Rudi: Sertifikat Tanah Kampung Tua Jangan Dijual

Sertifikat Tanah Kampung Tua
M Rudi dan Amsakar Achmad meninjau proyek Taman Atas Laut di Kampung Tua Tanjungriau, Batam. (F: barakata.id/ist)

Barakata.id, Batam – Wali Kota Batam, Muhammad Rudi meminta masyarakat kampung tua tidak memperjualbelikan sertifikat tanah yang dimilikinya. Masyarakat juga dipesankan agar mau merelakan tanahnya jika dibutuhkan pemerintah untuk kegiatan pembangunan.

Rudi berpesan agar warga kampung tua yang telah mengantongi sertifikat tanah bisa memanfaatkannya dengan baik.

“Tolong dijaga baik-baik, jangan sampai hilang atau rusak. Jangan dijual. Kalau memang mau dimanfaatkan untuk meminjam dana ke bank, gunakanlah dana itu untuk usaha produktif. Misalnya untuk berjualan dan lainnya, bukan untuk membeli barang-barang konsumsi,” kata Rudi saat meninjau proyek pembangunan Taman Atas Laut di Kampung Tua Tanjungriau, Sekupang, Batam, Minggu (9/5/21).

BACA JUGA : Mau Jadi Kawasan Pariwisata, Kampung Tua Tak Boleh Kumuh

Rudi mengatakan, Pemerintah Kota Batam akan membangun dan menata kampung tua di Batam menjadi lebih rapi, dan cantik sehingga bisa dijadikan tujuan wisata. Dengan catatan, kampung tua tersebut tidak lagi ada persoalan legalitas lahan.

Menurut dia, wilayah kampung tua di Batam pantas menjadi daerah tujuan wisata karena memiliki keunikan tersendiri. Selain soal kebudayaan masyarakat setempat, rata-rata wilayah kampung tua juga memiliki panorama alam yang menarik dan bisa dijual kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Karena itu, ia berpesan kepada warga yang bermukim di wilayah kampung tua agar tidak menjual tanah yang dimilikinya.

“Inilah kita tunjukan kepada turis manca negara. Karena, di negara maju tidak ada kampung seperti ini. Kalau Kotaku Tanjungriau kita akan pasang jaring-jaring di bawah perumahan biar sampahnya tak masuk. Secara bertahap akan dikerjakan nanti,” kata dia.

Kampung Tua Tanjungriau menjadi pilot project Kampung Tua Kotaku dari program strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Adapun penataan skala kawasan kampung tua meliputi area gapura, plaza, ruang terbuka, pelantar, pusat pertemuan dan lainnya.

BACA JUGA : Taman Atas Laut Tanjungriau Selesai, Ikon Baru Wisata Batam

Menurut Rudi, setelah kampung Tua Tanjungriau, sejumlah kampung tua lain di Batam akan menjadi target selanjutnya. Seperti Kampung Tua Tanjunguma, Batu Merah, dan Nongsa.

“Intinya saya ingin Tanjungriau ini menjadi contoh Kampung Tua Kotaku. Kalau ini selesai saya bisa bergeser ke kampung tua lainnya. Mungkin Tanjunguma, Batumerah mungkin juga ke Nongsa. Kalau bisa, dua atau tiga kampung tua sekaligus kita bangun,” kata dia.

Dia berharap semua kampung tua di Batam tidak berpenampilan kumuh. Untuk itu masyarakat pun diminta mendukung rencana penataan kampung tua menjadi destinasi pariwisata baru.

“Kampung tua harus bebas dari kumuh, maka itu kita harap masyarakat juga dapat menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Rudi juga pernah berpesan kepada warga kampung tua agar merelakan tanahnya demi pelebaran jalan di kawasan tersebut. Menurut dia, akses jalan di sejumlah kampung tua perlu dilebarkan agar kawasan tersebut terbebas dari macet dan menghilangkan kesan kumuh.

BACA JUGA : 34 Kampung Tua Batam Masih Bermasalah, Sertifikat Belum Bisa Diterbitkan

Rudi mengatakan, apabila pemerintah ingin membangun kawasan kampung tua, maka pemerintah setempat harus benar-benar melakukan pembenahan dan penataan kawasan sehingga terbebas dari kesan kumuh, dan agar mobil dan bus-bus pariwisata bisa leluasa masuk dan keluar.

“Kalau kendaraan atau bus pariwisata bisa masuk ke sini tanpa macet, warga bisa membuat sesuatu yang menarik, kami pasti mendukung penuh,” kata dia.

Untuk diketahui, selain Tanjungriau, ada beberapa kampung tua yang tersebar di penjuru Pulau Batam. Setidaknya ada 37 titik wilayah yang sudah disepakati pemerintah dan masyarakat sebagai kampung tua dengan luas keseluruhannya sekitar 1,569,63 hektare.

Kampung tua merupakan wilayah yang dihuni oleh masyarakat tempatan, kebanyakan berada di wilayah pesisir dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan.

*****

Editor : YB Trisna

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin