Menteri Agama Minta Umat Tinggalkan Pendakwah Provokatif

388
Menteri Agama, Fachrul Razi

Barakata.id, Batam – Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi meminta umat untuk meninggalkan pendakwah yang isi ceramahnya provokatif. Menurutnya, saat ini banyak penceramah yang isinya tidak memberi pencerahan tapi justru mengajarkan ajaran-ajaran kekerasan.

“Kita ingin juga mencerdaskan umat. Jadi sering saya katakan kadang-kadang kalau umat dibikin bodoh, enggak suka, tinggalin. Saya kadang-kadang suka marah,” kata Fachrul dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Jakarta, Rabu (30/10/19).

Ia mengatakan, saat ini ada penceramah di masjid-masjid yang tidak memberi pencerahan lewat dakwah yang disampaikan. Sebaliknya, dia menganggap ada penceramah yang justru membodohi umat.

Baca Juga : Pengguna Cadar Akan Dilarang Masuk Instansi Pemerintah

Fachrul mengatakan, para penceramah itu menggunakan dalil-dalil agama untuk menyebarkan ajaran-ajaran kekerasan dan intoleransi beragama. Dia berharap masyarakat tak sungkan untuk meninggalkan pendakwah seperti itu.

Fachrul memberi contoh dakwah seusai bencana alam tsunami menimpa Aceh pada 2004 silam. Fachrul, yang merupakan orang Aceh, sering mendengar penceramah yang menyebut tsunami sebagai cara Tuhan menghukum masyarakat setempat lantaran suka menanam ganja.

Mantan Wakil Panglima TNI itu menjelaskan bahwa mereka yang menanam ganja di Aceh hanya sedikit dan tinggal di pegunungan. Sementara tsunami menerpa masyarakat pesisir yang justru dia sebut sebagai ahli agama.

Menurut Fachrul, sebenarnya pendakwah bisa menjelaskan kepada jamaah bahwa Aceh berada di daerah rawan gempa karena ada pertemuan lempeng tektonik. Selain itu, lanjut Fachrul, penceramah juga bisa membimbing jamaah untuk mendoakan masyarakat Aceh yang terdampak bencana tsunami.

“Sebagai hamba Tuhan, kita wajib berdoa, mudah-mudahan tidak terulang kembali dan bencana ini cepat selesai. Itu artinya mencerdaskan umat, bukan membodohi umat,” tuturnya.

Menurut Fachrul, imam masjid punya peran penting dalam hal ini. Imam bukan hanya pemimpin salat berjamaah, tetapi juga sebagai orang terdepan yang menjaga masjid agar tetap menjadi tempat umat berkumpul dan bersatu.

Fachrul sempat bercerita soal peran masjid di zaman Nabi Muhammad SAW. Saat baru hijrah ke Madinah, Rasulullah langsung membangun Masjid Nabawi.

Menurut Fachrul itu adalah contoh bahwa masjid bukan hanya bangunan fisik tempat beribadah, tetapi juga sebagai pusat antarumat beragama memperkuat ikatan sosial.

“Dari setiap mimbar masjid harus disuarakan persatuan dan kerukunan umat, bukan sebaliknya. Masjid harus jadi tempat integrasi dan reintegrasi umat. Umat Islam harus bersatu dalam prinsip akidah dan ibadah,” tegasnya.

Dikritik YLBHI

Sementara itu, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengkritik beberapa pernyataan Fachrul Razi sejak dilantik sebagai Menteri Agama Kabinet Indonesia Maju.

Melalui siaran pers yang dimuat dalam ylbhi.or.id, YLBHI menyinggung soal Fachrul yang mengatakan bukan hanya menteri agama Islam, tetapi juga lima agama yang diakui di Indonesia. Bagi YLBHI itu sama dengan mendiskriminasi penganut agama atau aliran yang jumlahnya tak dominan.

“Kesalahan tersebut selama ini menjadi sumber diskriminasi terhadap kelompok minoritas keagamaan (aliran yang tidak dominan ataupun lebih sedikit diikuti),” mengutip ylbhi.or.id.

Selain itu, agama yang diakui oleh negara pun bukan lima, melainkan ada enam. Tidak seperti yang disebut Fachrul. YLBHI menganggap itu juga kekeliruan Fachrul.

Baca Juga : Maksimalkan Kearifan Lokal Kepri untuk Cegah Radikalisme

Usai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Fachrul menyatakan bahwa dirinya bukan menteri Agama Islam melainkan menteri dari lima agama.

“Saya kan bukan menteri agama Islam, saya menteri agama Republik Indonesia yang di dalamnya ada lima agama,” kata Fachrul di Istana Negara, Jakarta, (23/10/19)

YLBHI kemudian mengkritisi Fachrul yang ingin melindungi Ahmadiyah tidak sebagai agama. Bagi YLBHI, pernyataan Fachrul juga tidak sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri pada 2008 lalu.

“Tidak ada pernyataan bahwa menganut Ahmadiyah membuat mereka menjadi tidak menganut agama. Kalaupun ada pernyataan seperti ini maka negara telah melanggar hak beragama berkeyakinan warganya,” mengutip ylbhi.or.id.

Sumber: CNN Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here