Kebebasan Pers Dikebiri, Koran di Australia Kompak Hitamkan Halaman Depan

26
Koran-koran di Australia kompak menutup halaman depan dengan tinta hitam sebagai bentuk protes terhadap terancamnya kebebasan pers. (F: Twitter @michael miller)

Barakata.id, Australia – Koran-koran besar di Australia kompak menutupi halaman depan koran dengan tinta hitam. Aksi itu sebagai bentuk protes terhadap dikebirinya kekebasan pers oleh pemerintah Australia.

Bukan hanya menampilkan teks-teks yang dicoreti tinta hitam, sejumlah koran ternama juga mennyertai cap merah bertuliskan “rahasia”.

Di antara koran yang melakukannya adalah News Corp Australia dan Nine.

Baca Juga : AJI Kecam Intimidasi Terhadap Jurnalis Al-Jazeera yang Menulis Isu Papua

Melansir BBC, Senin (21/10/19), koran besar melakukan protes ditujukan pada UU keamanan nasional, di mana menurut jurnalis  menghambat reportase dan menciptakan “budaya rahasia” di Australia.

Pemerintah mengklaim kebebasan berpendapat. Namun mereka menyatakan “tidak ada yang berada di atas hukum”.

Juni lalu, polisi menyerbu kantor  Australian Broadcasting Corporation  (ABC) dan rumah salah satu jurnalis News Corp, dan menimbulkan protes besar

Dalam keterangannya, media besar Negeri “Kanguru” menyatakan penyerbuan itu berkaitan dengan artikel soal bocornya informasi.

Antara lain terkait dugaan kejahatan perang. Menyangkut laporan investigasi pada 2017, dikenal sebagai The Afghan Files.

Berdasarkan pemberitaan ABC, serangkaian peliputan itu mengungkapkan “tuduhan pembunuhan dan pelanggaran hukum pasukan khusus Australia di Afghanistan”.

Sementara laporan lain menyebut adanya dugaan badan pemerintah sedang berupaya melakukan kegiatan penyadapan atas warganya sendiri.

Direktur Eksekutif News Corp Australia Michael Miller membagikan sejumlah halaman depan koran seperti The Daily Telegraph dan The Australian di Twitter.

“Setiap kali pemerintah menerapkan larangan baru bagi jurnalis, warga Australia harusnya bertanya ‘apa yang mereka coba sembunyikan dari saya?’,” ucap Miller.

Sementara editor Sydney Morning Herald Lisa Davies juga membagikan gambar serupa. “Ini bukan kampanye bagi jurnalis. Namun demi demokrasi Australia,” tegasnya.

Baca Juga : Aksi Jurnalis Batam: Pak Polisi, Jurnalis Bukan Penjahat, Jangan Disikat

Sementara Managing Director ABC  David Anderson mengatakan, Australia berada di ambang sebagai negara dengan demokrasi tertutup dunia.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan, kebebasan pers penting bagi demokrasi. Namun “aturan hukum” harus ditegakkan.

“Itu termasuk saya, atau rekan-rekan jurnalis, atau siapa pun,” ujar PM Morrison dalam konferensi pers Minggu. Temuan penyelidikan dugaan kebebasan pers bakal diungkap pekan depan.

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here