Home Warta Nusantara

Penyerang Novel Baswedan Dituntut Ringan, Aktivis: Hukum Sudah Tergadai

192
Novel Baswedan
Penyidik KPK Novel Baswedan berada di mobil setibanya dari Singapura di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (22/2). Novel kembali ke Indonesia setelah sepuluh bulan menjalani operasi dan perawatan mata di Singapura akibat penyerangan air keras terhadap dirinya. (F: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww/18)

Barakata.id, Batam – Sejumlah aktivis menilai tuntutan ringan terhadap dua penyerang/penyiram air keras ke Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menciderai rasa keadilan. Mereka pun menganggap bahwa hukum telah ‘tergadai’.

Koordinator KontraS, Yati Andriyani mengatakan, tuntutan ringan atas Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, dua pelaku itu membuat hukum diskriminatif dan tebang pilih karena tak mampu melindungi dan memberikan keadilan bagi Novel selaku korban.

“Hukum menjadi ‘tergadai’ dan karena penegakan hukum melalui peradilan seperti kasus ini menjadi pola bagi penegak hukum untuk melindungi pelaku kejahatan dengan tuntutan rendah,” kata Yati seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (12/6/20).

Baca Juga :
Peneror Novel Baswedan Ditangkap, Netizen Sindir Dewi Tanjung dan Jiwasraya

Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar pun menuding proses hukum terhadap pelaku penyerangan Novel aneh dan wajar. Menurutnya, aneh karena tuntutan tidak sesuai dengan perbuatan kejahatan terdakwa.

Sementara itu. ia menganggap wajar lantaran sejak awal pelaku hanya menjadi ‘boneka’ untuk menutupi pelaku sebenarnya.

“Sejak awal saya memang sudah bersuara meragukan kedua orang ini sebagai pelaku. Keduanya dipasang untuk mengakhiri polemik kasus Novel yang tidak kunjung jelas,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Amnesty International Indonesia (AII), Usman Hamid.

“Tuntutan JPU [Jaksa Penuntut Umum] terhadap penyerang Novel Baswedan jelas mencederai rasa keadilan di negara ini,” kata dia.

Baca Juga :
Penyiram Air Keras Novel Baswedan Adalah Polisi Aktif

Usman berpendapat penggunaan pasal penganiayaan berat dalam menjerat pelaku juga tidak tepat lantaran Novel menderita luka seumur hidup.

Menurut Usman, kasus yang menimpa Novel ini bukan persoalan teror belaka, namun masalah serius yang mengancam agenda reformasi khususnya dalam bidang korupsi dan hak asasi manusia (HAM).

Ia menyebut masalah penyidik senior KPK itu serupa dengan kasus yang menimpa aktivis HAM, Munir Said Thalib. Motif dalam dua perkara yang berbeda itu sama-sama dialihkan sebatas dendam pribadi.

“Ada kesan kasus dipersempit dengan hanya menjaring pelaku di lapangan, bukan otaknya,” ujarnya.

Baca Juga :
Jejak Kapolda Kepri Aris Budiman: Friksi KPK dan Berseteru dengan Novel Baswedan

Usman pun membandingkan tuntutan ringan dua terdakwa teror air keras, yang merupakan anggota Polri aktif, dengan sejumlah tahanan Papua. Menurutnya, para tahanan Papua justru terancam hukuman hingga belasan tahun.

“Hukum menjadi dipertanyakan dan keseriusan Indonesia untuk menegakkan HAM juga dipertanyakan,” kata dia.

Sebelumnya, Novel Baswedan mengaku tak heran dengan tuntutan ringan dua pelaku penyiraman air keras terhadapnya itu. Ia menyebut negara telah abai karena dua pelaku yang merusak mata kirinya itu hanya dituntut satu tahun penjara.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin