Home Catatan Hari Palang Merah Indonesia, Mengenal Sosok Relawan Perempuan Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Hari Palang Merah Indonesia, Mengenal Sosok Relawan Perempuan Dalam Perjuangan Kemerdekaan

40
Hari Palang Merah Indonesia
Dr. Bahder Djohan, sebagai wakil dari PMI menandatangani naskah serah terima Palang Merah dari NERKAI, tanggal 16 Januari 1950. (Dok. Kompas)
Himbauan Pemprov Kepri

Setiap tanggal 3 September, kita memperingati Hari Palang Merah Indonesia (PMI). Pada tahun 2021 ini di usia PMI yang genap 76 tahun, kita kembali mengingat semangat kemanusiaan yang digaungkan oleh PMI, bahkan sejak kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya, Palang Merah Indonesia secara resmi berdiri pada 17 September 1945. Akan tetapi, inisiatif pembentukan PMI sudah dimulai sejak 3 September 1945, hanya selang beberapa minggu dari proklamasi kemerdekaan.


Pada hari itu, Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional. Tujuannya yakni untuk menunjukan kepada dunia internasional keberadaan Negara Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Segera pada 5 September 1945, dr. Buntaran membentuk Panitia Lima yang terdiri atas dr. R. Mochtar, dr. Bahder Johan, dr. Joehana, Dr. Marjuki dan dr. Sitanala. Tim ini bertugas mempersiapkan pembentukan Palang Merah di Indonesia.

Kemudian tepat pada tanggal 17 September 1945, terbentuklah Pengurus Besar Palang Merah Indonesia yang diketuai oleh pertama, Drs. Mohammad Hatta. Bung Hatta pun resmi menjadi ketua pertama PMI.

PMI pun terus melakukan pemberian bantuan hingga akhirnya Pemerintah Republik Indonesia Serikat mengeluarkan Keppres No. 25 tanggal 16 Januari 1950 dan dikuatkan dengan Keppres No. 246 tanggal 29 November 1963.

Pemerintah Indonesia pun mengakui keberadaan PMI. Tugas utama PMI berdasarkan Keppres RIS No. 25 tahun 1950 dan Keppres RI No. 246 tahun 1963 ialah untuk memberikan bantuan pertama pada korban bencana alam dan korban perang sesuai dengan isi Konvensi Jenewa 1949.

Pada 15 Juni 1950, secara Internasional, keberadaan PMI diakui oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Setelah itu, PMI diterima menjadi anggota Perhimpunan Nasional ke-68 oleh Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Liga) yang sekarang disebut Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) pada Oktober 1950.

Srikandi PMI

Kiprah perempuan di PMI juga sudah dimulai sejak pembentukan PMI, yaitu pada awal kemerdekaan RI. Banyak relawan perempuan yang bergabung dengan PMI untuk berjuang memberikan pertolongan medis di garda terdepan, di tengah kalutnya perang mempertahankan kemerdekaan.

Salah satunya Djoewariyah Soehardi. Perempuan yang kini berusia 88 tahun ini memutuskan bergabung bersama PMI ketika Agresi Militer II Belanda berkecamuk di Yogyakarta, 19 Desember 1948.

Perempuan yang akrab dipanggil Eyang Djoewariyah ini bercerita kondisi kala itu begitu mencekam. Belanda mulai melancarkan serangannya menyerbu hingga ke jantung kota.

Fajar belum juga terbit, suara pesawat-pesawat tempur dan ledakan keras terdengar dari lapangan udara Maguwo. Keadaan Yogyakarta kacau balau, ribuan penduduk terpaksa mengungsi ke arah selatan.

Tapi tidak dengan Djoewariyah. Hatinya terketuk untuk turut membantu prajurit perang. Ia memutuskan tak ikut mengungsi, Djoewariyah remaja memilih menjadi tim Palang Merah Indonesia.

Perempuan kelahiran 25 Desember 1933 tersebut mengikuti prajurit dalam perang gerilya, dan siaga memberi pertolongan pertama pada tentara yang tertembak. Tangannya dengan telaten merawat para prajurit Indonesia yang terluka.

Tak hanya itu, Djoewariyah juga berada di garda terdepan saat serangan umum 1 Maret 1949. Dia adalah orang pertama yang merawat para pejuang yang terluka saat pertempuran saat itu.

Sosoknya sebagai Srikandi PMI baru satu dari sekian banyak sosok perempuan yang dengan berani berjuang menjadi relawan PMI.

Terus berjuang

Sepak terjang PMI pun masih terus tercatat hingga kini. Peran PMI semakin penting sejak pandemi Covid-19 membuat bangsa ini sakit. Berbagai upaya kian mereka kerahkan untuk membantu penanggulangan pandemi, membantu masyarakat yang membutuhkan.

Di Jakarta, pada Bulan Dana PMI yang jatuh setiap September, PMI menggalang donasi untuk membantu penanggulangan pandemi. Pada 2020, dana yang terkumpul mencapai Rp29 miliar dari target awal Rp21 miliar. Tahun 2021 ini, PMI kembali menggalang dana dengan target Rp25 miliar.

Di Kabupaten Bogor, Palang Merah Indonesia membentuk relawan palang merah di tiap kelurahan/desa untuk mempercepat penanggulangan kemanusi­aan di Kabupaten Bogor. Targetnya, akan ada 20 relawan di setiap desa untuk memudahkan penanggulangan kemanusiaan yang lebih cepat.

Lalu di Sulawesi Selatan, relawan PMI Luwu Utara bersama BPBD, melakukan distribusi air minum dalam kemasan galon kepada masyarakat terdampak banjir di Desa Lembang-Lembang Kecamatan Baebunta Selatan.

Tak hanya Lembang-lembang Kecamatan Baebunta Selatan, PMI Luwu Utara juga mendistribusi air bersih ke Desa Waelawi Kecamatan Malangke Barat untuk membantu meringankan beban warga yang kesulitan dalam memperoleh air bersih untuk dikonsumsi.

*****

Penulis : Elsa Amanda (Anggota Perempuan Indonesia Satu)

BACA JUGA :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin