Dokter Pakai Jarum Suntik Bekas, 900 Anak Terserang HIV/AIDS

56
Sejumlah anak kecil positif HIV/AIDS memakai masker dan membuat formasi dalam bentuk pita merah yang merupakan simbol universal kesadaran dan dukungan bagi mereka yang hidup dengan HIV, dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di Mumbai, India, (1/12). (F: AP Photo/Rafiq Maqbool)

Barakata.id, Batam – Gara-gara dokter memakai jarum suntik bekas, sekitar 900 anak-anak di Pakistan terserang wabah HIV/AIDS. Hal itu langsung menimbulkan kepanikan di Pakistan.

Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh Gulbahar Shaikh, jurnalis lokal di wilayah kota kecil Ratudero, Pakistan. Ia menuliskan pada April 2019 lalu bahwa penyebaran HIV disebabkan oleh ulah dokter anak satu-satunya di kota itu, Muzaffar Ghanghro.

Ditulis Gulbhaar, dokter Ghanghro menggunakan jarum suntik bekas kepada anak-anak. Sejak saat itu sekitar 1.100 warga atau satu dari setiap 200 penduduk mengidap virus HIV dan hampir 900 yang terjangkit berada di bawah usia 12 tahun.

Baca Juga : Imigran di Bintan Sering Incar Istri Warga

Penyelidikan yang dilakukan oleh pemerintah Ratudero menemukan bahwa banyak anak terinfeksi HIV telah pergi ke dokter yang sama.

Dugaan penggunaan jarum suntik bekas terkuat setelah Imtiaz Jalbani yang berprofesi sebagai buruh menyampaikan kekhawatirannya ketika melihat Ghanghro menggeledah tempat sampah untuk kembali menggunakan jarum suntik pada putra Jalbani, Ali berusia 6 tahun yang juga terinfeksi.

Ghanghro ditangkap dan didakwa polisi karena kelalaian, pembunuhan, dan menyebabkan kerusakan tidak disengaja.

Menurut laporan CNN yag dilansir Tempo pada Senin, 28 Oktober 2019, Ghanghro belum dihukum dan masih bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit pemerintah di pinggiran Ratudero.

Ganghro juga bersikeras tidak bersalah dan mengaku tidak pernah menggunakan jarum suntik bekas.

Petugas kesehatan mengatakan praktik dokter anak tidak mungkin menjadi satu-satunya penyebab wabah. Tukang cukur yang menggunakan pisau cukur yang sama ke wajah banyak pelanggan dan dokter gigi pinggir jalan yang meratakan gigi pasien dengan alat yang tidak steril disinyalir turut menjadi pemicu wabah ini.

Praktik tidak higienis ini lazim di seluruh Pakistan dan cenderung lebih umum terjadi di Ratudero, kota temiskin di Pakistan dengan tinggat buta huruf tinggi.

Baca Juga : Twitter Ikuti Instagram Perangi Berita Hoaks Anti-Vaksin

Dari 2010 hingga 2018, jumlah positif HIV di Pakistan hampir dua kali lipat menjadi 160.000 menurut UNAIDS, satuan tugas PBB untuk penanganan penderita HIV dan AIDS.

Pada 2016, wabah HIV AIDS menimpa sekitar 1.500 pria dewasa yang melakukan hubungan seks dengan pekerja seks terinfeksi. Tetapi wabah tahun ini di Ratodero adalah pertama kalinya anak-anak menjadi korban paling banyak dalam skala besar.

Untuk mengatasi wabah HIV/AIDS, pemerintah Pakistan pada Mei lalu mulai menutup klinik dokter yang tidak memenuhi syarat dan bank darah ilegal karena banyak ditemukan penggunaan jarum suntik. Namun penduduk setempat melaporkan beberapa bulan kemudian, beberapa klinik telah kembali dibuka.

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here