Home Warta Nusantara

Pemerintah Pusat Kaji Pembukaan Sekolah di Zona Kuning

359
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo berencana merekomendasikan sekolah zona kuning untuk bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Saat ini rencana itu sedang dibahas Gugus Tugas dengan Kemendikbud. (F: Covid-19.go.id)

Barakata.id- Pemerintah pusat saat ini sedang mengkaji rencana pembukaan sekolah di zona kuning Covid-19. Hal ini mengacu pada permintaa orang tua dan pihak sekolah. Kedua pihak ini mengeluhkan ketiadaan kegiatan sejak pandemi Covid-19.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan, rencana itu saat ini sedang dalam pembahasan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Gugus tugas sebelumnya hanya rekomendasi sekolah di zona hijau, saat ini (dibahas) agar zona kuning diizinkan,” kata Doni, Senin (13/7) seperti dilansir dari CNN Indonesia.

Baca Juga:
Siswa di Batam Masih Belajar dari Rumah, Orangtua Pusing

Doni menekankan, jika rekomendasi itu disetujui, protokol kesehatan yang ketat tetap wajib diterapkan selama proses belajar mengajar.

Diantaranya membatasi jumlah kegiatan dan mengurangi jumlah siswa yang belajar di kelas. Setiap pelajar maksimal hanya ikut dua kali kegiatan.

“Presentase pelajar tidak boleh lebih dari 30 persen,” kata Doni.

Seperti diketahui, tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai pada Senin (13/7/20). Kegiatan belajar mengajar pun dilakukan mengacu pada panduan dari Kemendikbud. Hanya sekolah yang berada di daerah zona hijau saja yang diperbolehkan melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Meski berada di zona hijau, untuk bisa melakukan pembelajaran tatap muka juga wajib sudah mendapat izin dari pemerintah daerah atau kantor wilayah/Kantor Kementerian Agama. Sekolahnya pun juga sudah memenuhi daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka.

Baca Juga:
Tahun Ajaran Baru, Selain di Zona Hijau, Siswa Tetap Belajar di Rumah

“Syarat terakhir untuk bisa melakukan pembelajaran tatap muka adalah orang tua atau wali murid menyetujui anak-anaknya kembali belajar di sekolah,” kata Mendikbud Nadiem Makarim Anwar Makarim beberapa waktu lalu, dikutip dari laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Di Batam sendiri, belajar dari rumah ini juga menuai banyak komentar. Banyak yang mengeluhkan biaya sekolah yang tetap harus dibayar penuh, padahal di rumah juga memerlukan tambahan biaya untuk membeli kuota.

Ada yang kewalahan karena harus mengawasi anak-anaknya yang belajar dengan cara daring. Sebab beberapa sekolah menerapkan aplikasi zoom untuk menggantikan tatap muka.

“Padahal di saat yang sama, orangtuanya harus bekerja di luar rumah. Ini kan menimbulkan permasalahan baru,” kata Dewi, warga Batam Centre.

****

Editor: Asrul R

1 KOMENTAR

  1. Saya juga orangtua siswa. Siapa yg TDK senang anak2 kita kembali belajar di sekolah, namun perlu diingat diluar negeri pun setelah sekolah dibuka kembali, maka terjadilah cluster baru terpapar covid. Saya jg merasa keberatan dgn semua biaya yg harus kita keluarkan, namun ini adalah wabah kita tidak punya pilihan. Bersabarlah bapak ibu sampai keadaan benar2 aman utk anak2 kita bersekolah lagi. Sesuai anjuran dokter anak Indonesia. Jng kita korbankan anak2 kita. Kalo sudah terpapar ,kita akan menyesal nantinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin