Ia memperkirakan agresi akan berlanjut setelah menteri pertahanan Israel mengatakan akan mengerahkan 5.000 tentara cadangan.

Husen juga mengatakan warga bisa meninggal di mana saja karena “Gaza tak punya bungker, sementara di Israel sana ada tempat perlindungan, jadi warga di sini bisa “meninggal di rumah atau di mana mereka berada” karena hantaman rudal.

Fady Hanona, seorang wartawan di Kota Gaza, dalam cuitan videonya menunjukkan ledakan demi ledakan di Gaza pada Rabu (12/5/21) pagi waktu setempat.

“Apa yang terjadi tak bisa dipercaya,” katanya. “Apa yang kami alami pagi ini lebih seperti perang dibandingkan dari tiga perang yang pernah kami alami sebelumnya.”

BACA JUGA : Umat Yahudi di Jerman Diminta Tak Pakai Peci di Tempat Umum

Gaza tak pernah mengalami kondisi seperti ini dalam beberapa tahun terakhir. Tapi kota yang padat penduduk ini, tahu persis bagaimana rasanya hidup dalam kondisi perang.

Jalan utama yang merupakan pusat perbelanjaan terlihat kosong, hanya beberapa orang yang belanja. Sebagian besar toko di Gaza tutup menjelang Lebaran Idul Fitri.

Pengeboman tak mereda dan suara roket Palestina dan serangan udara Israel bergaung di seluruh wilayah pada Selasa (11/5/21) pagi.

Anak-anak kami ketakutan, tak ada tempat yang aman

Beberapa meter dari gedung perkantoran di Gaza, ledakan besar berdentum dan kepulan asap terlihat setelah serangan udara Israel menghantam gedung apartemen yang ditempati ratusan orang. Serangan itu menyebabkan tewasnya dua pemimpin jihad militer kelompok Islamis yang bersembunyi di gedung itu.

“Ini terorisme Israel, kami warga sipil tak bersalah. Anak-anak saya ketakutan, mereka tak mau pulang lagi karena takut terkena serangan udara,” teriak seorang perempuan, yang menggendong anaknya saat menyelamatkan diri dari gedung.

Penampakan sistem anti-rudal Iron Dome Israel saat mencegat roket yang diluncurkan militan Hamas dari Jalur Gaza menuju Israel yang terlihat dari Ashkelon, Israel, Selasa (11/5/21). Hamas telah menembakkan 130 roket ke Tel Aviv, Israel. Foto: REUTERS/Nir Elias

Sejak saling serang terjadi, warga banyak yang bersembunyi di rumah-rumah mereka agar terhindar dari pengeboman. Namun di Gaza tak ada tempat untuk berlindung atau sirene sebagai petanda serangan udara. Jadi penduduk tak punya pilihan lain kecuali bersembunyi di dalam rumah.

“Kami tak tahu berapa lama konflik ini akan berlangsung. Tampaknya eskalasi akan berlanjut,” kata seorang warga, Sherin Emadadein.

“Saya ibu empat anak, kami tinggal di apartemen tujuh tingkat. Tak ada gedung bawah tanah, saya tidak tahu kemana melarikan diri bila gedung kami dibom.”

Sherin berbicara dengan saya melalui telepon saat ia membeli makanan dari satu-satunya toko yang buka di daerah Gaza barat untuk merayakan Lebaran.

“Saya harusnya membeli cokelat dan makanan lain untuk merayakan Idul Fitri, namun kini kami tak tahu berapa lama konflik berlangsung dan saya hanya bisa membeli keperluan pokok,” katanya.

Kota Ashkelon di Israel selatan adalah wilayah yang menjadi sasaran terberat serangan roket dari Gaza. Kelompok sayap Hamas memperingatkan mereka akan membuat kehidupan di sana laksana “neraka” bagi penduduk setempat.

Suara derung sirene secara konstan membuat warga berlarian untuk berlindung.

Di udara, terdengar dentuman keras dan kepulan asap putih di langit biru. Sistem pertahanan Israel, Iron Dome menangkal sebagian besar roket yang diluncurkan dari Gaza, tak jauh dari kota itu.

Namun, sejumlah gedung terhantam. Dua perempuan meninggal, puluhan dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat. Banyak orang memperkirakan saling serang akan berlangsung lama.

Salah seorang perempuan bercerita momen menakutkan saat salah satu roket menghantam rumahnya dan ia bersembunyi di lemari. Banyak yang bersiap akan terjadi saling serang lebih lanjut dalam beberapa hari ke depan.

“Ini akan terjadi terus, kekerasan seperti ini,” kata salah seorang warga di kota itu, Yossi Asulin.

“Ada yang terbunuh. Orang di sini ingin masalah (dengan Hamas) segera diselesaikan,” katanya.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi. (F: Dok. Kemenlu)

Indonesia desak PBB hentikan kekerasan di Gaza

Dari Indonesia, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menyampaikan bahwa Indonesia mengecam ketegangan yang meluas antara Palestina dan Israel beberapa jam terakhir. Hal tersebut menyusul adanya aksi saling serang antara kedua negara, terutama di jalur Gaza, sejak Selasa kemarin.

Retno menegaskan kalau pertempuran Palestina dan Israel tak boleh terus dibiarkan. Puluhan warga sipil, sudah menjadi korban dari aksi tersebut.

BACA JUGA : Duh, Google Hapus Negara Palestina dari Google Maps

Oleh karena itu, lanjut Retno, mengatakan Indonesia akan terus mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil sikap tegas soal ketegangan yang ada.

“Kami terus mendesak agar DK PBB dapat mengambil langkah nyata, menghentikan seluruh kekerasan, dan menghadirkan keadilan dan perlindungan bagi Palestina,” ujar Retno, Rabu (12/5/21).

Retno melanjutkan bahwa Indonesia juga akan meminta bantuan kepada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan Gerakan Non Blok (GNB) untuk mengambil langkah soal Palestina dan Israel. Ada kekhawatiran ketegangan Palestina dan Israel berkembang ke arah yang tidak diharapkan jika tak segera direspon.

Adapun Retno menegaskan bahwa Indonesia akan terus bersama rakyat dan bangsa Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya. Ia berkata, sudah terlalu lama hak-hak bangsa dan rakyat Palestina digerogoti oleh Israel.

“Indonesia terus berusaha semaksimal mungkin di semua lini, termasuk di Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestine. Itu adalah komite yang memiliki mandat memperjuangkan hak-hak Palestina termasuk hak kemerdekaan Palestina,” tegas dia.

*****

Editor : YB Trisna

Sumber : BBC INDONESIA/TEMPO

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin