Home Nusantara Habib Rizieq Shihab: Saya Belum Pantas Disebut Imam Besar

Habib Rizieq Shihab: Saya Belum Pantas Disebut Imam Besar

29
Habib Rizieq Shihab Imam Besar
Habib Rizieq Shihab. (Foto: EPA-EFE/Bagus Indahono)
Himbauan Pemprov Kepri

Barakata.id, Jakarta – Habib Rizieq Shihab (HRS) menegaskan bahwa ia tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai imam besar. Menurutnya, sebutan imam besar itu datang dari umat Islam di berbagai daerah di Indonesia.

“JPU yang terhormat, ketahuilah bahwa saya tidak pernah menyebut diri saya sebagai imam besar, apalagi mendeklarasikan diri sebagai imam besar, karena saya tahu dan menyadari betul betapa banyak kekurangan dan kesalahan yang saya miliki, sehingga saya pun berpendapat bahwa saya belum pantas disebut sebagai imam besar,” kata Habib Rizieq Shihab saat membacakan duplik atau tanggapan replik Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait kasus swab RS Ummi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Kamis (17/6/2021).

Ia mengatakan, sebutan imam besar merupakan tanda cinta pendukungnya kepada dirinya.

“Sebutan imam besar untuk saya datang dari umat Islam yang lugu dan polos serta tulus di berbagai daerah di Indonesia. Saya pun berpendapat bahwa sebutan ini untuk saya agak berlebihan. Namun saya memahami bahwa ini adalah romzul mahabbah, yaitu tanda cinta dari mereka terhadap orang yang mereka cintai,” kata dia.

BACA JUGA : Pledoi Habib Rizieq: Semua Kasus Saya karena Ahok Kalah Pilgub Jakarta

Habib Rizieq Shihab mengaku tidak tersinggung ketika jaksa menyatakan sebutan ‘imam besar hanya isapan jempol’. Sebab, menurutnya, sebutan imam besar dari umat Islam di Indonesia, bukan pernyataan dari dirinya.

Dia mengaku tak tersinggung jika jaksa meragukan sebutan imam besar itu. Namun dia khawatir umatnya menganggap pernyataan itu sebagai hinaan.

Ucapan Habib Rizieq tersebut menanggapi pernyataan Jaksa sebelumnya yang menyebutkan bahwa
gelar imam besar cuma isapan jempol belaka. Dalam replik yang dibaca, Jaksa menyampaikan Rizieq acap kali menyampaikan kata-kata yang tidak sehat dan emosional.

Jaksa juga menilai Rizieq sembarangan menuding lewat pleidoi pada persidangan 10 Juni kemarin.

“Sudah biasa berbohong, manuver jahat, ngotot, keras kepala, iblis mana yang merasuki, sangat jahat dan meresahkan, sebagaimana dalam pleidoi. Kebodohan dan kedunguan, serta kebatilan terhadap aturan dijadikan alat oligarki sebagaimana pada pleidoi,” kata jaksa saat itu.

Menurut Jaksa, kalimat-kalimat tidak etis tidak pantas diucapkan oleh tokoh agama.

“Kalimat-kalimat seperti inilah dilontarkan terdakwa dan tidak seharusnya diucapkan yang mengaku dirinya ber-akhlakul karimah, tetapi dengan mudahnya terdakwa menggunakan kata-kata kasar sebagaimana di atas. Padahal status terdakwa sebagai guru, yang dituakan, tokoh, dan berilmu ternyata yang didengung-dengungkan sebagaimana imam besar hanya isapan jempol belaka,” tutur jaksa.

Rizieq Khawatir Pengadilan Dikepung Pendukungnya

Pada sidang tersebut, Habib Rizieq Shihab juga mengaku khawatir kalau PN Jaktim akan ‘dikepung’ pendukungnya pada sidang vonis nanti. Menurut dia, pernyataan jaksa itu bisa menimbulkan kebencian di kalangan pendukungnya.

“Dan saya lebih khawatir lagi kalau hinaan JPU tersebut akan ditafsirkan oleh umat Islam Indonesia sebagai tantangan, sehingga akan jadi pendorong semangat mereka untuk datang dan hadir serta mengepung dari segala penjuru Pengadilan Negeri Jakarta Timur ini, untuk menyaksikan langsung sidang terakhir, yaitu sidang putusan pada hari Kamis tanggal 24 Juni 2021 yang akan datang,” kata dia.

BACA JUGA : Habib Rizieq Pakai Syal Palestina di Sidang, Hakim Minta Dicopot

HRS pun menasihati jaksa agar berhati-hati dalam berkata terkait sebutan imam besar. Menurutnya, pendukungnya siap membela dirinya jika dihina orang lain.

“Nasihat saya kepada JPU agar hati-hati. Jangan menantang para pecinta, karena cinta itu punya kekuatan dahsyat, yang tak kan pernah takut akan tantangan dan ancaman. Saya tidak bisa membayangkan di masa pandemi yang semakin parah ini, bagaimana jika jutaan pecinta yang kemarin menyambut kepulangan saya di Bandara terprovokasi oleh tantangan JPU, lalu berbondong-bondong mendatangi pengadilan ini dari segala penjuru,” kata dia.

Habib juga menyebut bahwa pendukungnya lebih dari 7 juta orang, angka ini disebutnya dari beberapa aksi.

“Apalagi jika 7,5 juta peserta aksi 212 tahun 2016, terlebih-lebih 15 juta peserta reuni 212 tahun 2018, yang datang berbondong-bondong mengepung pengadilan ini untuk menyambut tantangan JPU sekaligus membuktikan kekuatan cinta mereka, maka saya lebih tidak bisa membayangkannya lagi,” ujarnya.

“Sekali lagi nasihat saya untuk JPU dan juga untuk semua musuh yang membenci saya, hati-hati, jangan menantang para pecinta, karena cinta tidak akan pernah bisa dikalahkan dengan kebencian,” sambung Rizieq.

*****

Editor : YB Trisna

Sumber : Detik.com

Advertisement
SebelumnyaHari Ini 9.568 Orang dari 9 Lokasi di Batam Divaksin Covid-19
SelanjutnyaRudi Yakin Penataan Simpang Tembesi Selesai Tepat Waktu