Industri Batam Sedang Loyo

44
Ilustrasi. Serikat pekerja di Batam menggelar aksi damai di depan kantor Pemko Batam saat Hari Buruh Sedunia, beberapa waktu lalu. (F: Barakata.id/ Ist)

Barakata.id, Batam – Industri di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) sedang loyo. Hal itu tampak dari akan berhentinya operasional sejumlah perusahaan.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Said Iqbal mengungkapkan ada dua pabrik di Batam yang akan tutup. Rencana penutupan pabrik ini berdampak pada sektor tenaga kerja.

Namun, di luar persoalan itu, bagaimana sebenarnya kondisi iklim manufaktur di Batam? 

Baca Juga : Batam Butuh Operasi Caesar untuk Urai Hambatan Investasi

Said Iqbal menilai persoalan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan perusahaan-perusahaan di Batam dapat terurai seandainya ada investasi baru yang masuk ke Batam.

Namun, apa yang terjadi di Batam, menurutnya sudah jalan di tempat. Investasi baru yang masuk tidak cukup banyak menyerap tenaga kerja yang terkena PHK. 

“Di Batam, mayoritas perusahaan elektronik dan turunannya. Otomotif di Batam, sedikit sekali. Sebelumnya satu tahun lalu, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bintan, ada industri tekstil tutup. Tapi di Bintan juga yang bertambah, industri pariwisata. Tapi Batam stuck,” kata Iqbal, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (13/8/19). 

Menurut Iqbal, meski pemerintah saat ini tengah berfokus pada pengembangan Industri 4.0, sektor manufaktur yang pertumbuhannya melambat juga perlu diperhatikan. 

“Kita ingin usulkan ke Pak Jokowi, selain mempersiapkan industri 4.0, digitalisasi, atau robotik, seharusnya sektor manufaktur diperhatikan karena masih ada celah untuk menarik investor membangun pabrik di Indonesia,” ucapnya. 

Terkait persoalan PHK di Batam, Said Iqbal memandang persoalan ini terjadi lantaran kebijakan pelaku usaha untuk mengurangi jumlah produksi barang mereka. Langkah efisiensi pun ditempuh. 

Pengurangan produksi, kata Iqbal, terjadi akibat pertumbuhan ekonomi yang belum baik dan beberapa regulasi kepabeanan dan pajak yang dianggap menjadi rintangan para pengusaha di Batam.  Dalam pernyataan sebelumnya, menurut Said Iqbal potensi PHK di sektor elektronik di Batam mendera sekitar 2.000 tenaga kerja.

Baca Juga : Tumpukan Limbah B3 Ganggu Industri di Batam

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri manufaktur di Kepri, dalam tren melambat setahun terakhir. Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) Provinsi Kepri Triwulan III-2018 sempat tumbuh positif 5,64 persen dibandingkan Triwulan II-2018.

Namun, pada triwulan IV-2018 melambat menjadi 3,79 persen dibandingkan Triwulan III-2018. Lalu pada triwulan I-2019 mengalami kontraksi perlambatan sampai 2,64 persen dibandingkan Triwulan IV-2018.

Titik nadir terjadi pada triwulan II-2019, sektor ini hanya tumbuh positif sebesar 2,55 persen dibandingkan Triwulan I-2019. Provinsi Kepri, kontribusi industri manufaktur mencapai 36,86 persen.

*****

Sumber : CNBC Indonesia

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini