Home Warta

Duet Sasmito dan Ika Komandoi AJI Indonesia

AJI Indonesia
Duet Sasmito-Ika Ningtyas terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekjen AJI Indonesia periode 2021-2024. (F: barakata.id/ist)

Barakata.id, Jakarta – Duet Sasmito-Ika Ningtyas terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris Jenderal Aliasi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dalam Kongres XI AJI 2021. Pasangan ini akan mengomandoi AJI Indonesia periode 2021-2024.

Paket Sasmito-Ika terpilih dalam kongres virtual pertama dalam sejarah AJI, 27 Februari-3 Maret 2021. Keduanya menggantikan duet Abdul Manan-Revolusi Riza yang memimpin AJI Indonesia periode 2017-2021.

Pemilihan pimpinan baru AJI Indonesia digelar secara online, yang diikuti sekitar 400 peserta, yang terdiri dari peserta delegasi dan non-delegasi.

BACA JUGA : Catatan Akhir Tahun AJI: 84 Kasus Kekerasan, 2020 “Tahun Kelam” bagi Jurnalis Indonesia

Total anggota AJI secara keseluruhan 1800, yang tersebar di 40 AJI kota di seluruh Indonesia.

Ada dua paket calon yang bertarung dalam pemilihan kali ini. Mereka adalah Sasmito-Ika serta Revolusi Riza-Dandy Koswara.

Dalam proses pemilihan, duet Sasmito-Ika mendapat dukungan suara 119 dari total 228 suara sah. Sementara itu, pasangan Revolusi Riza-Dandy Koswara meraih 109 suara.

“Tantangan ke depan cukup besar. Mulai dari rezim yang otoriter, regulasi yang mengancam dan banyaknya kasus kekerasan terhadap jurnalis. Dari segi ekonomi juga kita banyak tantangan. Selain pademi, juga ada disrupsi digital,” kata Sasmito saat memberikan sambutan usai disahkan menjadi Ketua Umum AJI, Selasa (2/3/21) dini hari.

Pandangan senada disampaikan Ika Ningtyas.

“Ini amanat yang tidak mudah di tengah tantangan luar biasa ini, mulai dari multi krisis dan belum lagi dari disrupsi digital,” kata dia.

Sasmito saat ini tercatat sebagai jurnalis Voice of America (VoA). Adapun Ika merupakan jurnalis Tempo.

Ika dan Sasmito menegaskan bahwa semua tantangan yang bakal dihadapi insan pers itu tidak akan bisa dihadapi tanpa bantuan dan kerjasama dari seluruh anggota AJI.

Tantangan yang dihadapi oleh AJI tercermin dari resolusi yang dihasilkan dalam Kongres XI AJI, dalam soal kebebasan pers, profesionalisme dan kesejahteraan.

Dari aspek kebebasan pers, resolusi kongres menggarisbawahi sejumlah kebijakan yang mengancam kebebasan pers dari regulasi seperti KUHP dan Undang Undang Informasi Elektronik.

Dalam soal kesejahteraan, salah satu tantangannya adalah bagaimana pemerintah memperkuat implementasi regulasi dan memonitoring kepatuhannya di perusahaan media.

Klausul kasus kekerasan

Dalam Kongres XI ini, ada sejumlah perubahan kebijakan yang dihasilkan. Salah satunya adalah dimasukkannya klausul kasus kekerasan seksual sebagai kategori pelanggaran berat.

BACA JUGA : Anggota AJI Diminta Ikut Vaksinasi, Ini Pertimbangannya

Pasal soal kekerasan seksual juga dimasukkan dalam Kode Perilaku Anggota AJI. Berbeda dengan ketentuan di Anggaran Rumah Tangga AJI, kasusnya diperiksa dengan Kode Perilaku jika ada unsur pengaruh profesinya sebagai jurnalis dari kekerasan tersebut.

Sebagai informasi, AJI Indonesia adalah organisasi jurnalis yang misinya memperjuangkan kebebasan pers, meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis.

AJI menjadi anggota sejumlah organisasi di tingkat global: International Federation of Journalists (IFJ), berkantor pusat di Brussels, Belgia: International Freedom of Expression Exchange (IFEX), berkantor pusat di Toronto, Kanada: Global Investigative Journalism Network (GIJN), berkantor pusat di Maryland, AS: Forum Asia, jaringan hak asasi manusia berkantor pusat di Bangkok, Thailand; South East Asian Press Alliance (SEAPA), yang bermarkas di Bangkok.

*****

Editor : YB Trisna

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin