Home Warta Ekonomi Dukungan Pertamina Bikin Industri Keripik Singkong di Natuna Meroket

Dukungan Pertamina Bikin Industri Keripik Singkong di Natuna Meroket

68
Pertamina Natuna
Samsinar, pelaku UMKM di Kabupaten Natuna mengolah singkong menjadi keripik di rumahnya. Samsinar adalah salah satu penerima program bantuan CSR dari Pertamina yang usahanya terus meningkat. (F: barakata.id/sholeh ariyanto)

Melalui program CSR tahun 2018 lalu, PT Pertamina mengucurkan dana UMKM bagi pelaku home industri pengolahan keripik singkong di Desa Sungai Ulu, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Kucuran dana tersebut kini mampu membangkitkan perekonomian warga secara berkelanjutan.

Penulis : Sholeh Ariyanto

Di gubuk berukuran 3 meter x 4 meter, Samsinar penerima bantuan UMKM Pertamina tahun 2018 itu bersama suaminya Mustakim tengah asik mengolah bahan baku keripik singkong. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas setiap hari bagi mereka. Bagaimana tidak setiap hari sepasang suami istri ini berhasil mengolah ubi kayu sebanyak 150 kilogram untuk diolah menjadi keripik singkong khas Natuna.

Sejak mendapat dukungan modal tambahan senilai Rp45 juta dari Pertamina, usaha keripik singkong Samsinar semakin meroket.

Sebelumnya, ibu kelahiran 1969 itu hanya memproduksi sekitar 50 kilogram singkong. Tetapi setelah mendapat tambahan modal, dalam satu bulan Ia mampu memproduksi 4 ton keripik singkong atau sekitar 150 kilogram per harinya.

“Pastinya ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Natuna yang sudah menfasilitasi kami untuk mendapatkan bantuan modal usaha UMKM dari PT Pertamina. Saya sangat bersyukur, dengan modal itu usaha saya semakin maju,” ujar Samsinar ditemui di kediamannya, Minggu (11/10/20).

Sambil menggoreng keripik singkong, pemilik usaha Keripik Ubi Lang Sam ini menjelaskan, dengan penambahan modal usaha dari Pertamina, kini omset penjualannya dalam satu bulan mencapai Rp40 juta.

Ia merinci, dalam sekali produksi, ia harus mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp3 juta. Ditambah gaji empat orang karyawan, setiap bulan dirinya mengeluarkan biaya produksi Rp16 juta.

“Penghasilan kotor perbulan itu antara Rp30 juta sampai Rp40 juta. Dan pendapatan kotor pada tahun 2019 lalu saya mendapat omset kotor Rp132 juta,” jelas Samsinar.

Samsinar mengaku, usaha yang dirintis sejak 30 tahun silam itu kini sudah dikenal banyak orang. Tidak cukup di Natuna saja, tetapi keripik singkong miliknya sering dijadikan oleh-oleh para tamu yang bertandang di Natuna. Tidak heran jika keripik singkong produknya sudah sampai di Jakarta bahkan luar negeri seperti Malaysia.

Saat ini kata Samsinar, ia fokus untuk menyelesaikan angsuran pinjaman modal, jika tidak ada halangan, angsuran akan berakhir tahun 2021 mendatang. Rencananya, wanita paruh baya ini akan kembali mengajukan permohonan pinjaman serupa kepada Pertamina.

“Kalau nanti angsuran sudah selesai, saya mau mengajukan lagi. Rencananya dananya mau saya gunakan untuk membeli mobil pick-up dan memperbesar rumah produksi,” katanya.

Permintaan Samsinar sangat masuk akal. Karena selama ini, ia membeli bahan baku keripik singkong masih menggunakan sepeda motor. Sehingga daya angkut sangat terbatas. “Bukan untuk bergaya, tetapi keberadaan mobil pick-up sangat diperlukan untuk menunjang usaha keripik singkong kami,” ungkapnya.

Terakhir, kata Samsinar, berjalannya waktu usaha keripik singkong miliknya membutuhkan legalitas seperti sertifikat halal dan label kemasan. Hal ini kata dia, agar produknya bisa dipasarkan hingga keluar Kabupaten Natuna.

“Permintaan dari luar Natuna sudah banyak, tetapi kami belum bisa penuhi secara maksimal. Pertama dari segi kemasan dan perlu adanya tambahan modal,” tutupnya.

Bagaimana dengan kondisi pandemi Covid-19?

Berbeda dengan kebanyakan usaha ekonomi lain, menurut Samsinar, sejak wabah virus corona melanda, usaha keripik singkong yang digelutinya tidak begitu terdampak. Hingga kini, bisnis rumahannya tetap berjalan lancar, bahkan semakin banyak peminatnya.

Pertamina
Pengusaha industri rumah tangga di Kabupaten Natuna melakukan proses produksi keripik singkong. (F: barakata.id/sholeh ariyanto)

Terpisah, Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti mengatakan, tahun 2019 lalu sejumlah pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Natuna, kembali mendapatkan bantuan pinjaman modal usaha secara bergulir dari PT. Pertamina, Tbk.

Bantuan tersebut dikucurkan Pertamina melalui program Corporate Social Responcibility (CSR) tahun 2019, yang diperuntukkan untuk peningkatan dan pengembangan UKM yang ada di daerah ujung utara NKRI sebesar Rp580 juta. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2018 yakni sebesar Rp400 juta.

Akad penyerahan bantuan modal usaha bergulir dari pihak Pertamina kepada para pelaku UKM di Natuna tersebut sambung Wabup Ngesti, diserahkan langsung oleh pihak Pertamina bertempat di ruang kerja Wakil Bupati di Kantor Bupati Natuna.

Wabup Ngesti meminta kepada para pelaku UKM yang telah mendapatkan dana kemitraan program CSR dari Pertamina, agar mempergunakan bantuan tersebut untuk tambahan modal usaha.

“Alhamdulillah, pelaku usaha yang mendapat kucuran modal usaha dari Pertamina terus berkembang. Kami bangga dan diharapkan program ini terus berkelanjutan di Natuna,” ujar Wabup Ngesti.

Ngesti menjelaskan, bahwa bantuan dana kemitraan bergulir CSR dari Pertamina tersebut, sudah memasuki tahun kedua. Dan rencananya bantuan serupa akan kembali diterima oleh para pelaku UKM di Natuna pada tahun ini.

Kata dia, bantuan tersebut nantinya akan dikembalikan oleh para penerima kepada pihak Pertamina, dengan sistem angsuran selama 3 tahun, dengan jasa yang sangat rendah. Yaitu hanya 3 persen dari jumlah yang dipinjam para penerima bantuan dana kemitraan.

“Ada kriteria yang diberikan oleh Pertamina untuk calon penerima bantuan dana kemitraan ini. Diantaranya usahanya sudah berjalan sekurang-kurangnya enam bulan atau satu tahun. Jadi kalau baru mau mulai buka usaha, tidak bisa mengajukan pinjaman,” kata Ngesti.

Sementara itu CSR Support Pertamina MOR I, Muhammad Taufik Rusnandar saat menyerahkan modal usaha UKM tahun 2019 lalu menyampaikan bahwa kegiatan yang mereka lakukan tidak lain untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di pulau perbatasan.

Natuna merupakan kawasan terluar, tertinggal dan terdepan NKRI. Maka dari itu, Pertamina hadir melalui program CSR untuk membantu pelaku usaha kecil menengah bangkit dan menjadi usaha maju.

*****

Baca Juga :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin