Home Warta Dunia

Presiden Xi Jinping Siap Perang untuk Laut Cina Selatan

134
Presiden Cina Xi Jinping
Presiden Xi Jinping (tengah) memimpin Kongres Nasional Cina yang dimulai Jumat (22/5/20) lalu. (F: XINHUA NEWS)

Barakata.id, Batam – Presiden Cina, Xi Jinping memerintahkan militer yang bertanggung jawab memantau Laut Cina Selatan (LCS) dan Taiwan untuk meningkatkan kompetensinya dengan memperkuat latihan. Ia meminta satuan militernya, People Liberation Army (PLA), meningkatkan kesiapannya untuk berperang.

Dalam Kongres Nasional, Jinping mengatakan bahwa Cina telah memasuki masa di mana ancaman dari asing sangat potensial terjadi.

“Penting untuk memperkuat misi dan memusatkan persiapan berperang. Kita perlu mempertimbangkan semua situasi kompleks dan membuat rencana darurat yang sesuai,” ujar Xi dalam pidatonya seperti mengutip lembaga penyiaran negara, CCTV seperti mengutip South China Morning Post, Kamis (28/5/20).

“Kita harus meningkatkan latihan kesiapan tempur, latihan bersama, dan latihan konfrontasi untuk meningkatkan kemampuan prajurit dan persiapan untuk perang,” sambungnya.

Baca Juga :
Jokowi Datangi Natuna, Sikap Cina Berubah 180 Derajat

Jinping melakukan kunjungan ke komando militer sebagai bagian dari agenda empat hari perjalanannya ke Provinsi Cina Selatan. Kunjungannya kali ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan di tengah hambatan ekonomi dan meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Salah satu misi utama Komando Teater Selatan adalah mengawasi Laut Cina Selatan, sebuah wilayah di mana ketegangan dan aktivitas militer yang melibatkan Cina, AS, dan kekuatan lain.

Hubungan Cina dengan sejumlah negara saat ini sedang dalam kondisi panas-panasnya. Misalnya, dengan Amerika, Cina konsisten berseteru dengannya untuk banyak hal mulai dari pandemi virus Corona hingga konflik Laut Cina Selatan.

Bahkan, di Laut Cina Selatan, Cina diduga telah mengoperasikan basis militernya untuk merespon penguatan militer Amerika di Indo-Pacific.

Selain dengan Amerika, ketegangan juga terjadi di antara Cina dan Taiwan. Cina megklaim Taiwan sebagai bagain dari dirinya sementara Taiwan mengklaim sebagai negara independen.

Baca Juga :
Cina Ogah Damai, Perang Dagang dengan AS Belum Usai

Ketegangan di antara keduanya merembet ke berbagai hal, tak terkecuali soal keanggotan Taiwan di WHO. Dari sekian banyak ancaman, Jinping menyebut Pasukan Kemerdekaan Taiwan sebagai ancaman paling nyata.

Menurut dia, Taiwan mencari dukungan dari negara-negara lain untuk memperkuat gerakan separatis mereka.

Xi Jinping
Xi Jinping

Misalnya, baru-baru ini, Amerika menjual kapal selam perang senilai US$180 juta kepada Taiwan untuk memperkuat lini alutsistanya. Sebelumnya, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen juga memibeli tank perang senilai US$ 2,2 miliar serta pesawat tempur F-16 senilai US$ 8 miliar.

“Di sisi lain, situasi pandemi Corona menjadi tantangan tersendiri untuk militer kita,” ujar Jinping yang menaikkan anggaran pertahanannya sebesar 6,6 persen year on year atau menjadi US$ 178 miliar.

Juru bicara Kementerian Pertahanan, Wu Qian, mengamini pernyataan Jinping. Ia berkata, ancaman paling nyata justru dari gerakan separatis Taiwan.

Karena itu, ia tidak akan merasa kaget jika ketegangan antara Cina dan Taiwan berujung ke resolusi secara militer.

“Partai Demokratik Progresif di Taiwan sangat bergantung pada dukungan luar negeri dan makin jauh masuk ke gerakan separatis. Situasi Cina terhadap gerakan separatis ini makin buruk,” ujar Qian yang menambahkan bahwa Cina harus hati-hati dalam mengatur pengeluaran di sektor pertahanan.

Baca Juga :
Cina Ancam Serang Taiwan, AS Kerahkan Kapal Perang

Jinping dinilai tak pede

Pengamat militer dari Nanyang Technologi University Singapura, Collin Koh mengatakan, ucapan Jinping kali ini menyiratkan sikap modal dan penegasan kembali klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan.

“Kemungkinan ini dimaksudkan sebagai sinyal khusus kepada AS dan semua pihak yang Beijing anggap sebagai penyebab provokasi (di perairan yang disengketakan),” ujar Koh.

Menurut Koh, pidato Jinping kepada Komando Teater Selatan juga dinilai sebagai sebuah peringatan yang jelas bagi pasukan pro-kemerdekaan di Taiwan, karena wilayah militer itu berbagi tanggung jawab dengan Komando Teater Timur untuk memantau pulau itu.

Namun, pengamat militer dari Universitas Haifa, Yoram Evron, menganggap pernyataan Xi Jinping sebagai pertanda bahwa Cina sendiri tidak pede dengan militernya. Hal itu menyusul semakin banyaknya negara-negara yang menentang Cina .

“Cina merasa tidak aman, secara eksternal maupun internal. Mereka belum siap mengurangi pengembangan kekuatan militernya. Di saat bersamaan, pertumbuhan ekonomi menjadi halangan sehingga mereka tidak mau memasang ekspektasi tinggi juga,” ujar Evron.

*****

Sumber : Tempo/CNN Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin