Home Jelajah Jalan-Jalan

Mengenal Sentinel, Suku yang Suka Memanah Orang Asing

134
Satu dari sedikit foto yang memperlihatkan sekilas penduduk pulau Sentinel Utara, kepulauan Andaman, India. Suku asli pulau ini sudah menghuni tempat itu sejak 60.000 tahun lalu dan sejak saat itu mereka menolak modernisasi.(F: Daily Mail)

India – Awalnya, sangat sedikit orang di muka bumi ini yang mengetahui tentang suku Sentinel di Kepulauan Andaman, India. Namun, insiden tewasnya seorang turis asal Amerika Serikat (AS) di kepulauan tersebut, seolah membuka mata dunia.

Sekitar bulan November tahun 2018, seorang pemuda dari AS bernama John Allen Chau (27) dilaporkan hilang di Kepulauan Andaman. Informasi selanjutnya, John yang menurut kepolisian India datang ke pulau itu secara ilegal, ditemukan tak bernyawa di tepi pantai, dengan tubuh tertancap anak panah.

Sejak kejadian itu, banyak orang yang kemudian mencari tahu tentang keberadaan masyarakat suku Sentinel, tentu saja lewat mesin pencari Google.

Mengutip AFP, John dibawa oleh nelayan setempat mendekati Pulau Sentinel bagian Utara. Setelah dirasa cukup dekat, John lantas nekat memasuki pulau itu sendirian menggunakan sampan.

Diduga, kehadirannya sudah diketahui oleh orang-orang Sentinel. Begitu John menjejakkan kakinya ke pantai, ia langsung disambut hujan anak panah.

Tak mau didatangi orang asing

Meski peristiwa tewasnya turis asal AS itu sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia, tapi bukan berarti membuat dunia luar bisa tahu tentang kehidupan masyarakat suku Sentinel.

Faktanya juga tidak banyak yang bisa diketahui dari mereka. Berbagai literatur hanya menyebutkan bahwa Suku Sentinel merupakan kelompok masyarakat di kepulauan Samudera Hindia, yang tidak memiliki hubungan dengan dunia luar.

Pulau Sentinel memiliki luas sekitar 60 kilometer persegi. Dari pulau itu ke daratan India, jaraknya sekitar 1.200 kilometer.

Pemerintah India memperkirakan, saat ini populasi yang ada di Pulau Sentinel itu kira-kira 100 sampai 150 orang. Masyarakat Suku Sentinel disebut-sebut mempunyai bahasa sendiri yang tak pernah diucapkan oleh masyarakat lain di dunia ini.

Pulau itu menjadi milik india sejak tahun 1947, tapi diakui sebagai negara bagian yang berdaulat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat Sentinel berburu dan membuat ramu-ramuan dari alam.

Sedikitnya literatur tentang suku Sentinel disebabkan besarnya bahaya bagi orang asing yang masuk ke pulau tersebut. Masyarakat Sentinel tak pernah ragu memanah setiap orang asing yang datang.

Suku Sentinel mendiami salah satu pulau bagian utara di Kepulauan Andaman, India.

Bahkan, helikopter kepolisian India sempat mendapat serangan panah saat melintas di atas pulau itu. Untuk menjaga privasi dan kedaulatan masyarakat Sentinel, pada tahun 2017 Pemerintah India menerbitkan undang-undang yang melarang siapapun mengambil foto atau video terhadap suku-suku di Kepulauan Andaman, termasuk suku Sentinel.

Ketik terjadi tsunami besar tahun 2014, Pemerintah India menyatakan suku Sentinel selamat. Namun, pemerintah tak bisa melakukan inventarisir keadaan di pulau itu.

Helikopter pemerintah yang ingin memeriksa kondisi Pulau Sentinel pasca-tsunami, justru mendapat tembakan anak panah.

Suku Sentinel bukan satu-satunya suku terasing di Kepulauan Andaman di Samudera Hindia. Tapi, yang lain masih bisa membuka diri dan menerima peradaban dunia luar.

Sedangkan Suku Sentinel, tegas menolak orang asing menginjakkan kaki ke tanah mereka. Kalau ada yang nekat datang, maka anak panah siap menyambut.

Kisah antropolog TN Pandit

Mungkin, tidak ada orang yang lebih memahami suku Sentinel dibanding TN Pandit, seorang antropolog asal India. Sebagai pejabat Kementerian Suku Terasing India, Pandit telah mengunjungi suku yang mendiami pulau terpencil itu dalam rentang beberapa dekade.

Mengutip BBC seperti dilansir Kompas.com, pria yang kini berusia 84 tahun lebih itu bahkan sempat melakukan kontak langsung dengan mereka dan pulang dalam keadaan hidup untuk menceritakannya.

Terlepas dari insiden tewasnya John Allen Chau, Pandit menegaskan bahwa sebagian besar anggota suku Sentinel adalah warga yang cinta damai. Menurut dia, tuduhan tentang reputasi mereka yang menakutkan merupakan hal yang tidak adil.

“Selama kami melakukan interaksi, mereka mengancam kami, tetapi tidak pernah mencapai titik di mana mereka bermaksud membunuh atau melukai. Setiap kali mereka tampak tidak tenang, kami mundur perlahan,” katanya kepada BBC World Service.

“Saya berduka atas kematian anak muda yang datang jauh-jauh dari Amerika. Tapi dia melakukan kesalahan. Dia punya cukup kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi dia memilih bertahan dan membayar dengan nyawanya,” tambah Pandit.

Pandit pertama kali mengunjungi Pulau Sentinel Utara, yang hanya dihuni suku yang terisolasi itu, pada tahun 1967 bersama sebuah ekspedisi. Awalnya orang-orang Sentinel bersembunyi di hutan saat orang asing tiba, tetapi dalam perkembangan selanjutnya mereka menghadapi pendatang yang memasuki pulau mereka dengan melepaskan anak panah.

Pandit mengisahkan, selama perjalanan ke pulau itu, para antropolog membawa berbagai barang yang dimaksudkan sebagai oleh-oleh untuk memudahkan interaksi dengan orang-orang Sentinel.

“Kami membawa hadiah panci dan wajan, buah kelapa, alat-alat seperti palu dan parang panjang. Kami juga membawa serta orang Onge (suku lain di kepulauan Andaman) untuk membantu kami ‘menafsirkan’ percakapan dan perilaku orang-orang Sentinel,” ujar Pandit.

“Tapi meski begitu, orang-orang Sentinel menghadapi kami dengan raut wajah marah dan garang, serta bersenjata lengkap seperti busur dan panah panjang, semuanya dalam keadaan siaga mempertahankan wilayah mereka,” lanjutnya.

Meskipun tak banyak membuahkan hasil, sambung Pandit, mereka tetap meninggalkan hadiah di akhir kunjungan dengan harapan dapat membangun hubungan dengan komunitas misterius tersebut. Terkadang, hadiah itu diperlakukan berbeda.

Misalnya, saat mereka diberi hadiah seekor babi yang masih hidup dan dalam keadaan terikat, mereka langsung menombaknya dan mengubur bangkai hewan itu di dalam pasir.

Usaha Pandit berhasil

Dalam foto ini memperlihatkan TN Pandit sedang memberikan hadiah untuk salah seorang anggota suku di Pulau Sentinel. (F: BBC/TN Pandit)

Setelah beberapa kali melakukan ekspedisi akhirnya Pandit mendapat hasilnya pada tahun 1991, ketika suku tersebut secara damai beranjak dari pulau dan mendekati rombongan Pandit yang masih berada di perairan.

“Kami bingung mengapa mereka mengizinkan kami. Itu keputusan mereka sendiri untuk menemui kami dan pertemuan itu bisa terjadi dalam ketentuan yang mereka syaratkan,” kata dia.

“Kami turun dari perahu dan berdiri di dalam air setinggi leher, lalu membagikan kelapa dan hadiah lainnya. Tapi kami tidak diizinkan untuk melangkah ke pulau mereka,” kata Pandit.

Pandit mengaku, saat itu ia tidak terlalu khawatir kemungkinan akan diserang. Tapi ia tetap selalu berhati-hati saat berada di dekat warga suku Sentinel.

Ia mengatakan, anggota tim mencoba berkomunikasi dalam bahasa isyarat, tetapi tidak berhasil karena orang-orang Sentinel itu sebagian besar sibuk dengan hadiah yang mereka peroleh.

“Mereka berbicara di antara mereka sendiri yang kami tidak bisa memahami bahasanya. Kedengarannya mirip dengan bahasa yang diucapkan kelompok suku lainnya di wilayah itu,” kata Pandit.

Dalam satu kali tatap muka yang mengesankan selama di perjalanan, seorang anggota suku Sentinel yang masih muda sempat mengancamnya.

“Ketika saya membagikan kelapa, saya sedikit terpisah dari anggota tim dan saya ternyata bergerak mendekati pantai. Kemudian seorang pemuda suku Sentinel menyeringai, menghunus pisaunya dan memberi isyarat kepada saya bahwa dia akan memotong kepala saya. Saya segera berbalik naik perahu dan kami bergegas pergi.”

“Bahasa tubuh anak laki-laki itu sangatlah penting. Dia menjelaskannya bahwa saya tidak diterima,” lanjut Pandit.

Sejak saat itulah, Pemerintah India melarang ekspedisi dengan pemberian hadiah, dan bahkan orang asing dilarang mendekati pulau itu. Karena orang-orang Sentinel itu sepenuhnya terisolasi dari dunia luar maka mereka tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit “orang luar” seperti flu dan campak.

Sehingga mereka berisiko terpapar penyakit yang dibawa orang luar dan bisa saja berakibat mematikan bagi mereka. Itu sebabnya, kata Pandit, setiap anggota tim ekspedisinya harus mengikuti prosedur ketat agar tidak menularkan penyakit.

Hanya mereka yang sangat sehat yang diizinkan melakukan perjalanan ke Sentinel Utara. Walaupun pengalamannya melakukan pertukaran dengan orang-orang Sentinel diwarnai ketegangan, Pandit tegas menolak anggapan bahwa orang Sentinel memiiki sikap bermusuhan.

“Itu cara yang salah dalam melihatnya. Justru kita adalah penjajah di sini. Kita adalah orang-orang yang mencoba memasuki wilayah mereka,” katanya kepada harian The Indian Express.

“Orang-orang Sentinel adalah orang-orang yang cinta damai. Mereka tidak berusaha menyerang orang. Mereka tidak mendatangi daerah-daerah sekitar, dan menimbulkan masalah. Ini adalah insiden langka,” katanya kepada BBC, seperti dikutip dari Kompas.com.

Pandit mengatakan, dia mendukung dilakukan upaya pendekatan yang ramah dengan suku tersebut, tetapi menandaskan mereka tidak boleh diganggu.

“Kita harus menghormati keinginan mereka untuk dibiarkan hidup sendiri,” katanya.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin