Home Warta Ekonomi Jumlah Warga Miskin Meningkat Selama Pandemi, Terburuk Selama 30 Tahun Terakhir

Jumlah Warga Miskin Meningkat Selama Pandemi, Terburuk Selama 30 Tahun Terakhir

Kereta API
Ilustratrasi; DMobilMobil/Freepik
Himbauan Pemprov Kepri

Ikuti kami di Google Berita

Berakata.id, Ekonomi – Pandemi Covid-19 telah memperburuk kondisi ekonomi banyak warga dunia. Kemiskinan kian merajalela, masyarakat kecil semakin terhimpit, sedangkan kalangan menengah kondisi ekonominya turut merosot tajam. PHK terjadi di mana-mana. Apalagi, para kaum miskin ini paling kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2021 berjumlah 27,54 juta orang. Tak hanya di Indonesia, tingkat kemiskinan dunia pun meningkat tajam. Jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan semakin melonjak.

Pandemi ini diperkirakan juga telah mendorong 143-163 juta orang ke jurang kemiskinan tahun 2021. Tak hanya itu, Covid-19 juga telah meningkatkan kemiskinan sebesar 8,1% pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019 yang meningkat dari 8,4% menjadi 9,1%.

Jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan internasional untuk negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah dan atas diproyeksikan meningkat pada tingkat kemiskinan sebesar 2,3 poin persentase.

Hampir setengah dari penduduk miskin baru yang diproyeksikan, berada di Asia Selatan, dan lebih dari sepertiga di Afrika Sub-Sahara. 

Bahkan, di Timur Tengah dan Afrika Utara, tingkat kemiskinan ekstrem hampir dua kali lipat antara 2015 dan 2018, dari 3,8% menjadi 7,2%, didorong oleh konflik di Republik Arab Suriah dan Republik Yaman.

Proyeksi saat ini menunjukkan bahwa kemakmuran bersama akan turun tajam di hampir semua ekonomi pada 2020-2021, akibat beban ekonomi pandemi dirasakan di seluruh distribusi pendapatan.

Maka tak salah ketika banyak pakar berpendapat bahwa Covid-19 telah mengakibatkan kondisi terburuk dalam upaya pengurangan kemiskinan global selama tiga dekade terakhir.

Kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan pun mengalami banyak kekurangan yang menghambat mereka untuk mewujudkan hak-hak hidup yang layak, di antaranya lingkungan kerja yang berbahaya, tempat tinggal tidak aman, kekurangan gizi, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan.

Baca juga : Ekonomi Sulit dan Bahaya Covid-19 Tak Bikin Perokok Kapok, Pemprov DKI Tetapkan Aturan Merokok Ketat

Fokus utama pemerintah

Kondisi yang sedemikian akut ini telah mendorong pemerintah untuk fokus dalam pengentasan kemiskinan melalui serangkaian kebijakan untuk memulihkan ekonomi pasca pandemi.

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang merata bagi seluruh masyarakat. Apalagi, pandemi Covid-19 masih berlangsung di berbagai belahan dunia sehingga turut berkontribusi meningkatkan angka kemiskinan.

Oleh karena itu, seluruh negara perlu ikut berpartisipasi dalam Hari Pengentasan Kemiskinan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 17 Oktober. Pada momen ini setiap negara wajib melakukan upaya terbaik untuk menggerakkan kekuatan politik dan sumber daya demi mengentaskan masalah kemiskinan.

Peringatan Pengentasan Kemiskinan Internasional tahun 2021 ini pun mengangkat tema penting yang relevan dengan kondisi saat ini, yakni “Building Forward Together: Ending Persistent Poverty, Respecting all People and our Planet.” 

Harapannya, seluruh masyarakat dunia dapat meningkatkan kesadaran dan saling mendukung demi mencapai kehidupan yang layak dan lebih sejahtera. Saat dunia menuju pemulihan pasca Covid-19 maka masyarakat harus membangun kehidupan masa depan yang lebih baik.

Masa depan yang lebih baik tersebut pun tak hanya dinilai dari menurunkan tingkat kemiskinan, tetapi juga melakukan berbagai upaya yang berkaitan dengan relasi manusia dengan alam, serta hubungan sosial antar masyarakat.

Membangun ke depan berarti mengubah hubungan manusia dengan alam, merevolusi diskriminasi yang kerap merugikan orang-orang miskin, serta membangun kerangka moral dan hukum berdasarkan hak asasi manusia yang menempatkan martabat manusia sebagai landasan mengambil kebijakan dan tindakan.

Selain itu, membangun ke depan juga berarti mendorong dan mendukung secara aktif orang yang hidup dalam kemiskinan untuk berada di depan, terlibat dalam partisipasi yang terinformasi dan bermakna dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. 

Dalam membangun ke depan, masyarakat juga perlu meningkatkan kebijaksanaan, energi, dan sumber daya yang dapat disumbangkan untuk orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, komunitas, dan pada planet bumi tercinta.

Baca juga :Refleksi Akhir Tahun, Kemendes PDTT Salurkan Dana Desa Tercapai 99,95 persen

Sejarah peringatan

Peristiwa 17 Oktober merupakan tanggal yang ditetapkan sebagai Hari Pengentasan Kemiskinan Sedunia. Awalnya, peringatan ini dimulai pada 17 Oktober 1987, saat lebih dari 100.000 orang berkumpul di Paris, Prancis, untuk menghormati para korban kemiskinan, kekerasan, dan kelaparan ekstrem.

Sejak saat itu, individu dan organisasi di seluruh dunia memperingati 17 Oktober sebagai hari untuk memperbarui komitmen bersama dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Kemudian pada Desember 1992, Majelis Umum PBB secara resmi menyatakan 17 Oktober sebagai tanggal Hari Internasional untuk Pemberantasan Kemiskinan, yakni dalam resolusi 47/196 tanggal 22 Desember 1992.

Pada bulan Desember 1995, Majelis Umum PBB memproklamasikan Dekade Pertama PBB untuk Pemberantasan Kemiskinan (1997–2006), setelah KTT Sosial Kopenhagen.

Kemudian pada KTT Milenium pada tahun 2000, para pemimpin dunia berkomitmen untuk mengurangi setengah jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem pada tahun 2015.

SebelumnyaBikin Prihatin, Kesetaraan Gender di Indonesia Masih Rendah!
SelanjutnyaMembandingkan Perpustakaan Sekolah di Indonesia Vs Inggris, Australia, dan China

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin