Home Nusantara Jatim

Penjaga Makam Bung Karno Lumpuh Setelah Vaksin Covid-19. Sementara Tim RSUD Belum Ada Kesimpulan Penyebabnya

Foto : Ilustrasi/alodokter
Himbauan Pemprov Kepri

Barakata.id, Blitar (Jatim) – Awalnya mengeluhkan sakit demam, nyeri sendi, panas dalam, bahkan tidak bisa buang air besar dan kecil, serta sempat mengalami kelumpuhan setelah mendapatkan vaksin Covid-19.

Hal ini dialami Nur Rockhim (44), Aparatur Sipil Negara (ASN), warga Dusun Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar yang kesehariannya bekerja sebagai penjaga Makam Bung Karno di Blitar, yang dikutip dari media ngopibareng Kamis (6/5/2021).

Diberitakan, menurut Munifatul Khotimah (38) istri dari Nur Rockhim, bahwa derita yang dialami suaminya itu setelah mendapatkan vaksin Covid-19 dari Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar pada 11 Maret 2021 lalu.

Kata Munifatul, suami itu sebenarnya mengeluh ketika mendapat suntikan pertama vaksin pada 11 Maret 2021. Akan tetapi tidak parah, hanya merasa lemas saja.

Namun, pada suntikan kedua pada 16 April 2021 sakitnya bertambah parah. Tidak hanya lemas yang dikeluhkan, bahkan sampai tidak bisa buang air besar kecil, dan badan terasa panas.

Sehingga, kata Khotimah, hari – hari berikutnya keadaanya tambah parah, dan bahkan rasa ngilunya di sendi-sendi membuat suaminya itu tidak mampu berjalan.

Akhirnya, 10 hari kemudian, pada 26 April 2021, suaminya dirujuk ke RSUD Mardi Waluyo kota Blitar. Di sana Nur Rockhim dirawat selama 4 hari, dan kondisinya mulai membaik.

“Hasil diagnosa di rumah sakit itu tidak menunjukkan gejala apapun. Bahkan dokter menyatakan kondisi bapak baik-baik saja. Makanya, kita bawa pulang. Karena dokternya pun mengizinkan untuk rawat jalan,” ujar Munifatul.

Saat ditanya, apakah sudah menjalani swab antigen? Munifatul mengatakan belum pernah. Padahal, pada saat menjalani rawat inap di RS Mardi Waluyo ia pernah meminta kepada dokter untuk dilakukan swab PCR. Tapi oleh pihak rumah sakit menyatakan tidak perlu.

Apakah sakitnya ini karena dampak dari vaksin covid-19? Munifatul mengaku tidak tahu.

“Kata dokter rumah sakit katanya sakit biasa, bukan karena efek dari vaksinasi,” kata dia.

Namun begitu, Munifatul mengaku pernah curiga dengan dokter rumah sakit yang tidak mau menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium darah suaminya.

“Dokter tidak ada penjelasan bagaimana hasil labnya. Hanya mengatakan hasil pemeriksaan foto tubuh Nur Rockhim dalam keadaan baik semuanya,” tuturnya.

Hasil Pemeriksaan Tim medis RSUD Mardi Waluyo Blitar.

Dari keterangan yang didapat, bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan mendalam untuk mengetahui ada atau tidaknya kaitan antara suntikan vaksin Covid-19 dengan kelumpuhan yang dialami juru kunci Makam Bung Karno, Nur Rockhim.

Sementara, Direktur Utama RSUD Mardhi Waluyo Ramiadji mengatakan, pemeriksaan kondisi Nur Rockhim dilakukan oleh sejumlah ahli.

“Beliau ditangani beberapa dokter konsultan spesialis paru, spesialis penyakit dalam dan spesialis syaraf,” ujarnya kepada wartawan ngopibareng, Minggu (23/5/2021).

Ramiadji mengatakan, diagnosis penyakit yang diderita Nur Rockhim sebenarnya sudah ada. Namun, keterkaitan antara kelumpuhan dan suntikan vaksin Covid-19 yang diterima Nur Rockhim belum dapat disimpulkan.

“Butuh terapi untuk menguatkan otot-otot tubuhnya,” ujar Ramiadji.

Terkait diagnosis penyakit yang diderita Nur Rokhim, Ramiadji pun menutup diri. Sebab hal ini menyangkut privasi pasien. Kondisi Nur Rockhim yang membaik pun diizinkan oleh tim dokter untuk pulang ke rumah, pada Kamis 20 Mei lalu.

Selanjuynya, menurut Munifatul Khotimah, istri Nur Rockhim, kondisi sang suami sudah mulai membaik dibanding kelumpuhan usai vaksin Covid-19. Kaki Nur Rockhim sudah mulai bisa merasakan sentuhan dan digerakkan sedikit demi sedikit. Meski demikian, Nur Rokhim masih merasakan sakit ketika berusaha menggerakkan kakinya.

“Badanya masih lemas tapi kulitnya ketika dipegang mulai merespon dan bergerak. Kalau kaki sudah bisa sedikit digerakkan tapi mengeluh kesakitan juga,” terangnya.

Selain itu, lanjut Munifatul Khotimah, sang suami sudah bisa merespon ketika diajak ngobrol. “Dia paham apa yang kita omongin, sudah merespon tapi belum bisa bicara,” tambahnya.

Kata Munifatul, tentang sakit yang diderita suaminya pernah dibisikin oleh salah satu dokter yang menangani Nur Rockhim. Dokter menyebutnya penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) yaitu penyakit gangguan syaraf yang menyebabkan kelumpuhan.

“Kata salah satu dokter penyakitnya seperti itu (ALS), tapi saya enggak paham juga,” tuturnya polos.

Tentang apa itu penyakit ALS, Munifatul Khotimah disuruh oleh dokter untuk browsing di internet. Setelah browsing terkait tanda tanda penyakit ALS, Munifatul Khotimah justru tidak menemukan gejala yang sama dengan yang diderita sang suami.

Munifatul Khotimah mengulas kembali gejala awal suaminya sebelum lumpuh. Nur Rockhim merasa gatal-gatal pada kulit, kemudian muncul bitnik-bintik pada kulit. Selanjutnya, muncul rasa nyeri dan sakit perut, demam, dan nyeri sendi.

Ke depannya, Munifatul Khotimah masih belum bisa memutuskan untuk melanjutkan kontrol penyakit suaminya ke RSUD Mardi Waluyo, mengingat kondisi Nur Rockhim yang belum kuat untuk berjalan dan harus menunggu antrean di rumah sakit.

Sehingga, keputusannya masih menunggu ada jadwal untuk menjalani terapi syaraf non medis atau tidak dari rumah sakit tersebut.(*)

Penulis : Achmad Zunaidi

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin