Home Warta Dunia

Hongkong Rusuh, Pendemo Rusak Gedung Parlemen

215
Massa pendemo meruksa Gedung Parlemen Hongkong dalam aksi unjuk rasa memperingati 22 tahun penyerahan Hongkong dari Inggris kepada Cina, (F: Reuters/Tyrone Slu)

Hongkong – Situasi di Hongkong saat ini sedang tidak kondusif. Kerusuhan pecah setelah ratusan orang pendemo yang bentrok dengan polisi kemudian berhasil menyerbu kompleks pemerintahan dan merusak gedung parlemen Hongkong.

Aksi unjuk rasa yang diikuti puluhan ribu orang itu digelar memperingati 22 tahun penyerahan wilayah Hongkong dari Inggris kepada Cina. Kerusuhan sudah terlihat pada Senin (1/7) malam, ketika massa pendemo terlibat bentrokan dengan polisi usai pengunjuk rasa bertopeng menyerbu parlemen Hong Kon.

Saat ratusan pendemo yang didominasi anak-anak muda berpakaian hitam-hitam itu memasuki gedung parlemen, mereka merusak kaca dan mencorat-coret bagian dalam gedung. Tindakan pendemo sudah diultimmatum oleh polisi agar segera dihentikan, tapi massa menolak berhenti.

Dikutip dari AFP, Selasa (2/7), ratusan pendemo berhasil menerobos barikade polisi yang sejak pagi menjaga gedung pemerintahan di kompleks Admiralty, yang terletak di pusat kota. Sementara itu, kepolisian terus menerus menyampaikan ultimatum agar demonstran menghentikan unjuk rasa.

Aksi yang semula berbentuk pawai damai itu sudah berlangsung sejak Senin sore. Massa menyerukan pemimpin kota pro-Beijing untuk mundur dan membalikkan apa yang mereka lihat sebagai kemunduran demokrasi dan kebebasan.

“Tidak ada pengunjuk rasa yang kejam, hanya tirani,” sebuah spanduk yang dibentangkan pengunjuk rasa, dilansir AFP.

Setelah berhasil memasuki kompleks pemerintahan, massa bertahan di dalam hingga Selasa dini hari. Massa pendemo juga merobek potret para pemimpin kota, mengibarkan bendera era kolonial Inggris di ruang utama dan menyemprot lambang kota dengan cat hitam.

“Hong Kong bukan Cina,” teriak massa.

Pendemo bentrok dengan polisi dalam aksi memperingati 22 tahun penyerahan Hongkong dari Inggris kepada Cina. (F: Reuters/Tyrone Slu)

Taka lama setelah itu, polisi dari segala penjuru merangsek memukul mundur demonstran menggunakan gas air mata dan pentungan.

Pemimpin administratif Hong Kong, Carrie Lam, dalam jumpa pers pagi hari waktu setempat menyatakan mengutuk aksi para pengunjuk rasa. Hal itu juga ditentang oleh Kepala Kepolisian Hong Kong, Stephen Lo.

“Demonstrasi itu sudah penuh kekerasan. Perbuatan mereka mengejutkan dan mengecewakan,” kata Lam, dikutip dari CNN.

“Aksi kekerasan yang dilakukan para demonstran sudah jauh dari batas-batas menyampaikan pendapat secara damai,” sambung Stephen.

Massa frustasi pemerintah tak penuhi tuntutan

Sementara itu, seorang pengunjuk rasa Cheung (24) mengaku, mereka merasa sudah frustasi karena pemerintah tidak kunjung mendengar tuntutan masyarakat. Baik soal tuntutan menjamin demokrasi dan membatalkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi.

“Kami tahu ini melanggar hukum, tapi kami tidak punya pilihan lain,” kata Cheung.

Baca Juga : Kerusuhan 22 Mei, Polisi Sudah Kantongi Identitas Aktor Intelektual

“Kami sudah berdemo, menduduki, tetapi pemerintah tetap diam. Kami harus memperlihatkan kepada pemerintah kami tidak akan diam dan tak berbuat apapun,” kata pengunjuk rasa lainnya, Joey (26).

Mereka juga menuntut untuk bisa memilih secara bebas calon pemimpin wilayah itu di masa mendatang.

Tahun ini, gerakan pro demokrasi Hong Kong memang tampil cukup keras dalam menyuarakan tuntutan mereka, setelah aksi unjuk rasa menolak pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi berakhir dengan bentrokan. Sejumlah aktivis sampai sekarang juga masih ditahan polisi.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin