Home Nusantara Resmikan Budidaya Ikan Koi Sistem IoT di Blitar, Gus Menteri PDTT :...

Resmikan Budidaya Ikan Koi Sistem IoT di Blitar, Gus Menteri PDTT : Keberhasilan Desa Ada Namanya Kemiskinan Ekstrem

Mendes PDTT resmikan sistem IoT di Blitar
Didampingi Bupati Blitar Rini Syarifah, Gus Menteri PDTT Abdul Halim Iskandar meresmikan budidaya ikan hias Koi dengan sistem Internet of Think (IoT) di Desa Kemloko, Kabupaten Blitar. (Foto : achmad/barakata.id).
Himbauan Pemprov Kepri

Ikuti kami di Google Berita

Barakata.id, Blitar (Jatim) – Pembudidayaan ikan hias Koi yang ada di Blitar Raya patut di informasikan kepada dunia. Karena menggunakan sistem Internet of Think (IoT).

Menariknya dari sistem tersebut, peternak tidak perlu datang ke kolam untuk memantau dan memberi makan ikannya, karena sudah dapat dikendalikan melalui aplikasi di handphone masing-masing.

“Ini cara budidaya ikan hias Koi yang menggunakan teknologi luar biasa, dan mungkin satu-satunya di Indonesia. Suatu hal yang membanggakan, sehingga dunia perlu mengetahui informasi seperti ini,” kata Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar saat melaunching teknologi IoT di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, pada Minggu (17/10/2021).

Menteri PDTT juga mengatakan, keberhasilan yang telah dicapai Desa Kemloko dalam pengembangan budidaya ikan Koi dengan sistem IoT ini patut sekiranya di replikasi atau di kloning oleh desa-desa yang lain. Akan tetapi, menurutnya, harus disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing.

“Makanya kita selalu berbicara pilot project, keberhasilan, perlu di replikasi/kloning untuk desa lain, yang sesuai dengan karakteristik daerah yang berhasil tadi,” tandasnya.

Baca juga : Desa Serang Masuk 50 ADWI 2021, Mas Menteri Parekraf: Dunia Melirik Blitar Raya

Di satu sisi, keberhasilan desa ada yang namanya masalah kemiskinan ekstrem. Menurut Gus Menteri (sapaan akrab Menteri PDTT), ukurannya adalah berdasarkan indikator global. Dimana, dalam satu keluarga pendapatannya dibawah 1,99 US dollars atau setara dengan Rp 12 ribu per hari.

Sedangkan kemiskinan ekstrem itu sendiri, kata Gus Halim ada dua klasifikasi. Pertama berkaitan dengan masyarakat yang sudah tidak mampu dilakukan pemberdayaan seperti masyarakat difabel, penyakit kronis menahun, lanjut usia yang hidup sendiri dan klasifikasi kedua merupakan masyarakat yang masih dapat dilakukan pemberdayaan.

“Maka dari itu kita tidak usah bicara pemberdayaan. Pemerintah daerah harus wajib hadir dan menanggani persoalan tersebut secara kesinambungan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Menteri Halim mengungkapkan, sejak tahun 2022 ini, berbagai kebijakan kementrian desa telah berbasis kabupaten. Baik yang menyangkut rapat koordinasi pembangunan desa sudah dilaksanakan di level kabupaten, tidak lagi di atasnya.

“Tujuannya adalah, supaya bisa langsung mudik pada basis masalah. Kerena kabupaten yang mempunyai wilayah tersebut,” sambung Gus Menteri.

Baca juga : Desa Serang di Blitar Terpilih Menjadi 50 ADWI 2021 dari Kemenparekraf

Adapun terkait angka kemiskinan, dirinya menyebut sesuai data statistik ada 10 juta lebih, tetapi realnya harus di hitung ulang. Alasanya, tidak boleh mengatakan estimasi, karena jumlah penduduk itu sudah jelas dan setiap hari mengalami perubahan.

Kabupaten Blitar sudah punya data itu. Tinggal melakukan pemutakhiran data melalui Sustainable Development Goals disingkat SDGs,” tegasnya.

Sementara, agenda peresmian IoT untuk budidaya ikan hias Koi di Desa Kemloko itu sendiri juga dihadiri oleh Bupati Blitar Rini Syarifah, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Erma Rini, dan Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Anik Maslachah. Dimana, rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan tetap mengedepankan protokol kesehatan Covid-19. (adv/kmf/jun)

SebelumnyaKaum Muda Batam Didorong Kuasai Digital Enterpreneur
SelanjutnyaAwas, Kanker Payudara Bisa Menyerang Siapa Saja, Kenali Tanda-Tandanya!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin