Home Warta Ekonomi Harga Tiket Pesawat Turun hingga Akhir Tahun

Harga Tiket Pesawat Turun hingga Akhir Tahun

1018
Harga Tiket Pesawat
Foto ilustrasi

Barakata.id, Jakarta – Harga tiket pesawat mulai hari ini akan lebih murah dari sebelumnya. Hal itu setelah pemerintah memberikan subsidi harga tiket untuk calon penumpang yang akan melakukan penerbangan domestik.

Inisiatif pemerintah memberikan subsidi harga tiket untuk penerbangan domestik mulai 23 Oktober hingga 31 Desember 2020 langsung direspon positif sejumlah maskapai penerbangan dengan mengeluarkan kebijakan memangkas harga tiket.

Corporate Communication Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengaku menyambut hangat kabar baik tersebut. Sebab, dengan ditanggungnya biaya PJP2U oleh APBN, diharapkan terjadi tren pertumbuhan penumpang pesawat.

Untuk diketahui, PJP2U atau Passenger Service Charge (PSC) merupakan komponen biaya yang dibayarkan kepada pengelola bandara yang dibebankan kepada penumpang. PJP2U sendiri telah masuk ke dalam harga tiket penumpang. Sehingga, dengan dibebaskannya PJP2U, otomatis harga tiket pun akan turun.

Diharapkan, turunnya harga tiket pesawat akan mampu merangsang masyarakat untuk melakukan perjalanan udara.

“Harapannya agar tren dan pertumbuhan penumpang pesawat udara membaik (naik),” katanya, Kamis (22/10/20).

Baca Juga :

Ia mengatakan, Lion Air Group akan mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan pemerintah. Artinya, mulai besok, harga tiket untuk penerbangan ke 13 destinasi akan lebih murah.

Hal senada disampaikan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra. Ia menegaskan, pihaknya akan memaksimalkan upaya dalam rangka menyukseskan upaya pemerintah.

“Harapannya tentu makin banyak penumpang yang naik Garuda,” ujar Irfan, dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (23/10/20).

Ia memastikan calon penumpang di destinasi yang ditetapkan akan mendapat harga tiket lebih murah dari normal mulai besok hingga akhir tahun.

“Kami juga telah memastikan kesiapan infrastruktur pendukung dalam mengimplementasikan penyesuaian tarif tiket pesawat yang akan kami berlakukan secara menyeluruh pada seluruh kanal penjualan tiket Garuda Indonesia sesuai dengan kebijakan yang diatur mengenai stimulus PJP2U oleh Kementerian Perhubungan RI tersebut,” tutup Irfan.

Gairahkan pariwisata dan UMKM

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Novie Riyanto mengatakan, pemberian subsidi harga tiket pesawat berlaku untuk penerbangan mulai 23 Oktober sampai 31 Desember 2020. Ia menegaskan, calon penumpang akan dibebaskan biaya Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) untuk tiket penerbangan sebelum 1 Januari 2021,.

Namun, penghapusan tarif PJP2U hanya diberikan untuk penerbangan yang dilakukan di 13 bandara yang merupakan penopang sektor pariwisata. Khusus ditargetkan kepada bandara tertentu, stimulus diharapkan tidak hanya merangsang mobilitas masyarakat tapi juga menggerakkan sektor penerbangan, pariwisata, dan sektor turunannya.

“Diharapkan dengan stimulus masyarakat akan mendapat keringanan dengan berbagai tujuan yang akhirnya akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah seperti industri pariwisata, sektor UMKM,” katanya pada jumpa pers secara virtual, Kamis (22/10/20).

Ketiga belas bandara yang dimaksud adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK), Bandara Internasional Hang Nadim, Batam (BTH), Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang (KNO), dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar (DPS).

Kemudian, Bandara Internasional Kulon Progo, Yogyakarta (YIA), Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta (HLP), Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok, Praya (LOP) dan Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang (SRG).

Selanjutnya, Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, (MDC), Bandara Internasional Labuan Bajo (LBJ), Bandara Internasional Silangit, Tapanuli Utara (DTB), Bandara Internasional Blimbingsari, Banyuwangi (BWX), dan Bandara Internasional Adi Sucipto, Yogjakarta (JOG).

Untuk stimulus transportasi kepariwisataan, pemerintah mengucurkan dana total Rp216,55 miliar yang terdiri dari pembebasan tarif PJP2U senilai Rp175,74 miliar dan stimulus kalibrasi fasilitas penerbangan yaitu Rp40,81 miliar.

Tak hanya stimulus untuk penumpang, pemerintah juga memberikan keringanan kepada operator di 13 bandara tersebut.

Artinya, biaya kalibrasi fasilitas penerbangan dan alat bantu pendaratan pesawat yang biasanya dibebankan kepada operator bandara, untuk dua bulan ke depan dibebankan kepada pemerintah.

Tujuannya, untuk meringankan beban biaya operasional operator bandara akibat pandemi Covid-19.

“Bagi operator penerbangan maupun operator bandara dengan stimulus PJP2U semoga menjadi berita baik, dengan harapan peningkatan pengguna jasa transportasi udara. Namun di sisi lain, para stakeholder penerbangan tetap diwajibkan mentaati SE Dirjen Nomor 13 Tahun 2020,” kata Novie.

*****

Editor : YB Trisna

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin