Home Catatan

Kemana Arah Pertanian Kabupaten Blitar, Sudah Sesuai Arahan Presiden?

20
Ketua PPI Cabang Kabupaten Blitar Mujianto
Ketua PPI Cabang Kabupaten Blitar Mujianto. (foto : istimewa)

Barakata.id, Opini – Kemana Arah Pertanian Kita Tiga persoalan yang akan dihadapi kedepan sebagaimana di sampaikan presiden Jokowi beberapa hari yang lalu adalah akan terjadinya krisis pangan, energi dan perubahan iklim global.

Dalam sektor pangan, persoalan yang dihadapi oleh negara sebenarnya juga seharusnya menjadi bagian penting yang harus diantisipasi dan dilakukan oleh pemerintah daerah, dalam hal ini Kabupaten Blitar.

Ada beberapa hal yang menjadi tantangan ketahanan pangan. Diantaranya :

  1. Sarana dan prasarana pertanian,
  2. Skala usaha tani kecil dan konversi lahan,
  3. Adanya dampak perubahan iklim,
  4. Akses pangan yang tidak merata,
  5. Food loss and waste yang tinggi,
  6. Regenerasi petani lambat dan
  7. Tantangan di inovasi dan diseminasi teknologi.

Di Kabupaten Blitar, ada dua kebutuhan pokok dari sector pertanian yang harusnya menjadi perhatian pemerintah daerah. Yaitu, kebutuhan beras sebagai makanan pokok bagi penduduknya, serta kebutuhan jagung sebagai kebutuhan bahan pakan ternak ayam petelur.

Karena, ini sebagai ikon kabupaten Blitar untuk mensuplay kota-kota lain di seluruh Indonesia. Belum lagi, kebutuhan-kebutuhan pangan yang lain.

Dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Blitar, produksi beras dalam tahun 2022 sekitar 2.514.804 kwintal, atau sekitar 251.480 ton setahun. Jika dihitung produksi perhari sebanyak 699 ton beras.

Jumlah kepala keluarga di Kabupaten Blitar tahun 2021 sebanyak 492.832, Jika rata-rata kebutuhan beras per kepala keluarga 1,5 kg perhari, maka dibutuhkan stok beras untuk konsumsi adalah 739 ton atau sekitar 739.248 ton selama setahun.

Sehingga, untuk kebutuhan beras sehari saja kita harus mensuplay dari daerah lain atau minus 41 ton perhari atau 14.649 ton setahun.

Seakan tidak terasa memang, tapi itulah realita yang jarang sekali kita menghitung kebutuhan riilnya, apalagi kita tidak pernah berfikir bagaimana mengembalikan konsep dan program swasembada sebagaimana yang dilakukan pada zaman pak Harto dulu.

Pada produksi jagung tahun 2021 mengalami penurunan dibanding dengan dua tahun sebelumnya, yaitu 3.247.668 kwintal, atau 324.767 ton, atau 902 ton perhari. Tahun 2020 sebanyak 401.440 ton, dan tahun 2019 sebanyak 391.806 ton.

Kebutuhan jagung untuk pakan ternak ayam petelur saja diproyeksikan sekitar 800 ton per hari atau 288.000 ton pertahun.

Nah, ketika tahun 2021/2020 terjadi kelangkaan atau mahalnya harga jagung sehingga mengakibatkan keresahan dan terjadinya aksi besar-besaran turun jalan dari peternak ayam petelur kita, itu adalah sesuatu yang sangat aneh. Sehingga terbersit asumsi ada apa dengan pemerintah daerah kita.

System antisipasinya seperti apa, atau system perlindungan bagi peternak kita bagaimana. Lha seharusnya surplus kok malah terjadi goncangan yang luar biasa yang mengakibatkan kerugian luar biasa bagi peternak?.

Sementara, dari sisi anggaran pertanian atau APBD tahun 2021 senilai 58, 340 milyar, dengan rincian 18,7 milyar untuk belanja pegawai, belanja barang dan jasa sebanyak 22,9 milyar, belanja hibah 12,198 milyar belanja bantuan sosial1,3 milyar. Sedangkan untuk belanja modal sekitar 2,8 milyar.

Tambah lagi, APBD tahun 2022 justru mengalami penurunan senilai 52, 740 milyar dengan rincian 22,5 milyar untuk belanja pegawai, belanja barang dan jasa sebanyak 17,3 milyar, belanja hibah 11,091 milyar, sedangkan untuk belanja modal sekitar 1,8 milyar.

Melihat postur anggaran tahun 2021 dan 2022 tersebut, perlu disampaikan ke publik bahwa khususnya sektor pangan, untuk menjawab pertanyaan dan kekhawatiran presiden jokowi sebagaimana di atas, perlu langkah-langkah dan kebijakan yang harus disampaikan kepada masyarakat, serta ke arah mana kebijakan sektor pangan di Kabupaten Blitar akan dibawa.

Apalagi saat ini krisis regenerasi petani telah dialami oleh beberapa daerah di kabupaten-kota lainnya.

Terakhir, salah satu kunci penting pertahanan negara adalah adanya stabilitas pangan, sumberdaya serta potensi alam yang ada di daerah sendiri maupun dalam negeri, yang menurut saya masih luas untuk dioptimalkan.

Pertanyaannya, kenapa untuk stabilisasi pangan harus import, jika import itu hanya mainan deri elit semata?

Semoga bermanfaat, Wassalamualaikum Wbr.

(Mujianto : Ketua umum Perhimpunan Pergerakan Indonesia atau PPI Pimpinan Cabang Kabupaten Blitar)

Dapatkan update berita setiap hari di Barakata.id. Yok! bergabung di Grup Telegram "KATA BARAKATA", caranya klik link https://t.me/SAHABATKATA, kemudian join. Juga ikuti Barakata.id di Google Berita. Lihat selengkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin