Home Jelajah Sejarah Kisah Batam Brick Works, Pabrik Batu Bata Pertama di Batam

Kisah Batam Brick Works, Pabrik Batu Bata Pertama di Batam

487
Batam Brick Works
Tim dari Disbudpar Batam menyurvei cerobong asap peninggalan pabrik batu bata pertama di Batam yang berada di Kawasan Tanjunguncang, Batuaji, Selasa (9/3/21). (F: Disbudpar Batam)
Himbauan Pemprov Kepri

Ikuti kami di Google Berita

Barakata.id, Batam- Sekitar tahun 1896 lalu, Batam Brick Works ini berdiri tegap di Tanjunguncang, Batuaji. Cerobong asapnya memiliki ukuran tinggi 3,5 meter, lebar 170 sentimeter. Cerobong asap ini diameternya 65 sentimeter dan tebal bangunan 52 sentimeter.

Ukuran cerobong asap itu diperoleh setelah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam menelusuri sisa-sisa pabrik batu bata pertama di Batam tersebut, Selasa (9/3/21).

Letak pasti cerobong asap itu ternyata berada di depan PT Viking Engineering di Kecamatan Batuaji. Kedatangan tim dari Disbudpar Batam ini membawa niat untuk memindahkan cerobong asap pabrik batu bata tersebut ke Museum Batam Raja Ali Haji. Sehingga menjadi salah satu koleksi di museum tersebut.

Baca Juga:

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Muhammad Zen mengatakan, kegiatan tersebut merupakan survei awal Disbudpar terkait rencana tersebut.

“Hari ini kami melihat sekaligus mengukur cerobong asap pabrik batu bata Batam Brick Works,” ujarnya.

Zen mengatakan pabrik batu bata ini yang pertama ada di Batam. Saat ini yang tersisa hanya cerobong asapnya saja. Dengan menjadikannya koleksi museum, maka pengunjung akan mengenal Batam Brick Works.

Kegiatan tersebut, menurut Zen merupakan kegiatan rutin Disbudpar Batam dalam upaya mencari dan mengembangkan Museum Batam.

Zen menuturkan, Batam Brick Works didirikan oleh Raja Ali Kelana bersama seorang pengusaha kaya dari Singapura bernama Ong Sam Leong.

“Itu sekitar tahun 1896 silam,” kata Zen.

Zen mengatakan, bangunan cerobong asap pabrik batu bata itu bersusun batu bata Batam Brick Works. Di masa itu batu bata Batam Brick Works memang sangat terkenal dan digunakan oleh banyak bangunan.

“Perigi tua atau sumur berdiameter 1,6 meter di Pulau Buluh dan Komplek Makam Temenggung Abdul Jamal di Kecamatan Bulang juga pakai batu bata dari pabrik tersebut,” tutur Zen.

Batu bata ini memiliki merek dagang BATAM (ditulis dengan huruf kapital) di bagian atas atau sampingnya. Di tangan Raja Ali Kelana Batam Brick Works mengalami masa jayanya.

“Dulu mampu memproduksi 30 ribu batu bata yang keras (hard burnt brick) per hari,” kata Zen.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata menyampaikan survei dan rencana memindahkan cerobong asap pabrik batu bata Batam Brick Works ke Musuem Batam Raja Ali Haji ini sebagai upaya Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk melindungi salah satu cagar budaya di Kota Batam.

Baca Juga:

“Kita akan terus menambah koleksi Museum Batam Raja Ali Haji,” terangnya.

Museum Raja Ali Haji ini berisi sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang.

Museum ini sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia.

***

Editor: Asrul R

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin