Home Warta Nusantara Dosen IPB Ajak Lakukan Revolusi Meja Makan, Apa Itu?

Dosen IPB Ajak Lakukan Revolusi Meja Makan, Apa Itu?

20
Revolusi Meja Makan
Seorang pedagang kuliner di Pasar Djadoel, Batam. (F: barakata.id/may sarah)

Barakata.id, Jakarta – Prof. Dr Edi Santosa, dosen IPB University mengajak masyarakat di Indonesia melakukan “revolusi meja makan”. Menurut Edi, Revolusi meja makan adalah upaya untuk mengantisipasi kelangkaan pangan akibat pandemi Covid-19.

“Meskipun tidak banyak keluhan yang beredar di masyarakat, kebutuhan pangan selama masa pandemi harus dipersiapkan dengan baik,” kata Edi melalui keterangan tertulisnya, Senin (20/10/20).

Menurut dia, fenomena yang muncul saat ini adalah masyarakat secara sadar melakukan diversifikasi pangan selama masa isolasi wilayah. Secara alamiah masyarakat disebutnya diversifikasi beras menggunakan pangan lokal yang tersedia di wilayahnya masing-masing.

Baca Juga :

Menurutnya, hal ini menunjukkan pentingnya peran pangan lokal untuk ketahanan pangan selama masa pandemi Covid-19. Pangan lokal disebutnya tersedia dalam jumlah banyak dan jenisnya juga beragam di tiap wilayah.

Jadi, revolusi meja makan yang dimaksud Edi adalah diversifikasi pangan yang harus dimulai dari rumah tangga.

Ia mengatakan, pengetahuan lokal tentang pangan yang sudah ada di masyarakat Indonesia. Edi menyarankan, pengetahuan itu harus ditransformasikan ke dalam kearifan lokal di masyarakat sehingga terbiasa untuk mengkonsumsi pangan khas wilayahnya.

“Contoh, masyarakat Jepang rutin membuat perayaan dengan mengkonsumsi pangan lokal yang ada di wilayahnya,” ujar dosen di Departemen Agronomi dan Holtikultura, Fakultas Pertanian, IPB University ini.

Edi bilang, masyarakat di Indonesia bisa menirunya, pertama-tama dengan membangun memori individual dan memori kolektif. Memori individual dibangun dari kebiasaan makan sehari-hari di masa kecil.

Sedangkan memori kolektif adalah kesadaran dan tanggung jawab yang dibangun di tengah masyarakat. Misalnya dengan menerapkan pembelajaran tentang pangan lokal di institusi pendidikan atau institusi sosial.

Edi menilai, saat ini keragaman menu makanan di Indonesia masih rendah meskipun bahan pangan beragam. Dia pun membandingkan dengan bangsa Jepang. Dalam hal menu sarapan pagi, orang Jepang biasa mengkonsumsi 21 jenis makanan.

Baca Juga :

Kemudian 20 jenis saat makan siang dan 34 jenis menu pada makan malam. Sementara orang Indonesia rata-rata hanya mengkonsumsi delapan jenis menu makanan saat sarapan, 15 jenis saat makan siang dan delapan jenis pada makan malam.

“Strategi revolusi meja makan untuk menguatkan pangan lokal di lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Mereka, kata Edi, bisa mengonsumsi ubi jalar atau gandum yang dijadikan ketan. Masyarakat secara beramai-ramai memukulkan alunya untuk membuat makanan lokal dalam sebuah upacara perayaan.

Hal tersebut contoh transformasi kearifan lokal dijadikan sebagai pangan lokal. “Saat pasar stabil, para petani akan menanam bahan pangan lokal hingga meningkatkan perekonomian mereka,” pungkasnya.

******

Editor : YB Trisna

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin