Warta Kepulauan Riau Saling Sindir Wali Kota Rudi dan Anak Soerya Soal Operasi Pasar Gas...

Saling Sindir Wali Kota Rudi dan Anak Soerya Soal Operasi Pasar Gas Elpiji 3 Kg

425
Operasi pasar gas elpiji 3 kg yang digelar Disperindag Kota Batam di Kecamatan Batuaji. (F: Humas Pemko Batam)

Barakata.id, Batam – Sejak sepekan terakhir, masyarakat Batam dipusingkan dengan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg). Operasi pasar yang digelar Pemko Batam malah berujung saling sindir antara Muhammad Rudi dengan Putra Yustisi Respaty.

Muhammad Rudi saat ini menjabat sebagai Wali Kota Batam. Sedangkan Putra merupakan anggota Komisi II DPRD Batam.

Adalah Putra yang pertama kali membuka sindiran terkait operasi pasar gas melon itu. Ia menuding operasi pasar yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam itu sangat kental dengan nuansa politis.

Baca Juga : Harga BBM Naik 30 Agustus, Pertamina Sebut Itu Hoax

Pasalnya, salah satu lokasi pelaksanaan operasi pasar itu yakni di Kecamatan Batuaji, berada dekat atau berdampingan langsung dengan gedung yang di depannya terpampang baliho bergambarkan wajah Rudi. Gedung itu ternyata Posko Pemenangan yang dibentuk relawan Rudi.

Semua warga Batam tahu, Rudi adalah salah satu kandidat peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 nanti. Ada dua kemungkinan, Rudi akan bertarung di Pilkada Batam atau naik ke gelanggang Pilkada Gubernur Kepulauan Riau (Kepri).

“Miris, melihat operasi pasar gas elpiji 3 kg di Batuaji ini, sangat kental nuansa politisnya,” ujar Putra, di Batam Centre, Batam, Jumat (22/11/19) seperti dilansir dari Tribun Batam.

Putra Yustisi Respaty

Putra Respaty menyayangkan pemilihan lokasi operasi pasar yang dekat posko pemenangan salah satu kandidat peserta pilkada. Bukan karena posko itu adalah posko pemenangan Rudi, menurut Putra, lokasi operasi pasar harus dijauhkan dari posko-posko tokoh politik atau kandidat peserta pilkada lainnya.

“Kalau berdekatan begitu, pastilah menimbulkan kesan lain,” ujar anak Soerya Respationo, mantan Wakil Gubernur Kepri itu.

Ia meminta kepada pihak terkait untuk memperhatikan hal-hal tersebut, sehingga kesan tersebut jangan sampai terulang lagi. Mengingat saat ini suasana perpolitikan di Kota Batam dan Provinsi Kepri tengah menghangat.

“Kalau namanya operasi pasar, ya  operasi pasar saja. Jangan memancing di air keruh ataupun memanfaatkan momen untuk mencari simpati. Bertarunglah secara jujur dan ‘jantan’, jangan seperti itu,” kata legislator dari PDIP ini.

Sehari setelah pernyataan Putra tersebut, Rudi pun membalasnya. Menurut dia, tidak ada masyarakat yang menilai lokasi operasi pasar yang berdekatan dengan posko pemenangannya sebagai masalah.

Bahkan Rudi menyebut, anggota dewan yang mengaitkan operasi pasar gas elpiji 3 kg itu dengan politik, tidak termasuk kategori masyarakat.

“Tak ada masyarakat menilai, tak ada masyarakat Kota Batam yang menilai, bukan masyarakat itu (anggota DPRD Kota Batam),” ujarnya.

Rudi pun mempersilakan kepada siapa saja, untuk memasang spanduk di sekitar tempat yang menjadi perbincangan tersebut.

“Kalau nanti ada calon mau pasang di situ silakan saja, saya tidak ada pengaruh,” ucap Rudi.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi

Rudi menyatakan, hal itu tidak berpengaruh karena warga Kota Batam sudah mengenali dirinya.

“Coba ditanya satu Kota Batam kenal tak dengan Haji Muhammad Rudi? Saya kira seratus persen kenal, kecuali orang baru datang,” katanya.

“Orang pasti akan melihat kinerja,” sambung Rudi.

Operasi pasar gas melon

Sebagian besar pengguna gas melon di Batam belakangan ini mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas untuk kebutuhan memasak. Kalaupun ada, harganya sudah melambung, jauh dari harga pangkalan.

Pada Kamis (21/11/19), Disperindag Batam bersama Pertamina melaksanakan operasi pasar gas elpiji 3 kg di dua tempat, yakni di lapangan Usman Harun, depan kantor Lurah Tanjungpiayu, Kecamatan Seibeduk pukul 09.00 WIB.

Di waktu yang sama, operasi juga digelar di halaman kantor Camat Bengkong.

Sehari sebelumnya, Rabu (19/11/19), operasi pasar gas elpiji 3 kg juga digelar di Kelurahan Buliang, Kecamatan Batuaji, persisnya di Ruko Batuaji Centre Pemda II.

Operasi pasar itu disambut antusias warga. Sejak dibuka pukul 09.00 WIB, lokasi sudah dipadati warga yang ingin mendapatkan gas melon tersebut.

Di satu lokasi, Disperindag menyiapkan sedikitnya 560 tabung untuk dijual kepada masyarakat.

Kabid Perindustrian dan SDM Disperindag Kota Batam, Januar Arif Kurniawan, mengatakan, berdasarkan hasil operasi pasar di beberapa tempat, isu kelangkaan gas melon tak sepenuhnya benar.

“Isu kelangkaan selama ini mungkin kepanikan saja saat datangi pangkalan kebetulan pula habis stok di pangkalan tersebut,” kata dia, dikutip dari Batampos.

“Yang lain jadi ikut-ikutan sehingga terjadi panic buying. Satu rumah yang seharusnya beli satu tabung jadi nyetok dua sampai tiga tabung,” sambungnya.

Menurut dia, jikapun benar ada kelangkaan gas elpiji 3 kg, persoalan bisa saja terjadi di pangkalan. Pangkalan bisa saja bermain dengan pedagang eceran demi keuntungan yang lebih.

“Kalau bermasalah bisa saja pangkalan ke bawah. Ini akan kami cros cek,” ujarnya.

“Kalau benar bermain dan jual di atas HET (harga eceran tertinggi) akan kami tindak tegas. Mau pangkalan resmi ataupun kios eceran akan dipidana karena ada UU Migas,” tegasnya.

Baca Juga : PGN Pacu Pembangunan Infrastruktur Gas

Hal senada disampaikan Istiqomah, perwakilan agen dari PT Dian Kerosene Pratama Batam. Menurut dia, pasokan gas ke pangkalan-pangkalannya masih stabil.

“Stok tidak ada masalah selama ini. Kelangkaan terjadi bisa jadi juga karena meningkatnya pelaku UKM,” katanya.

“Satu KK yang biasanya pakai satu gas, karena harus jualan gorengan, buat kue dan lain sebagainya bisa pakai dua sampai tiga tabung,” ujarnya lagi.

Menurut dia, kondisi itu juga menjadi persoalan. Sebab stok yang ada di agen disalurkan sesuai dengan data warga saat pangkalan mengajukan izin.

*****

Editor : Yuri B Trisna

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here