Home Warta Ekonomi Dampak Perang Dagang AS-Cina, Perusahaan Elektronik “Serbu” Indonesia

Dampak Perang Dagang AS-Cina, Perusahaan Elektronik “Serbu” Indonesia

Ilustrasi

Batam – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina membawa dampak positif bagi iklim investasi di Indonesia. Sejumlah perusahaan raksasa dunia di bidang elektronik yang beroperasi di berbagai negara tetangga, menyatakan akan memindahkan pabrik mereka ke Tanah Air.

Perusahaan-perusahaan yang sudah positif masuk ke Indonesia di antaranya LG, Sharp, Panasonic, dan Volex.

Manajemen PT Volex Inggris diwakili Group HR Director, Alan Taylor sudah berkunjung ke kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam, Selasa (17/6/19) lalu. Kepada Kepala BP Batam, Edy Putra Irawady, ia menyampaikan keinginan perusahaannya melakukan relokasi usaha dari pabrik di Cina ke Batam, Kepulauan Riau (Kepri)

PT Volex sebenarnya sudah ada di Batam, di bawah bendera PT Volex Indonesia (Batam). Perusahaan pemasok perakitan kabel mulai dari komponen elektronik, telekomunikasi, data center, peralatan media hingga Industri otomotif itu memiliki pabrik di kawasan industri Sekupang, sejak 27 tahun silam.

Baca Juga : Presiden Jokowi Pilih Batam Tampung Relokasi Industri Cina

Menurut Alan Taylor, perusahaannya ingin ekspansi usaha di Batam karena daerah ini sangat strategis. Sementara perang dagang antara AS-Cina sudah menimbulkan kekhawatiran keberlangsungan usaha mereka di Shuzou, Cina.

Adapun perusahaan Sharp asal Jepang dan LG asal Korea Selatan bakal merelokasi pabriknya dari Thailand dan Vietnam ke Indonesia. Selain itu, Panasonic juga memastikan ingin memindahkan pabrik mereka dari Malaysia ke Indonesia.

“Panasonic juga mau minta lini produksinya diresmikan Pak Menteri (Perindustrian). Jadi ada relokasi lagi dari Malaysia,” kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Janu Suryanto di Jakarta, dikutip dari Detik, (20/6/19).

Suryanto mengatakan, Sharp akan merelokasi pabrik salah satu produknya dari Thailand ke kompleks pabrik yang ada di Karawang International Industrial City (KIIC).

“Kalau itu nanti tanggal 10 Juli yang Sharp sudah mulai apa namanya, Pak Presiden diundang, mulai inagurasi. Pabriknya sudah di KIIC, tinggal nambahin lini produksi saja, penambahan istilahnya,” ujarnya.

Baca Juga : Cina Sebut AS Teroris Ekonomi, Trump Belum Siap Akhiri Perang Dagang

Kemudian untuk relokasi pabrik LG dari Vietnam ke Indonesia adalah untuk menambah lini produksi pendingin ruangan atau AC di Indonesia. Penambahan lini produksi LG ini akan mulai aktif memproduksi AC pada September 2019 ini dan siap dipasarkan.

“Juli sudah inagurasi kalau yang LG, sekarang baru di-setting lini produksinya. Jadi September mereka sudah produksi pertama. Kan itu di-tes dulu kan,” kata dia.

Menuru Janu Suryanto, relokasi pabrik sejumlah perusahaan elektronik itu merupakan imbas perang dagang AS-Cina. Mereka memindahkan pabriknya untuk meningkatkan lini produksinya di Indonesia.

Apa alasan perusahaan elektronik tersebut “menyerbu” Indonesia?

“Ya salah satunya bisa juga (karena imbas perang dagang). Mungkin dipandang iklim usahanya lebih baik kan di Indonesia,” ujar Janu.

Alasan kedua, adanya komitmen Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya tariknya bagi industri guna menggenjot investasi. Dia mencontohkan, dalam waktu dekat pemerintah akan menerbitkan aturan insentif berupa super deduction tax.

“Apalagi nanti keluar ada tax deduction, pajaknya berkurang 200 sampai 300 persen,” sebutnya.

Janu menambahkan, selain LG dan Sharp akan memindahkan pabrik, Panasonic juga bakal pindahkan pabriknya dari Malaysia ke Indonesia.

Adanya perpindahan pabrik beberapa perusahaan dari luar negeri ke Indonesia, otomatis akan membuka lapangan kerja baru. Masing-masing pabrik bakal membutuhkan ribuan tenaga kerja lokal.

Perang dagang bikin situasi tak terduga

Kepala BP Batam, Edy Putra menyambut kunjungan HR Director PT Volex Inggris, Alan Taylor di gedung BP Batam, Selasa (18/6/19).(F: Dok. BP Batam)

Saat berkunjung ke BP Batam, Group HR Director PT Volex Inggris, Alan Taylor mengatakan, hampir seluruh produk software PT Volex diekspor ke luar Indonesia, dan hanya sebagian kecil saja untuk pasar domestik.

Alan Taylor mengatakan, Batam punya lokasi yang sangat strategis dengan infrastruktur yang sangat baik. Menurutnya, Batam adalah daerah yang sangat kompetitif di pasar Asia.

“Saya telah berkeliling ke seluruh factories di dunia, dan saya melihat Batam luar biasa. Kami melihat kesempatan (berusaha) akan terus tumbuh meningkat, ditambah lagi situasi perang dagang AS-Cina yang semakin tidak terduga, Batam menjadi potensi yang menguntungkan” ujar Alan.

Baca Juga : Lowongan Kerja, PT Volex Perluas Usaha di Batam, Butuh 1.000 Tenaga Kerja

Alan Taylor mengatakan, Volex yang memiliki pabrikan terbesar di Cina kemudian ada di Eropa dan Amerika (Meksiko) melihat perang dagang antara AS dan Cina sudah menimbulkan kekhawatiran besar di dunia investasi kedua negara.

Hal itulah yang menjadi pertimbangan PT Volex untuk melakukan ekspansi perusahaan di Indonesia, khususnya di Batam.

“Kami ada juga factory di Vietnam, tapi kami konsen ingin melihat peluang ekspansi di Batam, untuk itu kami datang hari ini” katanya.

Alan memastikan proses pemindahan operasional pabrik mereka dari Suzhou, Cina ke Batam akan dilakukan dalam waktu dekat. Untuk itu, mereka membutuhkan setidaknya 1.000 tenaga kerja.

***

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin