Home Nusantara

Kuasa Hukum Jumhur Laporkan Kabareskrim Polri ke Komnas HAM

Tersangka petinggi KAMI, Jumhur Hidayat (kiri) saat tiba di gedung Bareskrim Polri Jakarta, Jumat (16/10/2020). F: cnnindonesia.com/antara.com

Barakata.id, Jakarta- Petinggi Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia (KAMI) Jumhur Hidayat melalui tim kuasa hukumnya, Nelson Nikodemus melaporkan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke Komnas HAM. Laporan itu terkait dugaan pelanggaran HAM oleh Listyo.

Listyo dan jajarannya, kata Nelson, diyakini melanggar unsur HAM dalam penangkapan dan proses hukum yang dilalui Jumhur terkait kasus dugaan berita bohong dan penghasutan unjuk rasa penolakan omnibus law UU Cipta Kerja.

Baca juga: 

“Apa yang dilanggar? Ada banyak, ya. Pertama, proses penangkapan yang tidak sesuai dengan standar, yaitu tidak menunjukkan tanda pengenal dan tidak menunjukkan surat penangkapan,” kata Nelson Nikodemus di Komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu (16/12/2020).

Pihaknya menilai kepolisian juga tidak konsisten dalam menyatakan pasal yang disangkakan kepada Jumhur. Ia mengatakan ketika pertama ditangkap, kliennya dituding menunggangi unjuk rasa.

Baca juga:

Namun saat sudah ditangkap, yang disangkakan justru Pasal 45 A Ayat (2) UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) terkait penyebaran informasi yang memicu kebencian dan permusuhan terhadap kelompok tertentu. Diketahui, Jumhur juga dijerat Pasal 160 KUHP terkait penghasutan.

Nelson mengatakan sangkaan tersebut tak berdasar, terlebih karena bukti yang dikaitkan adalah cuitan Jumhur di akun Twitter yang menurutnya hanya berupa kritik terhadap UU Ciptaker dan investor.

Begitu ditahan, kata dia, Jumhur juga tidak diberi akses untuk bertemu dengan kuasa hukum. Hingga hari ini, dia mengaku belum bisa bertatap muka langsung dengan kliennya.

Baca juga:

Jumhur juga tidak diperbolehkan memilih kuasa hukum yang mendampinginya ketika diperiksa aparat. Menurut dia, hal itu melanggar hak tiap orang untuk memilih kuasa hukumnya ketika terjerat hukum.

“Setelah ditahan di Bareskrim keluarga tidak boleh bertemu. Memang pernah bertemu sekali, tapi ya sudah itu saja. Dan pada saat bertemu (obrolan mereka) didengarkan oleh kepolisian,” ungkap Nelson.

Ia menyebut perlakuan aparat kepolisian dalam proses hukum Jumhur setidaknya sudah melanggar Pasal 18 ayat (1), Pasal 33 ayat (1), Pasal 46 ayat (1), Pasal 72, Pasal 55, dan Pasal 70 ayat (1).

Baca juga: 

CNNIndonesia.com telah berupaya menghubungi Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Argo Yuwono dan Kabareskrim Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo namun belum mendapat tanggapan.

Kasus yang menjerat Jumhur dan petinggi KAMI lainnya, Syahganda Nainggolan, sudah dirampungkan Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dan sudah dilimpahkan ke Kejari Medan pada 7 Desember lalu.

*****

Editor: Ali Mhd

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin