Home Opini

Dari Jendela SMP, Sinetron Tidak Mendidik?

401
Tangkapan layar televisi adegan sinetron Dari Jendela SMP. (F: Nensy Suryati)

Penulis : Nensy Suryati
Guru di SMP Maitreyawira Batam

‘Dari Jendela SMP’ merupakan sebuah judul sinetron baru tayang di SCTV sejak dua hari lalu. Tayangan perdana tanggal 29 Juni 2020 mengisahkan sepasang anak SMP, Wulan dan Joko, yang terlibat asmara dan menyebabkan Wulan hamil. Joko dan Wulan merupakan siswa pintar yang sering naik panggung menerima berbagai medali dan penerima beasiswa.

Menonton dua episode berturut-turut tayangan awal itu, penulis yakin penonton akan langsung bereaksi kalau ini sinetron yang tidak pantas tayang di televisi.

Awal menonton penulis sudah kurang setuju dengan jalan cerita yg awal-awal sudah terkesan tidak mendidik ini.

Namun, sebagai guru yang mengajar di SMP, penulis ingin tahu kelanjutan cerita itu, meskipun penulis sudah bisa menebak-nebak bahwa ‘kehamilan’ itu sebenarnya tidak ada karena terbaca ketika tokoh laki-laki membantu membelikan testpack melalui ojol.

Setelah testpack sampai ke tangan pemesannya yang menunggu di pinggir jalan, pemesannya langsung pergi. Saat itulah pihak apotek penjual testpack menelepon sopir ojol, mengatakan bahwa ternyata benda itu expired dan minta dipulangkan karena akan diganti yang baru. Sementara testpack sudah berpindah tangan pada pemesan yang sudah pergi entah kemana.

Walau akhirnya diketahui hasil tespack itu positif, penonton seharusnya jeli membaca situasi, bahwa itu tidak benar karena kemungkinan adanya kesalahan hasil testpack yang kadaluarsa itu. Jadi, hasilnya tidak akurat.

Hal lain juga terbaca dari monolog tokoh Wulan yang dengan keluguannya menyesali telah bersepeda, berhujan-hujan, dan berteduh di tempat yang sepi dengan Joko yang menyebabkan dia hamil. Dia meyakini dia hamil ketika ia merasa tidak enak badan dan mual, sehingga ia memutuskan untuk melakukan test kehamilan dengan membeli testpack. Dia juga mengetahui testpack dari mamanya ketika dulu mamanya pernah melakukan test kehamilan mandiri di rumah dan menjelaskan makna tanda garis pada testpack itu.

Penulis menduga ini hanyalah karena ketidaktahuan tokoh tentang bagaimana terjadinya kehamilan, atau lebih tepatnya belum diedukasi tentang seks (sex education).

Mungkin saja tokoh sebelumnya pernah dinasihati ibunya ketika dia pertama kali mendapatkan menstruasi supaya dia jaga diri; jangan dekat-dekat dengan laki-laki karena dia bisa hamil.

Menampilkan tokoh yang konon hamil oleh temannya yang dipacarinya baru beberapa hari lalu sepertinya sebuah akal-akalan sutradara untuk memberikan suatu kejutan sekaligus memancing reaksi penonton.

Meskipun begitu dari awal sudah ada image negatif tentang sosok siswa SMP yang seharusnya di sekolah penuh keceriaan berteman, penuh suasana gembira belajar, tapi ini sudah ditampilkan sibuk dengan urusan asmara apalagi sampai urusan kehamilan.

Penulis yakin ini akan menjadi sebuah polemik terhadap sinetron Indonesia yang akan dicap tidak mendidik. Mungkin saja nanti ceritanya akan menekankan pentingnya sex education pada anak, terutama anak yang baru menginjak masa remaja.

Meski tujuan penayangan sinetron ini baik tetap saja sudah membentuk opini publik bahwa sinetron ini mengajarkan sesuatu yang tidak baik yakni hamil di luar nikah apalagi untuk anak yang berstatus pelajar SMP tersebut. Iya kalau penonton mau menonton sampai episode akhir, tapi kalau tidak?

Penonton sudah keburu tidak setuju dengan ditayangkan sinetron ini merupakan suatu hal yang wajar apalagi cerita itu di dua episode awal masih tentang kisah asmara dua anak SMP.

Terlepas dari endingnya nanti bagaimana, tapi opini publik sudah terbentuk ini adalah sinetron yang menjerumuskan dan tidak mendidik.

*****

Nensy Suryati

Baca tulisan menarik lainnya:
VITAMIN “B”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin