Warta Nusantara Pasutri Asal Indonesia Ledakkan Diri di Gereja Filipina

Pasutri Asal Indonesia Ledakkan Diri di Gereja Filipina

98
Kabiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo saat konferensi pers terkait identitas pelaku bom bunuh diri di sebuah gereja di Filipina, Januari 2019 di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/19). (F: Antara)

Jakarta – Dua pelaku bom Bunuh diri di gereja Katolik Pulau Jolo, Filipina Selatan, pada 27 Januari 2019 lalu ternyata warga negara Indonesia (WNI). Mereka adalah pasangan suami istri (pasutri) bernama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh.

Keduanya merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Makassar.

“Suami istri atas nama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/19). 

Identitas keduanya terungkap setelah polisi menangkap terduga teroris berinisial N (39) di Padang, Sumatera Barat, dan Y yang diamankan di Malaysia pada awal Juni 2019.

Baca Juga : Pelaku Bom Bunuh Diri Pos Kartasura Warga Setempat yang Pengangguran

Awalnya, polisi Filipina hingga Polri kesulitan mengidentifikasi kedua pelaku teror tersebut.

Menurut Dedi, keduanya masuk ke Filipina bukan melalui jalur resmi sehingga otoritas setempat tidak mendeteksi ketibaan keduanya.

“Kedua tersangka ini masuk lewat jalur ilegal Filipina sehingga identitas kedua pelaku tidak terekam dengan baik di Filipina, sehingga kita tidak bisa mengidentifikasi pelaku suicide bomber,” ungkapnya dikutip Kompas.com.

Kemudian, Densus 88 yang bekerja sama dengan Kepolisian Malaysia tak dapat mengidentifikasi lantaran kedua tersangka masuk ke Filipina melalui jalur ilegal sehingga, keduanya tak terekam dengan jelas.

“Densus 88 juga telah bekerja sama dengan kepolisian Filipina, tapi belum berhasil mengidentifikasi karena dua tersangka ini masuk melalui jalur ilegal Filipina, sehingga tidak terekam dengan baik,” papar Dedi.

Dedi mengatakan, pihaknya hanya memperoleh informasi dari lima tersangka yang ditangkap jika pelaku pengeboman adalah WNI. Hal tersebut diketahui dari logat bicara keduanya.

Identitas pasutri itu terungkap setelah pihak Densus 88 meringkus terduga teroris anggota JAD Sumatera Barat bernama Novendri alias Abu Zahran alias Abu Jundi dan anggota JAD Kalimantan Timur bernama Yoga.

“Setelah dilakukan penangkapan terhadap Saudara Novendri dan Yoga di Malaysia, baru mengkait ternyata pelaku bom bunuh diri di Filipina itu adalah dua orang warga negara Indonesia,” ujarnya dilansir Suara.com.

Dedi mengatakan, kedua terduga pelaku diberangkatkan ke Filipina oleh S alias Daniel alias Chaniago.

S yang juga merupakan otak atau mastermind sejumlah aksi teror di Indonesia diduga berada di Khurasan Afghanistan. S sudah masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polri sejak lama.

“Karena mengetahui rencana aksi tersebut dan (S) sudah memberikan dana untuk 2 tersangka ke Filipina dari Makasar,” kata dia dikutip kompas.com.

Baca Juga : Bom Bunuh Diri di Pos Polisi Kartasura, Pelaku Masih Hidup

Untuk diketahui, dua bom bunuh diri meledak di gereja Katolik di Pulau Jolo, Filipina, Minggu (27/1/19), saat misa berlangsung.

Ledakan pertama terjadi di dalam gereja di Jolo, sementara bom kedua meledak saat petugas keamanan bergerak ke lokasi ledakan untuk memberi pertolongan terhadap para korban.

Insiden tersebut menewaskan 22 orang dan melukai 100 orang lainnya.

Beberapa hari setelah kejadian, Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano mengatakan, dua pelaku serangan bom bunuh diri di gereja Katolik di Pulau Jolo, Filipina berasal dari Indonesia.

*****

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here