Home Warta Nusantara

Rumah Perjuangan Rakyat Jadi “Pangkalan” Tersangka Pembunuhan Tokoh Nasional

62
Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary (kanan) menunjukkan video tersangka dalam jumpa pers terkait kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Kemenko Polhukam. (F: Antara)

Jakarta – Polisi sudah mengungkap para pelaku rencana pembunuhan terhadap empat tokoh nasional plus satu pimpinan lembaga survei, Selasa (11/6/19) siang. Dalam video keterangan pelaku, seorang tersangka bernama Kurniawan alias Iwan menyebut satu alamat yang digunakan tempat mangkalnya.

Iwan menyatakan “pangkalan” itu beralamat di Jalan Proklamasi Nomor 36, Menteng, Jakarta Pusat. Saat ditelusuri, alamat tersebut merupakan tempat logistik pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, yang dilabeli dengan nama Rumah Perjuangan Rakyat.

Hingga kini, plang nama “Rumah Perjuangan Rakyat” pun masih terpasang. Mantan prajurit TNI itu mengaku menyiapkan diri di “pangkalan” tersebut, sebelum berkeliling membawa senjata api jenis revolver pada tanggal 21 Mei 2019.

Menurut penjaga di rumah itu, tempat tersebut adalah posko logistik yang sudah tak terpakai.

“Iya, ini posko logistik. Tapi udah enggak dipakai lagi,” ujar pria yang menolak dikutip namanya itu kepada wartawan, Selasa (11/6/19) seperti dikutip dari Tempo.co.

Informasi yang sama juga didapatkan melalui penelusuran di mesin pencari Google. Dengan kata kunci ‘Rumah Perjuangan Rakyat Jalan Proklamasi’ muncul hasil pencarian: Rumah Perjuangan Rakyat Prabowo-Sandi dengan keterangan “tutup permanen.”

Baca Juga : Kerusuhan 22 Mei, Polisi Sudah Kantongi Identitas Aktor Intelektual

Iwan dijerat dengan Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 Pasal 1 tentang kepemilikan senjata api ilegal. Pada saat ditangkap ia membawa satu pucuk senjata revolver magnum dengan 100 butir peluru, yang ia akui juga dia bawa di lokasi unjuk rasa penolakan rekapitulasi KPU atas hasil Pilpres 2019 pada 21-22 Mei 2019.

“Tanggal 21 itu adalah aksi pemanasan demo di KPU. Cuma karena memang massanya belum ramai saya segera kembali ke pangkalan di Jalan Proklamasi Nomor 36,” katanya kepada penyidik dalam rekaman video yang diungkap oleh polisi

Dalam video pengakuan Iwan tersebut, ia mengatakan pada Maret lalu mantan Pangkostrad TNI AD, Kivlan Zen, meminta bertemu di Masjid Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pada pertemuan itu ia diberi uang 15.000 dolar Singapura yang kemudian langsung ditukarkannya di money changer menjadi senilai Rp150 juta.

“Uang itu untuk membeli empat senjata api, yaitu dua laras pendek dan dua laras panjang.”

“Saya domisili di Binong, Bogor, saya diamankan polisi terkait ujaran kebencian. kepemilikan senjata api, dan ada kaitannya senior saya yakni Mayor Jenderal Kivlan Zen,” kata Iwan dalam video.

Iwan diketahui meminta tersangka lain, yakni Tajudin, untuk melakukan pembunuhan tokoh nasional. Pada video yang ditunjukkan polisi tadi, Tajudin mengaku diperintahkan oleh Kivlan Zen melalui Iwan untuk mengeksekusi Menko Polhukam Wiranto, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Intelijen Nasional Budi Gunawan, dan anggota Staf Khusus Presiden Bidang Intelejen dan Keamanan Gories Mere.

“Saya mendapat perintah dari Mayjen Purn Kivlan Zen melalui Kurniawan alias Iwan utuk menjadi eksekutor,” ujar Tajudin menceritakan perencanaan pembunuhan tokoh nasional.

Bantahan Kivlan Zen

Kivlan Zen (tengah) dikawal polisi usai menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum, Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (30/5/19). (F: Antara)

Sementara itu, Muhammad Yuntri, pengacara Kivlan Zen, membantah kliennya memerintahkan tersangka perencana pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Menurut Yuntri, kesaksian sejumlah tersangka dalam video yang diputar saat konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat pada Selasa (11/6/19) kemarin berbanding terbalik. Ia menegaskan, justeru kliennya lah yang akan dibunuh oleh keempat tokoh nasional tersebut.

“Sampai saat ini kita mau ketemu Iwan tak bisa, dikhawatirkan cerita Iwan dengan yang kami terima dari Pak Kivlan itu berbeda. Iwan justru datang ke Pak Kivlan mengatakan Pak Kivlan mau di bunuh empat orang itu,” ujarnya pada wartawan, Rabu (12/6/19) seperti dilansir dari Sindonews.

Baca Juga : Wiranto, Luhut, Budi G dan Gories Mere Jadi Sasaran Pembunuhan, “Selangkah Lagi Sentuh Jokowi”

Terkait kepemilikan senjata, Yuntri mengatakan, Iwan menawarkan senjata api untuk melakukan perburuan di rumah Kivlan yang terletak di Bogor, Jawa Barat. Dia mengklaim, rumah sekitar Kivlan masih banyak babi hutan.

“Iwan itu diperintah jadi sopirnya karena rumah Pak Kivlan di Gunung Picung di Bogor, kan masih ada hutan-hutannya banyak babi, Iwan bilang ini ada senjata pak. Pak Kivlan bilang itu bukan untuk bunuh babi tapi bunuh tikus,” ujarnya.

Tentang adanya penyerahan uang SGD 15 ribu, menurut Yuntri, uang itu memang diberikan untuk demo. Namun, bukan untuk aksi demo tanggal 21-22 Mei 2019 melainkan untuk demo saat momentum Supersemar.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin